"Kalian ini sudah besar!. Bersikaplah yang sewajarnya!.Apa lagi kamu vallery! Seharusnya kamu sebagai kakak kelas memberikan contoh yang baik. Bukannya berkelahi seperti ini!" Marah Bu Yayu selaku guru BK pada Vallery dan Hanzel.
Valle terlihat mengerucutkan bibirnya dengan tangan mengelus pipinya yang sedikit lebam. Rambutnya juga rontok. Alhasil kepalanya terlihat sedikit pitak.
Sedangkan Hanzel terlihat tenang melipat tangan ke depan dada. Ia hanya mendapatkan sedikit lebam di pelipisnya.
"Dia yang mukul saya duluan!" Ujar Vallery sambil menunjuk arah Hanzel.
"Nggak usah salah-salahan! Saya sudah panggil orang tua kalian. Sebentar lagi mereka sampai. Jadi. Kalian bicara ke saya. Apa yang menyebabkan kalian bertengkar seperti tadi!"
"Lo bakal mati kalo ortu gue kesini!" Bisik Valle yang masih bisa di dengar oleh Hanzel. Hanzel tak bergeming. Ia tetap acuh seolah tak mendengar apapun.
"Anak-anak bilang kamu yang nyerang Valle duluan. Memang kamu ada masalah apa sama Valle sampai kamu pukul dia?" Tanya Bu Yayu dengan tatapan lekat ke arah Hanzel.
"Dia culik temen saya bu." Jawab Hanzel datar dan santai.
Valle sudah menatap Hanzel tajam. Namun tidak di hiraukan oleh Hanzel.
"Yang benar Hanzel. Ini lingkungan sekolah. Memangnya ada seorang Siswi main culik culikan begitu?" Ujar Yayu dengan nada tak percaya.
Senyum kemenangan pun sudah mengembang di wajah Vallery. Sedangkan Hanzel masih tetap diam Dengan wajah datar.
Drrrrt...drrrt....
Hanzel merogoh ponsel di saku roknya kemudian membuka pesan yang baru saja masuk dari Naya.
Mata Hanzel langsung terbelakak sempurna setelah membuka pesan itu. Ia pun langsung berdiri kemudian berlari keluar dari ruang BK tanpa pamit ataupun ijin kepada bu Yayu.
......
Sementara itu di tempat lain.
Tepatnya di lorong perpustakaan.
Linfa tengah berdiri berdua bersama Boby di situ. Suasana yang sangat awkward. Linfa maupun Boby diam. Tidak ada yang memulai pembicaraan.
"Jadi gimana?" Tanya Boby.
"Gimana apanya?" Linfa bertanya balik dengan polosnya.
Boby menghela pelan kemudian memandang Linfa.
"Jawaban kamu. Gimana? Terima aku?" Ujar Boby sesabar mungkin.
Linfa kembali diam. Ia semakin menunduk.
"Maaf." Ujar Linfa pelan namun masih bisa di dengar oleh Boby.
Senyum sumringah Boby mulai pudar karena kata Maaf dari mulut Linfa. Harapannya benar-benar pupus.
"Kenapa?" Tanya Boby.
Linfa masih diam. Ia jadi merasa bersalah pada Boby.
"Apa karena aku gak pantes buat kamu. Iya? Atau kamu udah suka sama orang lain." Ujar Boby dengan nada yang sendu. Dan itu semakin membuat Linfa merasa sangat bersalah.
"Ya gu gue nggak mau nerima lo karena kasihan. Itu sama aja gue bohongin lo." Jelas Linfa.
"Iya gue tau. Tapi apa lo nggak bisa buka aja sedikit hati lo buat gue?! Sebenernya lo pandang gue serendah apa sih? Apa semua yang gue lakuin selama ini gak ada artinya buat lo?" Kini Boby meninggikan nada suaranya. Gaya bicaranya juga mulai kasar. Linfa semkain menunduk. Tubuhnya bergetar. Ia tidak menyangka jika Boby akan seperti ini.
"Bu bukannya gitu. Gue..." ucapan Linfa terpotong karena tiba-tiba ia merasakan ada hembusan nafas di wajahnya. Boby menempelkan tangannya di kedua sisi tembok mengunci posisi Linfa. Linfa terhimpit antara badan Boby dengan tembok. Tentu saja Linfa terkejut bukan main. Keringat dingin mulai keluar. Boby semakin mendekati Linfa. Menghapus jarak antara mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Anak SMA (TAMAT)
Teen Fiction[1st book] Isinya pait manis kisah anak SMA. Mulai dari perjuangan sampai yang di sia-siakan. ... -Linfa Nacandra Paling Manis,agak bawel,Penyayang, otaknya sedikit di atas rata-rata,dan doyan makan. -Davira Adanaya Paling Cantik,Pinter,kalem,dewas...
