Seminggu sudah class meeting diadakan dan telah berakhir. Hari ini adalah hari pembagian hasil belajar siswa selama satu semester, alias rapor. Bisa disebut sebagai hari terakhir sekolah sebelum libur dua minggu.
Hari terakhir sekolah berarti hari terakhir bertemu dengan Alif. Parahnya lagi, hubungan Iza dengan Alif belum menemui titik perbaikan. Pesan permintaan maaf Iza belum Alif baca, apalagi dibalas. Sepertinya, sad ending dalam perjuangan Iza sudah tergambar jelas.
Suasana kelas kala itu cukup ramai karena semua siswa hanya duduk dan bercerita di dalam. Hanya sedikit siswa yang keluar dari kelas dan berjalan dengan pacarnya, salah satunya adalah Dita, pacar Hidayat.
Kini, gadis-gadis kelas Iza sedang berkumpul di depan papan tulis, duduk membentuk sebuah lingkaran besar. Semuanya saling berbagi cerita hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bermain.
"Kita main truth or dare aja gimana?" Qifa mengusulkan.
"Ah jangan! Entar kalian nyuruh gue jujur!" Tiffany menolak.
"Ya udah, main dare or dare aja!" usulan Septia sepertinya lebih mengerikan tapi menantang.
"Nggak!"
"Astaga, ribet amet!" protes Iza yang akhirnya mengeluarkan pulpen dari saku dan meletakkannya di tengah-tengah lingkaran mereka. "Tetap truth or dare ya! Yang nggak mau ikut keluar dari lingkaran."
Beberapa temannya keluar dari lingkaran karena tak ingin bermain, seperti Inna, Reyna, dan Asti. Setelah itu Iza akhirnya memutar pulpen yang ia pegang dan dua detik kemudan ujungnya mengarah ke...
...Qifa.
Semuanya memekik sambil menunjuk-nunjuki Qifa, "Hiya!"
"Gue yang kasih pertanyaan!"
"Eh, jangan dulu! Tanyain dulu dong Qifa mau pilih apa!" protes Septia pada Tiffany dan akhirnya tertawa.
Qifa menjawab, "Gue pilih truth."
"Gue aja yang tanya!" Sonya berseru. "Lo masih ada rasa sama mantan nggak Qif?" tanyanya sambil melirik ke arah Yahya.
Qifa menggeleng antusias. "Nggak! Gue dah move on!"
"Dia mutusin lo kayak gimana Qif?" tanya Tiffany namun tidak diperbolehkan oleh yang lain. Bila ujung pulpen mengarah ke seseorang, hanya satu teman yang boleh memberikan pertanyaan atau tantangan.
Pulpen pun diputar lagi, membuat permainan kali ini menjadi lebih seru. Sedetik kemudian, ujung pulpen mengarah ke Iza yang sedang duduk berpangku tangan.
Lagi-lagi semuanya berseru. "Hiyak, Iza kena!"
"MAMPUS AHA! MAMPUS!" Kini gantian Qifa yang menyoraki Iza nyaring-nyaring.
"Dare dong kali ini!" Tiffany berseru diikuti Gea dan Septia.
Iza memasang ekspresi terjeleknya kemudian terkekeh. "Nggak mau ah. Gue pilih truth!"
Septia cekikikan. "Gue jadi bingung mau nanya apa ke Iza," ujarnya sambil menepuk dahinya dengan satu jari, "gue udah tau semua ya kayaknya."
"Iya, gue juga bingung nanya apa," sambung Sonya.
Tiffany mengangkat tangan, hendak mengajukan pertanyaan, "Gue aja yang--"
"Iza suka sama siapa?" suara Asti yang sedang menonton dengan duduk di atas meja barisan depan terdengar, membuat tatapan Iza seketika tajam.
Sonya yang duduk di bawah mendorong Asti untuk bergeser. "Yang nggak ikut main nggak boleh tanya ke korban. Ganggu aja!" katanya sambil terkekeh.
"Ya udah, gue aja yang ambil alih pertanyaannya Iza," ujar Gea, "lo lagi suka sama siapa Za? Sebut nama cowok!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Priority
Teen FictionIza si cewek yang haus cinta tak disangka dapat menyukai cowok seperti Alifahrian Fardendra. Banyak yang bilang Alif itu cowok biasa aja, tidak jelas, bahkan jelek secara fisik dan attitude. Namun Iza tidak peduli dengan itu, seperti kena pelet. Tak...
