[Belum direvisi. Masih banyak penggunaan kata yang salah]
Tidak perlu mengungkapkan rasa
Karena kita saling merasa hal yang sama
Tidak perlu berkata cinta
Karena kita saling jatuh cinta
Empat syarat dalam cinta yang begitu sulit, yaitu
mengungkapka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ARLOJIberwarna cream yang melingkar di tangan kiri Poppy sekarang menunjukan pukul tujuh kurang dua puluh menit. Gadis berambut panjang sebahu itu sudah siap dengan seragam sekolahnya, ransel berwarna kuning kini sudah digendong oleh gadis itu, setelah memandang dirinya yang terpantul pada cermin beberapa menit, Poppy pun akhirnya bergegas keluar dari kamarnya.
"Pagi ayah, pagi ibu, pagi Dissa." Sapa Poppy ramah kepada kedua orangtua angkatnya dengan saudari angkatnya yang sedang berkumpul di meja makan untuk sarapan.
Baru saja Poppy duduk pada kursinya, kakak kandungnya--Louis, turun dari kamarnya dengan tergesa-gesa, mencium telapak tangan ayah dan ibu angkatnya lalu berlalu pergi keluar rumah membuat Poppy beranjak bangun dari kursinya. "Heh! Kak Louis tunggu!" Teriaknya.
Setelah berpamitan, gadis itu berlari menyusuli kakaknya yang sedang siap-siap menaiki motornya. "Kak Louis!" Poppy kembali memekik dengan keras membuat Louis menoleh, "kenapa?"
"Aku berangkat ke sekolah sama kakak ya!" Pinta Poppy. Louis kemudian mengangguk tanpa minat. Tanpa berpikir panjang Poppy pun langsung duduk pada jok motor Louis dan motor N-Maxitu pun melaju dengan kecepatan stabil.
Di tengah perjalanan hening beberapa menit karena tidak ada yang membuka bicara tetapi pada detik berikutnya, Poppy memecahkan keheningan itu sebuah pertanyaan kepada Louis.
"Aku mau tanya ke Kak Lulu, waktu itu apa sih sebenarnya maksud dari perkataan Kak Lulu?" Poppy bertanya sedangkan Louis hanya terdiam bungkam.
"Kak Lulu, jawab pertanyaan aku!" Pinta Poppy dengan suara melengkingnya tetapi Louis justru masih membisu membiarkan Poppy berdecak kesal di belakangnya. "Kak Lulu marah ya sama Poppy?" Gadis itu kembali bertanya.
Wajah Louis yang tertutup kaca helm menoleh sebentar ke arah Poppy lalu kembali membuang muka, "bukannya kamu suka kalau kakak itu diam? Bukannya kamu suka kalau kakak udah ga ngelarang kamu lagi buat hancurin hubungan orang?"
"Ta-tapi ga gini caranya," gadis itu mendengus.
Louis menghela napas membuat kabut tipis pada kaca helm tersebut, "suatu hari kamu akan tahu Poppy." Ujarnya pelan.
"Kenapa kakak gak cerita aja sekarang? Apa maksud kakak kenapa aku seperti ibu?"
"Kamu harus cari tahu sendiri."
Perkataan Louis mengakhiri percakapan di antara mereka, keheningan kembali menerpa, pertanyaan mulai timbul dalam benak Poppy, mereka berdua membisu hingga motor itu tiba di sekolah. Poppy langsung beranjak bangun lantas bergegas meninggalkan Louis yang masih memarkir motornya agar rapi.