Malam tahun baru memang malam yang ditunggu-tunggu sebagian besar orang. Tapi tidak bagi Iza. Gadis itu tetap sendirian di rumah seperti biasa. Nabilla pergi ke rumah Keffa dengan ayahnya, sedangkan ibunya sibuk bekerja. Make up artist menjadi orang terpenting di malam ini.
Sedangkan Iza? Yang dilakukannya hanya mengutak-atik ponsel dengan menggeser beranda Instagram.
Tiba-tiba pintu utama rumah diketuk, membuatnya bangkit dari posisi yang terlentang di atas kasur. Iza membuka pintu dan menemukan Renandhi berdiri dengan senyuman yang sangat membuat jengkel itu. Pasti laki-laki satu ini sedang ada maunya.
Iza berdecak dan hendak menutup pintunya. "Apa lagi Ren, gue nggak mau jalan!"
Renandhi menahan pintu Iza. "Bohong! Ayo ke rumah gue Za, makan-makan. Masa bokap sama adek lo di sono, lo malah no life di rumah? Ayo ikut! Mumpung gue yang jemput lo langsung. Kita bakar-bakar," katanya sambil menyeringai, "eh maksudnya bakar-bakar jagung deng, bukan bakar rumah atau bakar gue."
Iza memasang wajah malasnya. "Mager--"
Renandhi menahan pintu lagi, ia menarik lengan hoodie Iza. "Ayo dah, pake baju begitu aja, rapi kok!"
Iza berdecak. "Ah males!"
Renandhi menghela napas. "Gue nggak akan balik sampe lo mau ikut. Gue disuruh bokap gue. Soalnya tadi Keffa sama Nabilla ke sini malah nggak lo bukain pintu, kan kampret. Please Za, ikut! Entar siapa lagi yang bokap gue utus ke sini?"
Gadis di depannya akhirnya terkekeh. "Gue mager jalan Ren."
"Ah lemah amet lo." Renandhi masuk ke dalam rumah Iza pada akhirnya. "Nggak ada orang kan di rumah ini? Gue masuk ke rumah lo nih. Gue mau lancang!"
Iza mendorong Renandhi keluar. "Keluar IH!"
"Nggak, sebelom lo mau ikut!" Renandhi juga sama kukuh berdiri di ujung rumah Iza.
Gadis yang kelelahan mendorong itu akhirnya berhenti. "Iya udah, gue ikut!"
"Apa? Yang keras!" Renandhi maju dua langkah.
"IYA GUE IKUT. ELO MUNDUR AJA, JANGAN MAJU-MAJU, GUE GANTI BAJU DULU." Iza terus mendorong Renandhi hingga keluar rumah dan berjalan ke kamarnya.
"SAMPE LO MASUK, MATI," katanya sebelum menutup pintu kamar sementara Renandhi menunggu di luar rumah.
Renandhi melipat kedua tangannya. "Nggak usah ganti baju, hoodie oren itu aja, terus tinggal ganti celana panjang biar sopan!" sahutnya.
Iza menyahut dari dalam kamar. "NGGAK MAU! ENTAR KITA DIKIRA COUPLE-AN."
Renandhi tertawa. "Entar ada anak kelas yang lain. Lo kebiasaan nggak baca grup chat kelas sih!"
Iza tidak balik menyahut hingga satu menit waktu berlalu.
"Za? Udah belom sih? Lumutan gue," ujar Renandhi sambil melangkah masuk ke dalam rumah dan dengan lancang menempelkan telinga di pintu kamar Iza. Tidak ada suara.
Kesal menunggu, Renandhi akhirnya membuka pintu kamar Iza dan melihat gadis itu sudah berdiri dengan pakaian kasualnya. Dalam hati Renandhi mengucapkan Alhamdulillah beberapa kali karena Iza sudah memakai baju dengan rapi, kalau tidak, mungkin pintu kamar sekarang sudah ditutup dengan keras dan ia akan dibenci Iza seumur hidup.
Iza yang melirik ke pintu langsung mengelus dadanya dan membuang muka. "Astaga Renandhi, lo bikin gue kaget!"
"Cepet Iza, Astaghfirullah al-'Adzim!" Renandhi membuka pintu itu lebar-lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Priority
Genç KurguIza si cewek yang haus cinta tak disangka dapat menyukai cowok seperti Alifahrian Fardendra. Banyak yang bilang Alif itu cowok biasa aja, tidak jelas, bahkan jelek secara fisik dan attitude. Namun Iza tidak peduli dengan itu, seperti kena pelet. Tak...
