Hari ini adalah hari kedua class meeting. Seluruh siswa kelas Iza akan bertanding. Ada yang mengikuti lomba debat, cerdas cermat, catur, futsal, dan tarik tambang.
Iza kali ini duduk di kelas sembari mengutak-atik ponsel. Ia lebih memilih mengasingkan diri daripada ikut bergosip ria bersama temannya yang lain atau bersiap mengikuti lomba. Moodnya sedang tidak baik.
Masalah semalam masih ia pikirkan. Alif benar-benar menjauhinya. Iza juga menemukan akun Instagramnya yang sudah tidak lagi difollow Alif. Bahkan DM pertama mereka, Alif hapus, sehingga Iza terlihat seperti orang yang mengirim spam saja.
Iza kesal dan akhirnya meng-unfollow atau berhenti mengikuti Alif di Instagram juga, agar impas.
Ia masih tidak terima dengan perlakuan laki-laki itu yang tiba-tiba berubah. Terlintas di pikirannya untuk meminta maaf langsung. Tapi apa kata temannya dan teman Alif?
Seisi kelas Iza adalah siswa yang mulutnya tidak bisa diam. Satu orang bermasalah, semuanya ikut berbicara, saling melempar ejekan, dan mudah membuka aib begitu saja. Akan lebih bahaya kalau sampai mereka tahu Iza pernah dekat dengan Alif.
Jauh lebih bahaya.
Iza tidak bisa membayangkan nasibnya akan seperti apa. Pasti seisi kelas akan mengejeknya dan menyahutinya ketika Alif lewat di samping kelas.
Tidak!
Brak!
Suara sebuah tas dibanting di atas kursi menyentak Iza hingga mengalihkan pandangan dari ponselnya. Kebetulan sang pelaku adalah Renandhi yang kemarin juga bermasalah dengannya.
"Eh udah datang aja Za," sapa basa-basi Renandhi.
Iza hanya tersenyum lalu lanjut memainkan ponsel. Sempat terlintas di benaknya untuk bertanya pasal kemarin, tapi ia teringat perkataan Sonya. Sudah, sudah! Iza tidak ingin membuat masalah kecil jadi membesar. Selama kelainan Renandhi tidak menganggu kehidupannya, Iza tidak akan ikut campur.
"Btw, kemarin lo ngirim chat apaan Za? Kok dihapus?" tanya Renandhi yang masih berdiri di celah antar baris meja.
"Nggak papa Ren."
"Nanya soal kemarin ya?" tebak Renandhi.
"Kalau iya kenapa? Kalau enggak kenapa?"
"Kalau iya, maaf aja, privasi. Kalau enggak, ya jawab aja sekarang."
"Gue cuma mau tanya, bayaran arisan nyokap gue udah lo sampein ke nyokap lo belom?" tanya Iza, bohong. "Gue hapus karena gue percaya aja sama lo."
"Ya elah, itu doang? Pasti udah dong!" Renandhi menepuk bahu Iza. "Coba aja lo nggak hapus, gue nggak bakal kepo semaleman ampe nggak bisa tidur!"
Iza terkekeh paksa. "Maap Ren."
"Iya nggak papa. Gue duluan ya Za, mau nyamperin Yahya di ruang OSIS!" serunya sebelum berjalan keluar kelas setelah Iza mengangguk. "Jangan lupa ambil hoodie kelas di Inna!"
Iza lega laki-laki itu pergi. Ia bisa menstalk Alif lagi. Untung saja Renandhi tidak suka merebut ponsel seseorang yang sedang memainkannya, sehingga rahasia yang Iza pendam sendirian masih aman.
Sepertinya tak lama lagi Iza akan cerita ke satu orang. Memendam rahasia sendiri terkadang tidak enak.
"Weh!" Inna menggebrak meja Iza dari belakang. "Stalking cowok terus! Siapa nih Za kali ini?"
Iza refleks menyembunyikan ponselnya. "LO LIAT?"
Inna tertawa. "Enggak lah Za. Gue minus 2,25 dan lagi nggak pake kacamata. Gimana caranya gue tau siapa nama anak yang lo stalk? Logis dikit dong! Gue cuma liat lo buka akun Instagram orang." Gadis itu menyerahkan hoodie kelas berwarna jingga. "Nih, hoodie punya lo, ukuran L udah dateng, entar pas jadi supporter dipake ya!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Priority
Roman pour AdolescentsIza si cewek yang haus cinta tak disangka dapat menyukai cowok seperti Alifahrian Fardendra. Banyak yang bilang Alif itu cowok biasa aja, tidak jelas, bahkan jelek secara fisik dan attitude. Namun Iza tidak peduli dengan itu, seperti kena pelet. Tak...
