Iza berjalan menuju rumah Renandhi dengan beberapa buku dalam genggamannya. Tetangganya itu pernah berjanji untuk mengajaknya belajar bersama menjelang ujian kenaikan kelas dan sekarang baru bisa ia tepati.
Iza masuk ke dalam rumah Renandhi begitu ia sampai di pekarangannya. Renandhi sedang duduk lesehan di depan meja ruang tamu, sibuk membaca buku sambil memakan camilan.
"Belajar materi apa kita hari ini?" tanya Iza.
"Materi di pelajaran Bahasa Indonesia aja, yang bab 4 memahami hikayat," jawab Renandhi sambil menutup buku yang ia baca dan meraih tasnya di atas sofa. "Gue masih mau bahas materinya Bu Heri ni. Lo paham kagak? Gue kalau udah disuruh baca hikayat, nggak bisa nyambung. Nggak paham sama alurnya."
Iza pun duduk. Lalu, ia membuka bukunya dengan mengerutkan dahi. "Hm, hikayat emang begitu. Kan pakai bahasa Melayu Klasik. Lo pokoknya paksain baca aja kalau mau paham. Kalau mau paham banget, ya diulang-ulang. Lo belom terbiasa aja."
"Oh ya? Aish, kalau gitu kasih gue waktu buat baca hikayat indra bangsawan dulu."
"Ya udah, baca aja dulu. Gue juga mau baca PKN." Iza pun mengganti bukunya dengan buku paket dengan sampul dominasi merah tersebut.
Ting!
Ting!
Ting!
Renandhi menoleh ke ponselnya yang berdering, pertanda pesan masuk. Ia pun menghentikan kegiatan membacanya. Di layar, tertera sebuah nomor baru yang belum ia simpan. Terselip di benaknya bahwa pemilik nomor ini adalah orang yang ia blokir seminggu yang lalu semenjak insiden perkelahian di toilet.
Welcome back, Gevando Alferozaki.
Renandhi menghela napas dan berdecak sebal ketika membuka pesan tersebut.
Gevand : Lo memang aman Ren.
Gevand : Lo aman dan lo menang.
Gevand : Tapi temen lo kagak. Selama lo masih di sekolah yang sama, bagi gue seluruh temen lo nggak bakal aman. Camkan itu!
Renandhi pun mengetikkan balasan dengan cepat diselipkan rasa emosi. Apa lagi yang akan Gevand lakukan? Apa sih yang sebenarnya diinginkan oleh Gevand? Keberadaan Rifda atau apa?
Renandhi : Gue nggak akan biarin lo ngelakuin hal nggak jelas lagi. Sekali lo macem-macem, gue nggak bakal segan-segan patahin tangan lo. Camkan itu!
"Sibuk apa sih Ren?" Iza akhirnya menyadarkan Renandhi.
"Nggak papa," katanya sambil meletakkan ponsel di tempat semula.
"Oh mulai rahasiaan-rahasiaan ya." Iza hendak meraih ponsel Renandhi namun kalah cepat. "Hayo ada apa?"
"Rahasia pokoknya."
"Ish, udah punya cewek ya?" goda Iza.
Renandhi mengerucutkan bibir menatap Iza dengan mata menyipit. "Cemburu ya?"
"Ya kagak lah." Iza perbaiki posisi duduknya menjadi bersila.
"Oh, jadi ceritanya Alif udah mulai perhatian sama lo nih? Blokiran lo yang baru-baru ini udah dibuka emangnya?" Renandhi mulai menjebak Iza.
Iza menggeleng cepat. "Arrgh, dia tuh nggak jelas banget! Bentar-bentar blok, habis tu unblok. Nanti lagi kalau ada masalah pasti ngeblok, habis tu sebulan kemudian di buka lagi. Dia tu buat gue seolah jadi orang yang ketergantungan waktu ngechat sama dia! Nanti kalau gue nggak chat dia duluan, pasti ada aja yang dia mulai sampai akhirnya gue ambyar. Nanti kalau gue udah chat dia, udah baik sama dia, dia tinggal gue, di read doang, dan berujung kalau ada masalah dikit ancemannya blok. Ah capek ah! Semoga aja Alif dan orang yang sifatnya sama kayak dia dosanya diampuni Allah SWT."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Priority
Teen FictionIza si cewek yang haus cinta tak disangka dapat menyukai cowok seperti Alifahrian Fardendra. Banyak yang bilang Alif itu cowok biasa aja, tidak jelas, bahkan jelek secara fisik dan attitude. Namun Iza tidak peduli dengan itu, seperti kena pelet. Tak...
