Melihat Sisil yang melamun, Ermi pun mendekati anak itu lalu duduk di sampingnya sembari mengelus rambutnya. Sisil menoleh lalu mendengkus.
"Ada apa, Sayang? Mama perhatikan dari pulang tadi kamu diem terus."
"Aku gak papa."
"Kamu gak bisa bohong. Mama tau kamu pasti lagi mikirin sesuatu."
"Aku gak papa."
"Kenapa sih? Sini cerita."
Sisil menurunkan bahu, lalu menggeser badannya. Ia berdecak sembari melipat tangan.
"Kenapa sih, Ma? Semua orang itu cuma bisa tanya, 'kamu kenapa? Ada apa? Sini cerita' tapi gak ada yang bisa kasih solusi. Semua orang itu cuma penasaran, gak ada yang bener-bener perduli!"
Ermi menghela napas, ia mengulurkan tangan, tapi sepertinya Sisil sedang tidak ingin disentuh.
"Kamu ada masalah?"
"Apa muka Sisil kelihatan gak ada masalah? Mama itu sama aja kayak Ziro, cuma bisa tanya."
"Nak, mama bener-bener perhatian sama kamu. kamu kan anak mama."
"Emang Kak Ridho bukan anak mama? Kenapa mama gak kelihatan perhatian sama dia?"
Ermi mencelos. "Siapa yang bilang mama gak perhatian sama kakak kamu? Apa silang pendapat mama sama papa kamu selama ini belum membuktikan kalau mama masih berusaha memperjuangkan hak kakak kamu?"
"Setidaknya harusnya mama kunjungi kakak. Mama enggak tau kan gimana keadaanya sekarang? Dan apa mama lupa kalau sebentar lagi mama jadi nenek dan aku jadi tante?"
"Eh," Ermi tertegun. Benar juga yang dikatakan Sisil. Selama ini ia hanya sibuk berdebat dengan Bani, tetapi tidak berusaha memastikannya sendiri. "Ee-emang gimana keadaannya, Sayang?"
"Mama bakal tau kalau mama ke sana sendiri."
****
Dengan susah payah Haptari bangkit, lalu membawa perut buncitnya untuk membuka pintu. "Wa-walaikumsalam," jawabnya terbata, tidak menyangka mertuanya yang datang berkunjung.
"A-ayo, Bu. Silakan duduk. Tari bikinin teh ke belakang dulu, ya," ujarnya canggung. Ia memang belum berhasil mengakrabkan diri dengan keluarga Ridho sampai sekarang. Meski ibu mertuanya tidak sedingin Bani, tetapi Haptari merasa ia dan Ermi tetap berjarak.
"Tidak usah," cegah Ermi sembari memajukan telapak tangannya. Haptari mengangguk. Ia pun segera bergerak patuh saat ibu mertuanya menyuruhnya duduk, karena ada hal yang ingin dibicarakan.
"Gimana keadaan kalian."
Haptari tersenyum tipis. "Baik kok, Bu."
"Baik?" Ermi memutar matanya mengelilingi kontrakan ini. Bagi Ermi yang terbiasa hidup mewah, kontrakan ini tampak kumal. Dan anak laki-lakinya sangat tidak cocok tinggal di sini.
"Benar baik?"
"Be-benar."
"Ridho masih narik ojol, ya?"
"Em," Haptari menggaruk kepalanya. "Jadi, udah beberapa hari ini mas Ridho enggak narik karena akunnya ke-susped."
"Kok bisa."
Ia pun menceritakan mengapa akun Ridho dibekukan, seperti yang diceritakan Ridho malam itu.
Ermi menghela napas mendengar perlakuan orang ke anaknya. Ridho yang dulu sangat disegani bawahannya, sekarang harus merasakan jadi kalangan kelas bawah. Tidak pernah Ermi bayangkan hal ini akan terjadi. Ia ingin sekali menyalahkan Haptari akan semua yang terjadi. Jika bukan karena cinta bodoh Ridho pada perempuan itu, pasti sekarang Ridho masih menjadi orang yang dihormati.
KAMU SEDANG MEMBACA
HARMONI
RomansTentang sebuah pengorbanan, bahwa hidup adalah perjuangan. Hidup tanpa suami tak membuat Haptari menyerah. Bagi wanita 34 tahun itu hidup ini keras dan ia harus bekerja lebih keras untuk bertahan. Semua demi kedua anaknya. Bagi Moziro atau akrab dis...
