Iza yang sedang duduk di meja belajarnya berhenti menulis begitu ponselnya bergetar terus -menerus, menandakan seseorang sedang meneleponnya. Ia pun bangkit dari kursi dan berjalan menuju meja lainnya, tempat ponselnya biasa diletakkan saat dicas.
Panggilan berasal dari What's App.
Begitu melihat layar, nama seseorang tak tertera di sana, nomor baru.
"Siapa?" Iza bertanya pada dirinya sendiri. Ia akhirnya menatap baik-baik foto profil kontak baru tersebut.
Terlihat, foto seorang laki-laki dengan masker yang menutupi wajahnya. Alisnya yang tebal seketika mengalihkan pikiran curiga Iza.
"Kok ganteng sih?" Iza langsung menerima panggilan itu sebelum terputus.
"Halo?" Suara laki-laki terdengar di seberang sana.
"Halo?"
"Loh? Ini siapa?" Yang di seberang sana justru bertanya.
"Lah, kok?" Iza menjauhkan ponselnya dari telinga dan menatap foto profil orang itu lagi. "Seharusnya gue yang tanya lo ini siapa?"
Kemudian, terdengar tawa dari seberang sana. "Astaga, gue salah sambung Za."
Iza hanya mengernyitkan kening.
"Ini gue, Brevanosta."
Seketika Iza menggigil dan refleks mengigit bibir bawah. Gadis itu merasa ingin melompat ke atas kasur karena malu telah menegur Brevan dengan suara melengkingnya.
"Ehehe, sorry ya sorry. Gue kira ini nomor Tiffany. Soalnya di foto profil lo ada Tiffany juga," ujar Brevan dari seberang sana.
Loh, Tiffany? tanya batin Iza.
Iza pun bertanya, "Emang Tiffany kenapa ya kak?"
Brevan menjawab santai, "Gue mau nanyain soal ekskul. Gue kan sama dia satu ekskul, akustik. Lo ada nomornya nggak? Tolong kirim ya, penting."
"Oh, boleh. Sebentar ya kak. Hm ... gue tutup ni?"
"Terserah, mau lanjut juga boleh."
Kaget, Iza refleks lari ke kasur dan meraih bantal guling untuk dipeluk erat.
"Nggak deh, gue mau kerjain tugas--"
"Wih, malming aja lo ngerjain pr?" Brevan terkekeh di seberang sana. "Rajin ya."
Kali ini Iza mengigit gulingnya.
"Loh Iza kamu kenapa?" Tiba-tiba suara Wina, ibunya Iza terdengar dari ambang pintu. "Kok kayak orang gila sih kamu? Sampe gigit guling begitu."
Iza berhenti menggigit. "Anu..."
"Mama kamu?" Brevan nimbrung membuat Iza semakin bingung.
Wina langsung menyengir mendengar suara laki-laki yang berasal dari ponsel Iza. Ia akhirnya menutup pintu kamar dan pergi dari sana, membiarkan Iza asik dengan lawan bicaranya.
Iza blank begitu ibunya pergi.
"Za?"
Iza mengerjapkan mata dan menghela napasnya. "Hm, kak, udah dulu ya. Gue masih mau lanjut ngerjain pr."
"Oh. Ya udah, silakan. Sorry ganggu, jangan lupa kirim ya. Selamat malam."
"Malam." Begitu panggilan terputus Iza pun menyadari sesuatu. "Eh? Non muslim?!"
Sekilas, Iza menyakini bahwa Brevan adalah orang yang bisa membuatnya move on dari Alif.
Sepertinya harapan itu runtuh begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Priority
Teen FictionIza si cewek yang haus cinta tak disangka dapat menyukai cowok seperti Alifahrian Fardendra. Banyak yang bilang Alif itu cowok biasa aja, tidak jelas, bahkan jelek secara fisik dan attitude. Namun Iza tidak peduli dengan itu, seperti kena pelet. Tak...
