Iza berjalan sendirian menuju kelasnya karena ada tugas dari Pak Bambang yang perlu ia selesaikan. Kali ini ia mau menyusahkan Renandhi sebagai teman sebangku yang sering meminjam tugasnya, agar impas. Begitu dirinya sampai di lorong pemisah antara gedung kelas sepuluh dan kelas sebelas, Iza melihat Hidayat dan Alif berjalan dari arah berlawanan.
Seperti biasa, yang dilakukan keduanya hanya saling menatap sekilas dan saling membuang muka meskipun kemarin Iza baru saja meminta Alif menyimpan nomornya.
"Gue nggak nyangka kalau cewek secantik Gea bisa mau sama lo."
Alif tertawa. "Jadi lo mikir gue nggak pantas? Sialan." Kemudian ia menoyor kepala Hidayat sementara Iza hanya mampu melirik aksi mereka.
Sekujur tubuh Iza sempat terasa dingin ketika mendengar penuturan Alif sendiri. Langkahnya pun ia buat semakin cepat menuju kelas, ingin sekali bertanya ke teman kelasnya langsung. Barangkali, ada siswi kelas lain yang bernama Gea di sekolah ini.
Kecepatan langkahnya yang sudah tidak dikontrol mengundang tawa sekelompok kakak kelas laki-laki yang duduk di bangku panjang depan kelas. "Weh weh selow aja dek!" itu suara Gevand yang terdengar paling nyaring dari yang lain, membuat Iza memberhentikan langkahnya.
Iza menoleh ke arah empat orang kakak kelasnya itu. Gevand yang notabenenya sebagai ketua geng dan yang paling mulus terus memamerkan senyum selebar mentarinya ke Iza. "Oh, ternyata temannya si Renandhi. Si PHO."
Iza mengernyitkan kening. Ia menghampiri mereka yang tertawa itu setelah mendengar kata 'PHO' atau Perusak Hubungan Orang. "Maksud lo apa?"
Bara, selaku kakak kelas terkenal karena ekskul futsal itu berseru, "Woh, selow dek, selow!"
Semuanya berseru makin nyaring dan melengking bagaikan sekumpulan monyet yang merebut pisang. Gevand hanya menyilangkan tangannya di depan dada sambil memasang seringaian menjengkelkannya.
"Apa tujuan lo ngejek gue begitu?" Iza memberanikan diri untuk bertanya, mengundang seruan kakak kelas itu semakin nyaring dan mengepungnya.
Gevand mengigit bibirnya, masih dengan seringaian tersebut, membuatnya terlihat menginginkan sesuatu yang membahayakan Iza kali ini. "Lo burik banget sih jadi cewek." Tangannya terulur hendak menyentuh rambut Iza.
"APA SIH?" Panik, Iza menangkis tangan Gevand dan mundur satu langkah hingga menabrak Bara yang berdiri tepat di belakangnya.
Fagil yang tadi berseru akhirnya bungkam setelah melihat wajah Iza yang merah padam, diikuti Dennis yang mulai menarik Gevand menjauh.
"Udah Vand udah!" Dennis menarik paksa Gevand.
Seluruh siswa yang kebetulan lewat hendak melihat apa yang mereka lakukan, hampir ikut berkumpul dan mengepung Iza. "Bubar eh bubar!" Fagil berseru. "Nggak ada hal lucu yang bisa ditonton. BUBAR!"
Dan, semuanya pun kembali dengan tujuan masing-masing, seolah tak terjadi apa-apa.
"IZA!" Aresha datang terlambat di saat bubuhan Gevand sudah bubar sedangkan Iza masih terdiam di tempat, memeluk buku absensi kelas yang dibawanya dari kantor guru.
"Ih Iza!" Aresha kaget melihat Iza. "Ayo ikut gue kalau gitu!"
Merasa iba, akhirnya Aresha menyeret Iza ke ujung lorong sebelum orang yang penasaran akan masalah mereka semakin banyak menghampiri. Selama semenit, Iza tak memberikan respons apapun, tatapannya tetap kosong, memikirkan perkataan Gevand tadi.
"Iza, cerita dong, kenapa?" Gadis berambut coklat itu memegang bahu Iza lalu mengajaknya berjalan menuju kelas. "Lo diapain sama Gevand tadi?"
Iza hanya menggeleng pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Priority
Novela JuvenilIza si cewek yang haus cinta tak disangka dapat menyukai cowok seperti Alifahrian Fardendra. Banyak yang bilang Alif itu cowok biasa aja, tidak jelas, bahkan jelek secara fisik dan attitude. Namun Iza tidak peduli dengan itu, seperti kena pelet. Tak...
