33 - Luka dan Keluarga

1K 112 5
                                        

"Nah itu baru pulang Kak Renandhinya!" seru Fargadhika, satu-satunya anak kecil di ruangan itu yang setengah mati berdiri untuk melihat kehadiran Renandhi dari jendela. "Eh kenapa Kak Enan dibonceng sama cowok terus kakak cantik itu naik motor sen--"

Daniel langsung membekap mulut Farga menariknya keluar dari tirai yang menutupi jendela.

Iza memarkirkan motor Renandhi tepat di halaman, sementara Renandhi turun dari motor Yudhi. "Cepet masuk, bersihin tuh luka sebelum infeksi," ujar Iza berjalan ke arah dua temannya, keluar dari pekarangan rumah Renandhi.

"Makasih ya, udah mau ngantar Yud, Za. Maap juga kalau selama ini gue sering jahil plus sering maksa kalian," balas Renandhi kemudian menatap Iza. "Oh ya, hoodie lo gue pinjem dulu ya."

Iza terkekeh. "Iya-iya santai aja Ren."

"Oh ya, Yud, maap juga kalau gue udah maksa lo datang hari ini. Asli, gue kira rencana untuk buat kalian yang masih marah-marahan gagal, ternyata enggak. Gue seneng lo berdua udah kayak biasa lagi, maap-maapan gito," jelas Renandhi dengan memaksa senyumnya meskipun sakit.

Iza dan Yudhi sontak saling bertatap dari atas hingga ke bawah lalu saling membuang muka. Dua detik kemudian mereka terkekeh bersama sambil saling bertepuk tangan.

"Pfft, santai aja kali Ren. Gua juga sebenernya tadi mau main ke sini tapi tadi bener-bener nggak ada orang. Untungnya gue punya firasat kalau lo masih di sekolah, jadi gue susul kalian," kata Yudhi sambil melirik rumah Renandhi.

Renandhi menolehkan kepalanya ke rumahnya yang terlihat begitu gelap padahal hampir maghrib. "Eh iya ya, nggak ada orang di rumah gue."

"Dah lah, bersihin dulu tu muka, rapikan rambut lo, terus cuci hoodie yang Iza pinjamin, dan jangan lupa lapor dulu ke orang tua." Yudhi menyalakan mesin motornya.

"Yud nebeng, ampe rumah!" Iza langsung naik ke atas motor Yudhi tanpa meminta persetujuan.

"Gue pulang, bye!" Kemudian motornya pun melaju melintasi jalan perumahan yang sudah sepi dari anak-anak kecil.

Renandhi menghela napas sebelum berjalan masuk ke depan pintu rumah dan mengambil kunci dari dalam tas. Begitu kunci ia masukkan, pintu tiba-tiba terbuka. Sepertinya orang tua dan saudarinya lupa mengunci pintu. Ia pun menutup pintu begitu masuk dan mencari-cari saklar lampu.

"SURPRISE!" Lampu tiba-tiba menyala, menghadirkan puluhan orang di dalam ruangan, seluruh sepupunya datang. Mulai dari seluruh Dhika Davio (David, Ardhika, Raffardhika, Dariodhika, dan Fargdhika) hingga Daniel yang bukan keluarganya. "HAPPY BIRTHDAY TO YOU!"

Namun, kericuhan itu mendadak gagal ketika semuanya melihat kondisi Renandhi yang memprihatinkan. Teriakan mereka yang awalnya senada tiba-tiba menjadi fals dan memekakkan telinga.

"LOH RENAN KENAPA?" Ardhika bertanya, panik, dan langsung berjalan mendekat.

David langsung memegang rahang Renandhi yang mengerang kesakitan. "Widih, udah belajar jadi cowok aja ya adek gue yang satu ini."

Raffardhika, Dariodhika, bahkan si kecil Fargadhika yang kali ini bisa hadir di rumah itu langsung mengerubungi Renandhi, membuat Maudy yang merupakan kakak kandungnya ikut panik juga dan langsung marah-marah seperti Kak Ros dalam serial animasi Upin dan Ipin.

Bukan ucapan selamat ulang tahun disertai acara makan-makan kue yang terjadi kali ini. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan membuat Renandhi muak dan berjalan menuju kamarnya tanpa sepatah kata berhubung adzan Maghrib terdengar. Orang tua dan adik kandung Renandhi, Keffa hanya bisa menghela napas pasrah. Peristiwa ini pernah terjadi sebelumnya.

* * * *

Renandhi hari itu langsung mendapat perlakuan spesial dari saudara-saudaranya. Ia didudukkan di ruang kosong dekat dengan pintu samping rumah bersama Daniel, David, Maudy, Kezia, Ardhika, dan Raffardhika.

Maudy sedang mengobati wajah penuh lebam dan luka Renandhi sementara yang lainnya hanya menyaksikan.

"Ah sakit! Pelan-pelan dong prinses!" ujar Renandhi yang merasa kasarnya cara Maudy mengobati wajahnya. "AW!"

"Please deh Ren, jangan alay," respons Maudy yang mulai kasar.

"Coba sini gue." Kezia berdiri dan mengajukan diri, membuat Renandhi refleks mundur.

"Enggak mau, asli, nggak mau!" tolak Renandhi mengingat yang menawarkan diri ini adalah gadis yang pernah membuatnya kalah dan pergelangan tangannya terkilir ketika bermain panco di malam tahun baru. Tidak terbayang seberapa kasar Kezia ketika menyentuh luka di wajahnya. "Gue butuh orang yang banget-banget alus ya my family, ini sakitnya ampe nusuk jantung."

"Mama!"

"Jangan Mama, please jangan mama!" Renandhi setengah terkekeh. "Nanti kalau mama ketawa gue refleks digepuk gitu, sakit, nggak mau."

"Ya udah, sini gue aja!" Daniel menawarkan diri.

Renandhi refleks berdiri, berjalan mundur, dan memasang wajah setengah ketakutan diiringi dengan kekehan mengingat Daniel adalah guru bela diri terkasar yang ia miliki. "Astaghfirullah Al-Adzim cobaan macam apa ini."

"Gue punya pacar yang jago ngobatin loh, gue juga dulu pernah diobatin sama dia," ujar Daniel, "dia juga penolong yang handal pas kaki gue luka parah awal kelas dua belas SMA dulu. Gue udah tau basic dari cara ngobatin dia."

"Gue butuh Kak Sheila, bukan lo!" Renandhi terus berjalan mundur sambil terus menahan tawa mengingat Daniel pernah mengurut tangannya yang terkilir karena Kezia hingga dirinya memekik keras. "Astaghfirullah Al-Adzim!"

Tiba-tiba langkah seseorang terdengar dari ruang tengah, mengalihkan perhatian seluruh orang di sana. "Hai guys sorry gue terlambat. Gimana acara surprisenya? Lancar?" Ia melihat Renandhi. "Ih kok muka mu ngeri banget?!"

"Someone need your help." Renandhi duduk dan bersedia diobati oleh Sheila hingga mendapat seruan ejekan dari saudaranya dan tatapan garang Daniel.

= Perfect Priority =

Oke, kali ini nyelip 4 tokoh ceritaku yang lain judulnya Patiently. Ada Daniel, Sheila, David, dan Kezia. Mungkin dari kalian yang pernah baca atau tahu.

Jangan lupa vote dan komentarnya ya!

Perfect Priority Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang