Pukul18.30 malam Haptari keluar dari kantor hendak pulang. Seharusnya ia sudah keluar sejak setengah jam lalu. Namun, ia menunggu sholat magrib sekalian agar tidak telat mengingat tempat bekerja dan kontrakan, harus ditempuh menggunakan angkutan umum dan pastinya memakan waktu.
Ia melangkah pergi ketika suara klakson mobil membuatnya menoleh. Tidak perlu menerka, Haptari sudah tay siapa pemilik mobil tersebut.
"Mbak, ayo saya hantarkan pulang."
Rasanya entah sudah berapa kali Haptari dihantar pulang hingga ia sudah merasa tidak asing lagi dengan mobil itu. Sebenarnya agak tabu ketika pekerja kelas bawah seperti dirinya semobil berdua dengan orang nomor satu di kator tempatnya bekerja. Namun, sepertinya Ridho tidak pernah sungkan menawarinya pulang bersama.
"Ayok, malah bengong," ujarnya lembut. Sungguh, jika Haptari masih gadis, mungkin ia akan langsung jatuh hati dengan atasannya itu. Wanita itu tersentak pelan, segera mengulas senyum tipisnya.
"Eh, iya. Eum ... maksudnya meding saya naik angkutan umum aja," jelas Haptari
"Malam-malam begini?"
"Hehe, iya. Biasanya juga gitu, Pak, tiap hari."
Ridho mengela napas. "Yasudah, ayo, saya hantar pulang, Mbak."
Haptari sudah tahu jika kalimat itu yang akan diucapkan Ridho. Maka, ia pun harus menyiapkan alasan, belum lagi saat diliriknya beberapa karyawati yang baru keluar, memperhatikan interaksi mereka.
"Nggak pa-pa, saya naik bajaj atau busway malam aja. Lagipula saya sekalian mau mampir beli makan buat anak-anak. Bapak pulang duluan aja, karena saya liat Bapak kayaknya capek banget."
Ridho terkekeh pelan, mendengar aksen bicara Haptari yang seperti dipaksakan. Entah mengapa setiap ditawari pulang bersama, wanita itu selalu saja beralasan.
"Nggak aman loh, Mbak. Perempuan pulang sendiri malam-malam begini. Kalo ada yang lebih menjamin keselamatan, kenapa ditolak? Soal makanan, nanti saya antar sekalian saya juga mau cari makan," bujuk Ridho.
Merasa bingung harus menjawab apa, ia pun mulai celingukan. Ketika menoleh ke arah kiri, dan dilihatnya Ani masih berada di sekitar kantor, Haptari segera memangginya. Ani pun berjalan ke arah mereka.
"Pak, kalo saja ajak Ani sekalian, boleh?"
Kebetulan dia kan juga perempuan, dan ini sudah malam."
Ridho melengos sekilas, lalu menjawab, "Yasudah ayo masuk."
"Beneran, Mbak, aku mau dikasih tumpangan sama Bos?" tanya Ani antusias.
Haptari terkekeh. "Iya, ayok masuk jangan buat Bos nunggu. Nggak baik."
"Hehe, kok aku merasa Kayak cinderella yang dikasih tumpangan sama pangeran, ya," Ani terkikik geli. "Duh, maaf. Beginilah efek menjomblo lama, jadi efek fantasinya tinggi."
Sementara, dua orang diajak bicara, hanya menggelengkan kepala melihat tingkah absurdnya.
.....
Mereka berdua sampai salah satu warteg daerah Menteng, usai mengantar Ani. Malam ini Haptari memang berniat membelikan Ziro dan Aini makanan, karena teringat kalau kangkung satu unting yang ia oseng dan tahu goreng tadi pagi pasti sudah habis.
Haptari turuh terlebih dulu diikuti Ridho. Ia langsung memesan dua nasi bungkus dengan lauk telur dadar dan kering tempe. Di dekatnya, Ridho hanya mengamati sebelum ia bertanya, "Kok cuma dua, Mbak?"
"Iya. Saya udah makan tadi. Jadi masih kenyang. Ini buat anak-anak aja," jawabnya.
Lelaki itu tidak tahu apakah Haptari berbohong atau tidak. Yang pasti, jam istirahat kantornya sekitar pukul satu siang. Dan ia tidak yakin sore harinya Haptari sempat makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
HARMONI
RomanceTentang sebuah pengorbanan, bahwa hidup adalah perjuangan. Hidup tanpa suami tak membuat Haptari menyerah. Bagi wanita 34 tahun itu hidup ini keras dan ia harus bekerja lebih keras untuk bertahan. Semua demi kedua anaknya. Bagi Moziro atau akrab dis...
