34. Pekerjaan Baru

681 73 2
                                        

Malam menyapa, Ridho masuk rumah dengan hati lega. Pasalnya hari itu ia mendapat penghasilan yang lumayan dari pekerjaan barunya sebagai driver ojek online yang sudah ia geluti sekitar satu mingguan ini.

Selama sepekan ini pula, ia mengerti bila mencari penghasilan dari nol bukan sesuatu yang mudah. Selama ini ia tidak pernah merasakan sulitnya mencari kerja, karena setelah lulus kuliah ia langsung dapat jabatan di perusahaan papanya. Dan dalam hitungan bulan saja ia sudah bisa menepati kursi direktur.

Sekarang ia mengerti betapa susahnya mendapat pekerjaan di Jakarta. Pantas saja banyak pengangguran. Untung saja ia masih memegang uang yang bisa ia belikan motor bekas seadanya, sehingga ia bisa memulai pekerjaan tersebut.

Lelaki itu menghitung lembar rupiah di tangannya. Biasanya uang segitu tidak pernah ia anggap berharga. Tidak akan ia perdulikan dan ia berikan pada bibi jika tertinggal di kantong celana. Namun, sekarang nominal itu terasa besar. Dan Ridho merasakan kepuasan berkali lipat karena uang tersebut dihasilkan pure dari keringatnya sendiri

Ridho menjatuhkan tubuh di kasur sambil memijit-mijit badannya. Haptari sepertinya belum tahu jika ia sudah pulang, karena Aini yang membuka pintu. Ziro pun sepertinya juga belum pulang, entah apa yang dilakukan tapi pemuda tanggung itu sering sekali sampai rumah malam, mungkin sedang berjuang untuk memperoleh penghasilan. Ziro anak yang tidak menuntut keadaan, tapi tidak dengan Aini yang lumayan membuat ia pusing dengan segala keluhannya. Dan sanggup membuat ia malu, karena tidak dapat menepati janjinya untuk membuat gadis belia itu bahagia.

Anak yang baru masuk kelas tiga SMP itu mempunyai standar yang cukup tinggi untuk anak seusianya. Ridho menduga ia terbawa oleh teman-temannya. Namun, seperti apapun watak Aini, ia harus berusaha sabar menerima dengan lapang dada, karena bagaimanapun anak itu bagian dari wanita yang dicintainya.

"Loh, Mas udah pulang," ujar Haptari masuk kamar. Wanita itu duduk di ranjang seraya menggantikan untuk memijit tubuh suaminya.

"Iya, baru aja, kok. Mbak tadi darimana?"

"Em, aku dari warung beli sabun cuci yang abis."

Ridho merubah posisinya menjadi duduk lalu memberikan uang penghasilannya tersebut ke Haptari. Wanita itu tersenyum, setidaknya penghasilan suaminya meningkat dari hari sebelumnya. Sehingga ia bisa menyisihkan sebagian untuk bekal persalinan.

Untung saja Ridho bukan perokok yang sangat aktif jadi tidak menghisap nikotin untuk waktu yang lama tidak membuat lelaki itu keberatan. Sehingga tidak ada uang yang perlu dikorbankan. Ekonomi Ridho berubah drastis, dan sedikit demi sedikit Haptari sedang mengajari suaminya untuk hidup sederhana.

Meski terkadang masih ada sedikit perdebatan yang mereka lakukan, saat Ridho sengaja tidak makan karena tidak cocok dengan lauk yang ia sediakan. Lelaki itu terbiasa hidup mewah, jadi wajar jika hidup seperti ini membuatnya kaget. Meski begitu Haptari salut, karena Ridho sudah mau berkorban untuknya.

"Makasih ya, Mas." Haptari maju mencium pipi Ridho. Selalu itu yang ia lakukan tiap berapapun penghasilan yang lelaki itu berikan. Sehingga Ridho merasa dihargai dan lebih semangat lagi.

"Mas udah makan?"

Ridho menggeleng. Makanan yang masuk di perutnya hanya sarapan tadi pagi dan itu yang membuat kepalanya kini terasa pening.

"Yasudah Mas makan dulu, tadi udah aku masak lele, mas enggak keberatan, kan makan ikan itu?" Haptari meringis.

Lelaki terdiam, lalu menggeleng samar. Ia tidak terlalu menyukai ikan itu, tapi ia tidak mau membuat Haptari sedih seperti kemarin. Lagipula biasanya orang lapar akan enak makan apa saja. Lebih baik ia sekarang makan untuk mengurangi pusing di kepala, daripada ia malah berakhir sakit.

HARMONITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang