2. Kita Bukan Seperti Mereka

1.6K 160 4
                                        

"Aku pikir lebih baik kamu menikah lagi, Tar."

Menikah? Haptari tertawa miris dalam hati. Rasanya menggelikan sekali mendengar kata itu mengingat kegagalan demi kegagalan yang diterimanya.

Haptari sudah pernah menikah dua kali. Pertama kali menikah saat umurnya 17 tahun. Ia yang masih ingin melanjutkan sekolah terpaksa menerima perjodohan sebagai bentuk balas budi pada kedua orangtua angkatnya.

Apalah ia yang hanya bayi terbuang yang diletakkan begitu saja usai menyapa dunia di depan rumah sederhana yang kemudian membesarkannya.

Suami pertama Haptari adalah lelaki yang 12 tahun lebih tua darinya. Ia tidak mencintainya, tapi tak punya pilihan selain menerima. Tiga tahun membina rumah tangga, dan telah memiliki anak laki-laki bernama Moziro, Haptari harus dihadapkan oleh kenyataan pahit saat Hari--suaminya meninggalkan dunia dalam kecelakaan maut yang merenggut nyawanya.

Seolah semesta belum berbaik hati, ia mendapati mertua juga kerabat suaminya, mencaci maki dan menuduh Haptari sebagai pembawa sial. Tidak tahan terus-menerus disudutkan, ia membawa Ziro yang kala itu berusia dua tahun pulang ke rumah orangtua angkatnya.

Namun, sekali lagi Haptari tidak mendapat kedamaian. Orang tua dan saudara angkatnya seolah kurang menyukai kepulangannya. Juga gunjingan tetangga yang kerap diterimanya. Kehadiran Haptari sebagai janda muda yang berparas cantik dan bertubuh molek, menyebabkan keresahan istri-istri yang takut suaminya berpaling.

Hingga hari itu tiba, Haptari kembali dilamar oleh pemuda yang mengaku menyukai ia juga anaknya. Tanpa pikir panjang ia menerima, meski ekonomi tidak sebaik suami pertamanya. Empat tahun rumah tangga mereka masih baik-baik saja, sampai ekonomi bebar-benar berada di titik rendahnya. Mereka bercerai dan Rio menikah dengan perempuan kaya. Lagi, Haptari menelan pil lahit saat ia harus mengasuh Ziro dan Aini-anak dari pernikahannya yang kedua seorang diri.

Lalu, setelah sepuluh tahun menjalani kerasanya hidup sebagai ibu sekaligus ayah untuk kedua anaknya, Mbak Nur mengungkit soal pernikahan. Haptari hanya terkekeh sambil menggeleng pelan.

"Kenapa, Tar, kamu masih betah hidup sendiri?"

Perempuan berkerudung oranye itu menghela napas. "Betah gak betah harus tetap aku jalani, Mbak. Lagipula tanpa laki-laki aku sama anak-anak masih bisa makan sampai sekarang."

Nur, rekan sesama pembersih jalanan, menyentuh pelan pundak Haptari. Perempuan 45 tahun itu menggeleng. "Tetep aja, Tar. Kamu gak bisa gini terus, kalian perlu penyangga dalam hidup."

"Hm, lagipula siapa yang mau sama janda beranak dua dan berprofesi sebagai tukang sapu kayak aku, Mbak?"

"Kamu gak perlu merendah, Tar. Kamu cantik. Coba aja tubuh kamu dirawat, pasti gak kalah sama artis-artis di TV."

"Hehe, Mbak Nur ini ada-ada aja. Ya nggak mungkin lah."

Nur mengibaskan tangannya. "Nggak mungkin apanya? Asal kamu tau ya," Nur menoleh ke belakang sebentar. "Pak Joko, Pak Narto, kalau liat kamu itu senyum-senyum gak jelas. Kamu aja yang cuek banget sama mereka."

"Ah, yang bener, Mbak?"

"CK, beneran! Tapi ya, kalau kamu niat nikah lagi, jangan sama mereka. Cari pria kaya!"

"Kok gitu?"

"Kamu udah lama hidup susah. Jangan mau dinikahi sama lelaki yang ekonominya pas-pasan. Bukan matrealiatis, tapi hidup ini realistis. Kamu gak pengen kan liat Ziro sama Aini hidup susah terus. Apalagi kamu tadi curhat kalo Aini ngamuk minta dibeliin Handphone."

Haptari tersenyum tipis, ia beranjak seraya mengambil sapunya. "Yaudah, Mbak, aku bersihin yang sebelah sana dulu. Nggak enak kalo istirahat lama-lama."

HARMONITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang