Dari dalam kamar Haptari mendengar semuanya. Wanita itu membekap mulut, menahan isak. Entah mengapa semenjak hamil, semua terasa sulit, susah makan, gampang muntah, dan sekarang mudah merasa sedih untuk sesuatu yang dulu terasa biasa saja.
Mengetahui siang tadi Ridho bertemu Rani, membuat dadanya terasa sesak. Mungkinkah ini yang dinamakan cemburu. Padahal Ridho sudah menjelaskannya dia tidak melakukan apapun, hanya berbincang biasa, tetapi Haptari merasa tidak rela.
Padahal dulu benar-benar biasa saja. Ridho tipe lelaki yang terbuka. Tidak segan dia menceritakan tentang masa lalu padanya. Termasuk Rani tentu saja. Wanita itu pernah menjadi bagian yang besar dari hidup Ridho.
Haptari beranjak, mematut diri di cermin. Wajar jika mulai muncul kerutan, karena umurnya pun sudah banyak. Beberapa bulan lalu ia resmi berusia 35 tahun, sementara Ridho lelaki yang masih berusia 31 tahun, otot wajahnya pun masih kencang. Wajah lelaki itu pun mulus tanpa jerawat. Tiba-tiba Haptari merasa insecure. Bagaimana jika Ridho kelamaan menyadari jika ia memang bukan wanita yang tepat untuknya.
Ia merasa menyesal, karena selama ini selalu mengabaikan terkait perawatan wajah. Saat Ridho masih menjadi direktur, ia sering disuruh ke salon, tetapi Haptari tidak mengindahkan jika tidak dipaksa.
Dan selama menjadi istri Ridho ia memang belum pernah ikut ke pertemuan apapun di perusahaan. Atau lelaki itu malu, atau bagaimana, atau jangan-jangan? Tiba-tiba pemikiran itu mengusik, membuat kepalanya terasa pusing. Haptari terduduk di bawah, air matanya kembali meluncur.
Ya Allah, kenapa dirinya jadi serapuh ini?
****
Suara pintu diketuk terdengar. Ermi berteriak menyuruh Sisil membuka pintu. Dengan malas ia beranjak dari ruang TV, meninggalkan acara kartun kesukaannya. Siapa sih tamunya, menganggu saja. Padahal ia capek sekali setelah membantu mamanya beres-beres rumah karena pembantunya sedang izin cuti, karena saudaranya nikahan.
Ceklek.
"Waalaikum ... salam," lirihnya begitu tahu ternyata tamu tersebut adalah Ziro. Cowok itu tersenyum begitu Sisil yang membuka pintu. Namun, Sisil yang sebenarnya penasaran untuk apa Ziro datang hanya menahan ekspresinya.
"Kenapa?" tanyanya berusaha sedatar mungkin, meski sebenarnya ia tidak bisa. Senyum Ziro terlalu manis untuk tidak ia lihat.
"Udah bersihin kamar?"
"Udah."
"Udah mandi?"
"Udah."
Udah sarapan?"
"Udah."
"Udah enggak marah?"
"Udah," Sisil merapatkan bibir,taktik Ziro berhasil. Cowok itu terkekeh. Sisi memicingkan mata.
"Kalau udah enggak marah, enggak diizinin masuk neh?"
Sisil mendengkus, melepas lipatan tangan, lalu meminggirkan tubuh. Melihat kode itu Ziro pun melenggang masuk.
"Ngapain sih ke sini?" tanya Sisil begitu mereka duduk di sofa.
"Memang aku enggak boleh ke sini?"
"Ya, ya ... "
"Ya, kenapa? Masih belum sembuh sebelnya?"
Tanpa basa-basi Sisil mengangguk.
"Ini udah tiga hari loh?"
"Mau tiga hari, seminggu, atau sebulan pun kalau masih kesel tetep aja kesel, gimana sih?" seru cewek itu, menggerutu.
"Dan aku gabakal biarin. Dulu kan kita udah saling komitmen buat gak marahan lebih dari tiga hari. Kamu enggak mungkin lupa, kan."
KAMU SEDANG MEMBACA
HARMONI
RomantikTentang sebuah pengorbanan, bahwa hidup adalah perjuangan. Hidup tanpa suami tak membuat Haptari menyerah. Bagi wanita 34 tahun itu hidup ini keras dan ia harus bekerja lebih keras untuk bertahan. Semua demi kedua anaknya. Bagi Moziro atau akrab dis...
