7. Aini Egois

904 129 12
                                        

Haptari memasuki rumah dengan hati merekah. Setelah satu bulan bekerja, hari ini ia menerima gaji pertamanya. Artinya ia bisa memenuhi janji untuk membelikan Aini barang yang diinginkannya.

Wanita itu melangkah menuju kamar, tapi tidak menemukan siapapun. Aini belum pulang. Jam sudah menunjukan pukul empat. Ah, mungkin Aini masih ada di sekolah, begitu pikir Haptari. Mengingat anaknya itu selalu bilang jika sekolahnya memakai sistem full day school.

Usai melepas jilbab, ia segera mengambil wudhu dan melaksanakan kewajibannya. Setelah itu, ia pun menuju dapur untuk mengisi perut. Hanya ada nasi dan sepotong tempe, sisa lauk tadi pagi. Tidak apa, itu sudah lebih dari cukup dibanding perutnya kelaparan. Tadi ia belum makan siang di tempat kerja.

Sebenarnya Ridho sempat mengajak makan bersama, tapi Haptari tidak enak hati untuk menerimanya. Belum lagi tatapan sinis karyawan, khususnya karyawati, yang dilayangkan padanya saat berinteraksi dengan bosnya itu, membuat Haptari enggan, mengingat statusnya hanya seorang pekerja bawahan.

Selesai makan, dan menyimpan kembali alat makannya, Haptari keluar untuk mengamati sekitar. Kemana Aini? Kenapa belum pulang juga. Padahal sudah hampir setengah lima. Kalau masalah Ziro, ia tidak perlu risau, anak laki-lakinya itu mamang terbiasa pulang sore, dikarenakan bekerja.

Haptari mendesah pelan, kemudian duduk di pinggir pelataran. Apa Aini sering seperti ini? Ia merasa gagal karena tidak bisa mengawasi tingkah anaknya setiap hari. Apalagi jika dibanding Ziro, Aini memang lebih labil.

Namun, apalah ia yang tidak pernah bisa tegas, sisi lembutnya selalu melarang untuk memarahi anak-anaknya apapun perbuatan mereka. Ia menyadari itu kesalahannya yang tidak bisa membuat kehidupan anaknya bahagia.

Beberapa saat kemudian, ia dapat bernapas lega. Dari kejauhan, Aini terlihat berjalan mendekat. Seperti biasa, raut wajahnya ditekuk. Bahkan, sisa air mata masih terlihat di bawah matanya. Haptari menduga, mungkin Aini ada masalah di sekolah.

Aini hampir melewatinya ketika Haptari bertanya, "Kok baru pulang, Ai?"

"Ck, kan Aini udah sering cerita alasannya."

"Oh," Haptari mengangguk-angguk. "Kamu kenapa? Ada masalah?"

Mendapat pertanyaan itu dari ibunya, Aini pun mengentak-hentakkan kakinya sambil merengek. "Tadi temen-temen Aini pada nonton bioskop, tapi Aini nggak bisa ikut karena nggak ada uang."

"Padahal Aini pengen banget ngerasain nonton bioskop kayak temen-temen Aini," lanjutnya.

Haptari tersenyum samar mendengar aduan anaknya yang entah sudah berapa kali mengatakan ingin hidup seperti teman-temannya. "Ibuk aja yang seumur hidup belum pernah nonton bioskop, biasa aja, hehe." Ia tertawa kering.

Aini mengerucutkan bibirnya. "Itukan Ibuk, bukan Aini. Lagipula sekarang udah jaman modern, Buk. Anak kecil aja pasti udah pernah ke bioskop!"

"Kamu 'kan tau, Ai, keadaan kita."

"Iya, Aini tau. Kita miskin, gak punya apa-apa, kita nggak pantes kayak mereka. Iya 'kan, Buk?!"

Aini hampir melangkah masuk ketika Haptari memanggilnya. "Apalagi, Buk? Aini capek."

Haptari beranjak mendekati Aini. "Besok hari sabtu kita beli apa yang kamu mau, ya?"

Aini menatap Haptari. "Maksud Ibuk?"

"Hari ini Ibuk gajian jadi--

"Jadi Aini mau dibeliin handphone," potong Aini antusias. Raut wajahnya seketika berubah.

Ibunya mengangguk, Aini pun langsung memeluknya. "Beneran kan, Buk? Nggak bohong, kan?"

"Nggak, Sayang."

HARMONITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang