Beberapa hari setelah ulangan semester ganjil adalah hari yang ditunggu seluruh siswa. Mereka tinggal menunggu hasil selama guru mengoreksinya. Semua jam sudah tidak lagi di isi guru, alias jam kosong. Yang siswa lakukan hanyalah bercerita, ke kantin, menonton film horror, dan berteriak bersama. Benar-benar hari bebas.
Iza yang kala itu sedang memainkan ponsel di kursinya tiba-tiba ditegur oleh Inna. "Hayo! Chat-an sama siapa?" tanyanya menggoda.
Iza diam, tak memberikan respons panik agar tidak ketahuan. Ia pun menunjukkan layar ponselnya yang telah digeser sekilas. "Chat-an sama Zalfa, nih!"
"Oh, gue kira anak cowok. Hm, pantesan akhir-akhir ini lo jadi cewek Za, hehe," ejek Inna sambil mendudukkan diri di bangku sebelah Iza, bangku Renandhi. Gadis itu naik ke atas meja di belakang Iza dan menjatuhkan dirinya ke kursi agar Iza tak perlu berdiri.
"Apa sih Inna? Udah deh, jangan terlalu penasaran," ujar Iza dengan nada merengek.
Inna terkekeh sambil menyandarkan tubuhnya di dinding. "Gue kepo aja gitu sama siapa yang udah buat lo jadi modis begini Za. Sering selfie, style makin bagus, rambut sering diiket rapi banyak model, ya ampun! Lo yang sekarang bener-bener beda dari lo yang SMP!"
Iza menyengir. "Lo kok perhatiin banget sih Na? Renandhi yang duduk di samping gue aja nggak protes."
"HA? APA? RENANDHI NGGAK PROTES?" Renandhi yang sedang duduk di meja belakang bersama siswa lain menonton film horror pun menyahut. Pendengarannya seketika tajam jika namanya disebut.
"Nggak papa!" sahut Iza sambil melambaikan tangan tanpa menoleh.
Bunyi gedebum terdengar, pertanda Renandhi turun dari atas meja yang dia duduki. Laki-laki itu menghampiri Iza dan Inna yang sedang mengobrol. Ia memang mudah penasaran, apalagi kalau sudah menyangkut namanya.
"Renandhi nggak protes?" ulang lelaki itu sambil menarik kursi di baris sebelah kanan Iza, kursi Asti. "Ulang dong gosipnya, gue mau denger. Apa tadi? Renandhi kenapa?"
Renandhi adalah tipikal laki-laki yang tidak suka dibicarakan di belakang. Sesingkat apa pun orang membicarakannya dan ia mendengarnya, maka ia akan menghampiri untuk menanyakan.
Itu mengartikan bahwa Renandhi lebih suka dilabrak daripada dighibah atau disindir.
Iza menghela napas. "Tadi gue cuma bilang 'Renandhi yang duduk di samping gue aja nggak protes', gitu!"
"Protes kenapa?" Renandhi langsung melihat ke arah tubuhnya dan beralih ke Iza.
Inna berdecak. "Soal penampilan baru Iza."
Renandhi tertawa beberapa detik kemudian. "Sebenernya gue protes dalam hati doang, biar Iza nggak sakit hati. Jujur ya, gue kaget pas Iza mulai agak yah ... cantik begini," katanya sambil beralih menatap Iza, "tapi gue nggak suka, lo keliatan kayak orang yang terpaksa pengin cantik walaupun lo nggak nyaman Za."
Gadis yang rambutnya digerai itu akhirnya menatap Renandhi lekat-lekat. "Gimana ya? Gue disuruh nyokap sih."
Renandhi berdecak dan menggelengkan kepala. "Bohong. Lo lagi suka sama cowok ya Za?"
"Enggak!"
"Atau lo jaga penampilan lo biar laki-laki hargain? Orang bilang, sekarang cewek cantik lebih dihargain dan diprioritasin. Lo pengin juga Za?" Renandhi menghela napas. "Nggak perlu cantik Za, asal lo hargain kita dan nggak suka nyolot atau ngolok, lo bakal baik-baik aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Priority
Novela JuvenilIza si cewek yang haus cinta tak disangka dapat menyukai cowok seperti Alifahrian Fardendra. Banyak yang bilang Alif itu cowok biasa aja, tidak jelas, bahkan jelek secara fisik dan attitude. Namun Iza tidak peduli dengan itu, seperti kena pelet. Tak...
