5. Kapan menikah?

1.3K 137 3
                                        

Malam ini terasa tenang. Langit dihiasi taburan bintang. Ridho beserta Ibu dan adiknya duduk di saung kecil belakang rumah, samping kolam renang, ditemani teh dan beberapa cemilan.

Quality time yang pas menurut Ridho. Setelah capek bekerja seharian, ngobrol santai bersama mereka terasa menyenangkan. Semua hal mereka bahas, mulai dari film sampai kegiatan sehari-hari yang dirasa menarik untuk dikupas, hingga masuk ke pertanyaan yang Ridho masih belum tau jawabannya.

"Kira-kira kapan kamu mau memutuskan menikah?" tanya Ermi--ibunya.

Ridho diam, berpikir mencari jawaban. Pertanyaan yang selalu ia hindari, namun kerap mengikuti. Bagaimanapun lelaki yang sudah menginjak kepala tiga seperti dirinya memang pantas ditanyai seperti itu.

Ridho tak kunjuk memberi jawaban, Ermi tersenyum sambil mengusap sayang pundak anak lelakinya itu. "Selama ini kamu udah berkorban banyak buat keluarga. Bekerja sampai nggak kenal waktu. Sudah saatnya kamu mencari kebahagiaan sendiri. Mama yakin, Papa pasti sependapat soal ini,"

"Kamu harus mulai mikirin ini, Do. Bukan bermaksud membebani, tapi setiap orangtua pasti pengen yang terbaik buat anaknya," lanjut wanita itu.

"Iya, Kak. Sisil juga pengen cepet-cepet punya keponakan, hihihi." Sisil terkikik sambil mencomot kue kering rasa coklat dalam toples.

Menghirup sebentar, Ridho menyeruput pelan secangkir teh di tangannya. Ia menatap satu per satu anggota keluarganya sebelum menjawab, "Kira-kira Mama suka perempuan kayak apa buat dampingin Ridho?"

Ermi tertawa pelan. "Kenapa kamu tanya ke Mama? Bukannya yang mau berumah tangga itu kamu, jadi kamu sendiri dong yang harus menentukan pilihan."

"Tapi Papa nggak selalu sependapat sama Mama." Ridho meringis, mengingat sifat Papanya yang keras dan tidak mudah diruntuhkan egonya.

Ermi menghela napas. "Kamu nggak perlu mikirin itu dulu. Buat saat ini lebih baik kamu bawa calon dulu dan kenalkan sama kami. Soal restu Papa itu belakangan. Kamu udah punya kah?"

Ridho kembali meringis. Ia tidak memiliki siapapun untuk dikenakan ke orangtuanya. Meski ada beberapa karyawan wanita yang terang-terangan tertarik padanya, tapi Ridho tidak suka mereka semua. Hanya satu wanita, tapi Ridho sendiri juga ragu dengan perasaannya.

Iseng-iseng ia bertanya. "Kalo semisal ada janda punya anak dua, apa Mama mau nerima dia sebagai mantu?"

Ermi dan Sisil saling berpandangan kemudian tertawa. Bukan masalah jandanya, tapi bagaimana ekspresi Ridho saat mengungkapkanya. Ragu, kikuk, dan salah tingkah.

"Tuh kan, malah ketawa." Ridho berdecak sambil menggaruk rambutnya.

"Haha... Maaf, maaf... Ya kamu kenapa tanya kayak gitu, hm?"

"Ya, tanya aja."

"Ih, Kak Ido mah aneh-aneh aja. Ma.. Mama.. Jangan-jangan calon Kak Ido itu beneran punya anak dua, hahaha.... "

Ridho menyentil pelan dahi Sisil. "Anak di bawah umur diem. Ini percakapan 18+, kalo belum sampai umur segitu, nggak boleh ikut-ikutan!"

"Lahh, dasar nggak asik. Jangan-jangan beneran. Tanyain tuh, Ma," kompor Sisil sambil menahan tawa.

Ermi menatap Ridho. "Bener, Do?"

Ridho semakin salah tingkah. "Eng--jadi gini, Ma. Maksudnya Ridho itu... Em,Semisal, iya semisal, hehehe!"

Ermi menarik napas. "Siapapun pilihan kamu, Mama harap dia wanita yang baik."

****

Pagi-pagi buta Haptari sudah berada di lobby kantor bersama peralatan kebersihan yang digunakanya sehari-hari. Sesekali ia menoleh ke belakang dan mempercepat gerakan mengepelnya, agar saat para karyawan berdatangan, tempat ini sudah dapat dilewati.

HARMONITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang