Setelah aksi Yudhi yang mengejek Alif kemarin hingga mendapat puluhan pukulan, akhirnya kedua laki-laki itu dipanggil ke ruang bimbingan konseling di jam pelajaran pertama. Karena mereka melakukannya tepat di bawah CCTV, Iza pun juga ikut ditarik ke ruangan itu untuk dimintai keterangan.
Tentunya, berita itu membuat heboh satu sekolah, apalagi teman-teman kelas Iza. Begitu kembali dari ruang BK ke kelas, Iza diminta untuk bungkam oleh Yudhi hingga jam pembelajaran di sekolah berakhir.
Dan yah, Iza benar-benar menurutinya. Ia sama sekali tak menceritakannya sedikit pun bahkan ke Renandhi, teman sebangkunya.
Tapi, bungkamnya Iza tidak akan membuat Septia, Inna, Asri, Tiffany, Reyna, dan Sonya puas.
BRAK!
"Iza!" cegah Septia sebelum Iza beranjak dari bangkunya. "Lo harus cerita!" Untuk ke sekian kalinya meja Iza menjadi sasaran.
Gea yang awalnya tak tertarik dan ingin langsung pulang, akhirnya duduk di kursinya lagi dengan memasang pendengaran. Ia melirik tepat ke bibir Iza, memastikan bahwa gadis itu tidak mengatakan hal aneh terhadap Alif.
"Gue nggak mau Sep," ujar Iza sambil mencari celah untuk keluar dari kerumunan.
Tak lama Sonya datang ke samping Septia, disusul Tiffany, Inna, Asri dan Reyna. Hal itu membuat Renandhi berdiri. "Ada apa sih girls?"
"Iza nggak mau cerita Ren. Lo udah diceritain belom? Kalau gitu mending lo aja ya cerita," ujar Tiffany dengan nada memaksa.
Renandhi terkekeh. "Boro-boro, noleh ke gue aja nggak mau," katanya sambil menaik turunkan kedua alis menatap Iza.
Iza menghela napas. "Udahlah, masalahnya juga udah kelar. Mending lo semua bubar, kita pulang, terus tidur di rumah, mumpung belom adzan Salat Ashar."
Sonya memekik. "Ah Iza, nggak usah sok nggak tau kita kayak gimana deh. Sekali ada masalah, perlu diceritain, biar enak--"
"Gue denger-denger si Yudhi ngajak Alif berantem lebih dulu." Tiba-tiba suara seorang gadis terdengar dari salah satu kursi di barisan tengah paling belakang. Gea mungkin mulai muak dengan Iza yang tak mau bicara.
Semuanya menoleh, bahkan Iza. Pandangannya pun bertemu dengan Gea.
"Oh iya, kenapa kita nggak tanya sama Gea? Nggak kepikiran." Septia terkekeh diikuti Asri dan Inna.
Gea menghampiri mereka. "Alif bilang, si Yudhi yang mulai duluan. Dia ngajak ketemuan di samping perpustakaan, terus mancing emosinya."
Renandhi berbisik ke arah Iza, "Apa itu bener?"
"WEH WEH MEREKA MULAI BAHAS!" teriakan dari luar kelas terdengar, membuat seluruh siswa laki-laki yang sedang sibuk memakai sepatu kembali masuk ke kelas dengan semangat. Mereka membentuk formasi setengah lingkaran untuk mendengarkan penuturan Gea dan Iza.
"Oke girls, lanjut lagi ghibahnya, kita nyimak!" sambung Ahmad.
Gea menghela napas. "Gue nggak tau pasti Yudhi punya tujuan apa mancing emosi Alif sampai Alif mukulin dia begitu. Dan pintarnya, Yudhi mancing dia pas di bawah CCTV. Kebetulan lo datang dan ngelerai mereka. Pasti lo tahu alasan Yudhi Za, karena lo ada di sana."
Iza meneguk salivanya. "Maaf nih ya Ge, gue bukannya nggak mau cerita, tapi memang gue lagi ngejaga aib Yudhi. Dia minta gue untuk bungkam dan nggak cerita ke siapa-siapa biar masalah ini nggak nyebar ke mana-mana. Lagian juga, udah kelar kok, dua-duanya udah baikan."
Seketika mata Gea berkaca-kaca. "Baikan kata lo?! Lo nggak lihat mereka pas ketemu di kantin tadi Za. Yah, wajar aja lo nggak paham. Tapi gue? Gue sebagai sahabat Yudhi dan pacar Alif ngerasain banget kalau ini belum selesai."
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Priority
Roman pour AdolescentsIza si cewek yang haus cinta tak disangka dapat menyukai cowok seperti Alifahrian Fardendra. Banyak yang bilang Alif itu cowok biasa aja, tidak jelas, bahkan jelek secara fisik dan attitude. Namun Iza tidak peduli dengan itu, seperti kena pelet. Tak...
