Gue mau hidup, tenang dan damai. Sampai pada saatnya nanti, hidup itu sendiri yang lelah dengan jiwa liar gue, dan pada akhirnya, dia yang nanti akan ninggalin gue.
Langit Angkasa
Happy Reading 😊
Embun tergesa-gesa dalam menuruni tangga di rumahnya. Dia berlari seolah rumahnya seluas GBK, atau minimal seluas lapangan sepak bola di komplek perumahannya.
Surya yang melihat putrinya turun dengan sangat cepat segera menghampiri putrinya untuk memastikan bahwa dia tidak kenapa-kenapa.
"Em, kamu ngapain sih buru-buru gitu?" tanya Surya saat Embun sudah berdiri di hadapannya.
"Kita telat, Pah!"
Surya menaikkan sebelah alisnya sambil menatap putrinya heran, "Ke mana?"
Embun berdecak malas sambil melihat penampilan papanya yang jauh lebih santai dan … macho.
"Hari ini Langit sidang kan, Pah? Kita harus ke sana lah,"
"Iya Papa tau, tapi ini masih jam setengah tujuh pagi. Pengadilan mana yang buka persidangan segini paginya?" tanya Surya membuat Embun berjalan malas ke sofa di ruang keluarga, diikuti oleh dirinya.
"Jadi, gimana?" tanya Embun setelah Surya duduk di sebelahnya.
"Ya nanti, jam sembilan atau jam sepuluh. Be calm, jangan tegang."
Embun menepuk bahu Surya gemas, "Ngga bisa kalem, ih Papa!" rengeknya membuat Surya segera membawa kepala putrinya itu untuk disandarkan di bahunya.
"Yang kita lakukan. Papa, kamu, teman-teman kamu, semua ngga sia-sia. Papa yakin, ada sedikit bahagia buat keluarga kita, meski ini benar-benar telat."
"Ngga telat kok, Pah. Embun, Langit, pengen bahagia terus kayak gini sama Papa. Meski tanpa dia." balas Embun dengan melemahkan nada suaranya saat menyebutkan kata 'dia.
"Yaudah, makan yuk. Papa laper." ucap Surya yang diangguki Embun.
Saat mereka tengah berjalan menuju ruang makan, tiba-tiba saja bel rumah berbunyi nyaring, membuat keduanya saling berbagi pandang.
Embun baru saja akan melangkahkan kakinya menuju pintu depan, namun Mak Inah menahannya.
"Biar Emak saja, Em."
Embun tersenyum sambil mengangguk dan kembali ke ruang makan.
"Siapa?" tanya Surya saat putrinya baru saja mendaratkan bokong di kursi.
Embun mengendikkan bahunya, "Si Emak yang bukain."
Setelah mengucapkan itu, Mak Inah datang ke ruang makan dengan tergopoh-gopoh, membuat Embun dan Surya terkejut.
"Kenapa, Mak?" tanys Surya mendahului pertanyaan yang ingin dilontarkan Embun.
"Ib… ibu, Pak. Anu…" mendengar kata ibu yang diucapkan oleh Mak Inah walau dengan terbata, Surya segera berjalan cepat menuju ruang depan diikuti Embun yang masih dilanda kebingungan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twins [COMPLETED]
Teen FictionAmazed Cover by @widya_may "Buat gue, Embun adalah langit, tempat gue meminta dan selalu diberikan, tempat gue mencari kehangatan dan selalu berakhir dengan kenyamanan. Embun adalah sebagian dari hati gue. Yang nyakitin dia sama dengan nyakitin gue...
![The Twins [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/147603676-64-k958528.jpg)