Hari libur pertama Iza benar-benar di rumah saja. Dan kemungkinan besar selama dua minggu akan benar-benar di rumah saja. Sebab, Iza tak punya teman yang rumahnya dekat untuk diajak berpergian. Semua temannya seperti Sonya, Septia, Tiffany, Qifa, Gea, dan Asti sibuk "holiday" bersama keluarga masing-masing. Bahkan ada yang sempat pulang ke kampung halaman.
Benar-benar membosankan. Iza sekarang sedang duduk di sofa depan televisi, tanpa siapapun yang menemani. Nabilla, adiknya sedang pergi ke rumah Keffa, adiknya Renandhi. Ibu dan ayahnya kerja.
Yang dilakukan Iza siang ini hanyalah mendengarkan musik dan sibuk menggeser beranda Instagram, melihat kiriman terbaru teman-teman yang sudah jalan di hari pertama.
Bukannya membunuh kebosanan, malah menambah keirian, dasar Iza.
Tak punya pilihan, Iza akhirnya menghubungi kakak sepupunya yang memang terbaik dan terseru. Teman curhat sekaligus teman gibah, namanya Aresha Afnadhila, setahun lebih tua dari Iza.
Mereka masih satu sekolah, namun Aresha selalu disibukkan dengan beberapa tugas dan kegiatan di sekolah sehingga tetap tidak bisa menjadi sahabat yang baik di sekolah. Kebetulan Aresha adalah siswi kelas sebelas IPA 1, kelas yang paling disegani.
Getaran terdengar dari ponsel Iza begitu panggilannya tersambung. Tak lama kemudian, suara melengking terdengar dari seberang sana. Keduanya pun membuat janji untuk bertemu di sebuah kedai.
Iza akhirnya mengambil handuk di kamarnya dan mulai mengalungkannya sambil berjalan menuju kamar mandi.
Gimana kalau entar gue ketemu Alif di sana? Benak Iza seketika mengatakan kalimat itu, membuatnya berhenti melangkah.
Gadis itu akhirnya balik ke ruang tengah dan mencari ponselnya. Ia mencari nama Alif di Messenger dan membuka roomchat-nya untuk melihat pesan permintaan maafnya yang ia kirim tempo hari.
Belum dibaca. Ya, masih belum. Padahal jelas-jelas status Alif sedang aktif sekarang di Messenger. Apakah ia memang tidak mau berurusan lagi dengan Iza? Iza sudah mengirimnya lebih dari seminggu yang lalu.
Gadis itu berdecak dan menggeretakkan giginya. Ia menghentakkan kakinya satu kali dan membanting tubuhnya ke sofa. Ia menyesal pernah 'suka' dengan laki-laki satu itu. Sekarang, rasanya sangat susah untuk menghilangkan.
Memang, Iza tipe cewek yang susah move on. Iza terlalu setia. Sekali suka, dampaknya bisa jadi selamanya sebelum ada gantinya.
Akhirnya ia mengetikkan sesuatu lagi, memastikan Alif akan membacanya. Kali ini kalimatnya lebih kasar.
Iza : Eh, read dikit napa? Gue agak gelisah jadinya.
Begitu pesannya terkirim, Iza segera melempar ponselnya ke sofa dan berjalan menuju kamar mandi. Ia sudah tidak peduli.
"Bodoamat, palingan juga nggak bakal dibaca!" gumamnya, hendak melangkah masuk ke kamar mandi.
Ting.
Dering terdengar berarti pesan masuk. Melupakan omong kosongnya barusan, Iza akhirnya berlari ke ruang tengah lagi dan meraih ponselnya. Seperti menjilat ludah sendiri, Iza sangat berharap Alif membalasnya.
Iza menyalakan ponselnya sambil menutup mata. "Plis dibales plis, jawab 'Y' aja nggak papa, plis."
Ketika ia membuka mata, nama Aresha justru tertera di layar. Yang diharapkan sepertinya tidak mungkin membacanya.
Aresha : Eh, kok lo lama amet sih? Gue udah nunggu di rumah ni. Perlu gue yang dateng ke sana?
Iza : Gak perlu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Priority
Teen FictionIza si cewek yang haus cinta tak disangka dapat menyukai cowok seperti Alifahrian Fardendra. Banyak yang bilang Alif itu cowok biasa aja, tidak jelas, bahkan jelek secara fisik dan attitude. Namun Iza tidak peduli dengan itu, seperti kena pelet. Tak...
