30 - Inikah Akhir?

1K 105 16
                                        

Renandhi tertawa melihat Yudhi yang menyipitkan mata berkali-kali agar dapat melihat tulisan Inna di papan tulis. "Astaghfirullah, kalau memang lo belom bisa beli kacamata baru jangan dipaksa begitu kali. Duduk aja di depan lagi, terus biar Iza pindah duduk di sini."

Yudhi menggeleng. "Nggak mau ah, gue maunya di sini. Males sama Septia, mayan cerewet tu anak."

Renandhi menghela napas. "Gue sih malah suka kalau Iza duduk di sini. Dia rajin, nggak kayak lo yang bentar-bentar nyalin, tethering, nebeng, ehehe."

Yudhi menatap Renandhi dengan mata menyipit. "Are you my best friend?"

"I guess you're not," jawab Renandhi setengah terkekeh, "hoho, just kidding bro. Oh ya, lo jadi nanya ke Iza belom jawabannya?"

"Gue nggak yakin dia tau jawabannya."

"Dia sering gue kasih tau. Dia juga sering perhatiin. Ini bukan tentang bagaimana lo bisa jawab sih, ini tentang bagaimana lo bisa perbaikin pertemanan lo karena nanya itu," jelas Renandhi, "Wih, azek lah bahasa gue."

"Oh, jadi lo adain ini biar gue baikan sama dia?"

"Sebagian dari tujuan, lebih tepatnya. Gue bener-bener pengin sih ngetes kalian semua temen yang mudah terpengaruh apa enggak. Terlebih lagi lo. Lo temen sebangku gue, seharusnya lo terpengaruh sama apa kebiasaan gue selama ini."

"Ya, gue terpengaruh."

"Seharusnya lo tau dong jawabannya."

"Gue terpengaruh sama kebiasaan buruk lo yang suka ngelantur dan ngayal ketinggian," jawab Yudhi, "bukan terpengaruh kebiasaan baik."

"Gimana kalau prioritas gue itu kebiasaan buruk gue, hm? Kan bisa jadi. Dari mana lo tau kalau prioritas gue itu berhubungan sama kebiasaan baik? Gue ngerasa lo hampir tau. Lo tinggal nanya ke dia," balas Renandhi sambil melirik Iza.

"Ya memang, gue hampir tau. Tunggu aja di pertemuan permainan aneh lo yang berikutnya, gue pasti bisa jawab bener, terus menang." Yudhi melanjutkan kegiatan menyalin tulisan materi biologi Inna di papan tulis.

"Pertemuannya hari ini juga, gimana? Biar cepet, lo bisa nanya--"

"Lo nantang gue Ren?" Alis Yudhi bertaut. "Lo mau gue digampar sama Iza lagi pake tas ranselnya itu? Oh, atau lo mau keadaan makin parah?"

"Makanya sebelum itu lo minta maaf!" tegas Renandhi. "Keadaan nggak akan makin parah kalau lo mulai baik-baik dan coba untuk sabar. Ingat Yud, kadang kalau bicara, kita harus ingat lawan bicara kita."

"Ingat lawan bicara kita? Haha." Yudhi tertawa dibuat-dibuat. "Kalau lawan bicara kita brengsek gimana?"

"Gimana kalau ternyata lo duluan yang brengsek dan lebih brengsek dari lawan bicara lo?" Renandhi tentu saja tak mau kalah.

"Heh, gimana kalau kalian diam?" Tiffany yang duduk di belakang dan Yahya yang duduk di depan menyahut secara serempak.

"Cieee samaan, jangan-jangan jodoh," ejek Renandhi tiba-tiba keluar dari suasana mencekam ini, membuat Yahya langsung menunjukan wajah terbawa suasana dan menatap Tiffany dengan ekspresi diimut-imutkan.

Tiffany pun menunjukkan ekpresi terjeleknya dan lanjut menulis. "Untung aja nggak ada Bu Fifi, jadi kalian bisa cerita panjang lebar."

Renandhi menatap Yudhi. "Kembali ke pembahasan. Bro, lu udah berapa hari diem-dieman sama dia?"

"Bodoamat, nggak ngitung."

"Baikan gih. Lo udah denger belum gimana--" Tiba-tiba Yudhi berdiri, mengambil buku, dan membawa tasnya ke kursi paling belakang karena tak ingin mendengar ceramah Renandhi selanjutnya.

Perfect Priority Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang