26. Istri

1K 104 1
                                    

Berada di kamar pengantin berdua, membuat dua manusia yang baru sah menjadi suami-istri itu tampak salah tingkah. Terlebih Haptari yang seperti kebiasaanya terus menunduk, sedangkan Ridho yang diam, tapi sebentar-sebentar melirik wanita yang masih berpakaian lengkap dengan kerudungnya.

Ridho menggaruk kepala, tampak kebingungan. Banyak yang mengatakan jika janda itu lebih berpengalaman. Namun, yang terjadi malam ini Haptari malah seperti wanita yang baru menikah pertama kali. Bahkan, saat ia menyentuh tangannya, wanita itu tersentak.

Meskipun laki-laki, tapi ia bukanlah orang yang berpengalaman soal wanita. Jangankan melakukan hal yang aneh-aneh, berpacaran pun ia baru sekali. Dulu ia dan Rani malah lebih terkesan seperti teman. Ridho selalu punya prinsip, mencintai berarti menjaga. Tidak pernah ia berpikir untuk merusak wanita. Dan sekarang saat dihadapkan dengan wanita yang sudah sah untuknya, ia malah kaku dan canggung.

Dasar payah, batinnya kesal.

"Eum, Mbak," panggilnya. Haptari menoleh, wanita itu tersenyum samar. Senyum yang lagi dan lagi membuat hati Ridho menghangat.

"Iya, Pak?"

"Kita kan udah suami-istri, masa panggilnya masih formal gitu?"

"Eh, emm, Bapak juga masih panggilnya Mbak?"

Oke, Ridho pikir ini kesempatan untuk mencairkan suasana. Ia mengubah posisi duduk mengadap Haptari, kemudian menggengangam kedua tangannya. Haptari sempat kaget, tapi tidak menolak dan segera menguasai diri.

"Kita rumuskan ini. Begini, mulai sekarang kita ubah cara sebut jadi aku dan kamu, lalu untuk cara panggil, Mbak, eh maksud aku kamu, bisa panggil Mas atau Sayang, hehe, bagaimana?"

Haptari menaikkan alis. "Tapi kan aku lebih tua."

"Tapi kan aku suami kamu, masa aku tetap panggil kamu Mbak dan kamu panggil aku dek, kan lucu."

Haptari tertawa kecil. Benar juga, tapi memanggil Ridho Mas masih terlalu kaku untuknya, apalagi sayang. Beuh, sepertinya Haptari harus banyak berlatih. Namun, harus diusahakan, bagaimapun ia istri yang harus nurut dengan suami. Dan secara tidak langsung ini merupakan perintah pertama Ridho, suaminya.

"Iya, Mas." Haptari menelan ludah sambil menganggukan kepala.

"Bagus!" Ridho mengusap lengannya. Haptari merasakam tubuhnya bak tersengat listrik.

"Maaf," ucap Ridho, meringis kecil.

"Eh," Ia memandang Ridho yang tampak bingung seperti dirinya. "Nggak apa-apa, memang udah seharusnya kok."

Entah keberanian dari mana secara mengejutkan Haptari mencium pipi Ridho yang membuat laki-laki itu langsung berjengit. Bukan ia menolak, tapi merasa hanya kaget. Apakah ini dilakukan Haptari untuk mengurai kecanggungan. Berarti wanita itu sudah memberi lampu hijau, untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar ciuman samar itu.

"Boleh?" tanya Ridho, memegang dagu Haptari, wanita itu mengaggukan kepala.
Ridho tersenyum, menarik napas dalam, lalu tangannya turun untuk melepas kaitan jarum pentul, lalu menarik keseluruhan jilbab yang menutupi kepala wanita itu. Tidak sampai di situ, Ridho kembali melepas ikatan rambut, hingga rambut panjang Haptari jatuh menjuntai ke bawah. Haptari sudah merasakan jantung yang berpompa lebih cepat, tapi ia berusaha tetap tenang. Ridho suaminya, lelaki itu berhak melakukan apa saja padanya.

Lelaki itu terkesima memandamg wajah ayu di depannya. Tangannya terangkat, mengelus pipi itu. Wajah agak kusam yang biasanya tampak, kini benar-benar tersamarkan. Ternyata benar, wanita hanya perlu dirawat. Dan selama menjadi istrinya, Ridho pastikan Haptari akan lebih leluasa memanjakan diri.

HARMONITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang