38. Penjebakkan (b)

1K 83 1
                                        

Happy Reading 😊

"Jelasin, kenapa lo dan Petir berniat ngebunuh Langit? Kenapa selalu gue dan Langit? Kenap-kenapa…" lirih Embun diakhir kalimat membuat Vickram tertawa.

"Bukan gue, mau gue cuma ngancurin adik gue dan bokapnya. Tapi kebetulan ketemu sama Petir yang satu visi sama gue,"

"Maksud lo?" tanya Bayu mewakili ketiga temannya.

"Gue ketemu Petir di club beberapa tahun yang lalu, pas kalian masih kelas enam SD kalau ngga salah, bayangin aja anak SD udah jago main ke club, haha."

"Tuh anak keliatan frustasi banget sampe minum hampir dua puluh gelas, karena ngga ada temen cerita ya akhirnya dia cerita sama gue…"

"Apa yang dia ceritain?"

"Sabar dong sayang," ledek Vickram membuat Embun berdecih sinis dan kembali mengangkat pistolnya yang tadi sempat dia turunkan.

"Dia cerita, katanya bokapnya dia gila harta. Sampe ninggalin nyokapnya dan milih balikkan sama mantannya yang seorang wanita karir dan istri dari saingannya… iya, nyokap lo dan Langit,"

"Ngeliat betapa kasiannya tuh anak, bikin gue mau ajak dia kerja sama. Selain itu… gue juga punya rencana lain buat bikin bokapnya ngga cuma ambil harta kalian aja, tapi juga kebahagiaan kalian," Vickram diam sambil menatap Embun yang masih menatapnya intens.

"Berapa kali nyokap lo ketauan selingkuh?" Embun diam. Bukan karena tidak tahu, tapi karena dia tidak ingat.

"Ups… sori gue lupa, kalau dulu lo sempet dibikin celaka sama Petir kan? Sampe amnesia, lupa segalanya, lupa kalau keluarga lo berantakan, lupa kalau lo punya cinta pertama…  Athalla."

"Iya, waktu itu Petir juga cerita. Katanya dia mau bunuh Langit tapi malah lo yang celaka. Katanya, kalau ngga bisa bikin nyokap dan bokapnya rujuk, dia bakal bantu bokapnya buat ambil semuanya dari kalian. Harta, keluarga, kebahagiaan, karena dia benci liat kalian bahagia,"

"Berkali-kali gagal buat bikin orangtua kalian cerai. Kebencian Petir bertambah saat Athalla dibawa sama nyokapnya ke luar negeri. Mana ada kembar yang mau dipisahin?"

"Kembar?" ulang Embun yang diangguki Vickram.

"Mereka juga kembar. Tapi terlalu banyak perbedaan yang kentara di antara mereka, hal itu yang bikin mereka juga di anggap saudara tiri sama orang-orang,"

"Hubungannya sama kami apa, sih?" tanya Embun masih tidak dapat mencerna setiap cerita yang diucapkan Vickram.

"Selain galak dan jail, lo lemot juga ya, Em?" kekeh Vickram santai membuat Embun mendengus.

"Hubungannya sama kalian? Kata Petir, kalian perusak, kalian ngga pantas bahagia selagi dia dan keluarganya ngga bahagia. Trus, apa lo pikir Tuan Dhamia benar-benar mau nikahin nyokap lo?"

"Mama…" gumam Embun tanpa sadar, membuat Vickram tersenyum miring.

"Dia cuma mau nyakitin nyokap lo, nyakitin bokap lo, dan lo berdua. Ngga ada yang baik di dunia Embun, bahkan mereka yang di samping lo pun belum tentu baik."

"Maksud lo apa?" desis Charlie membuat Vickram mendelik.

"Gue ngga bermaksud apa-apa, hanya memperingati gadis bodoh itu,"

"Ngga usah banyak omong lo!" seru Embun kesal.

"Dan, alasan dia bunuh Langit, supaya lo dan Athalla bisa menikah, lalu mereka akan ambil harta keluarga lo yang udah hancur itu. Tapi sayang, si bodoh itu malah ketembak sama gue,"

"Kalau gitu, biarin gue yang balesin dendam Petir dan juga Langit ke lo," desis Embun lalu kembali mengarahkan pistolnya tepat ke hadapan Vickram.

Dengan langkah perlahan Embun maju mendekati Vickram yang hanya berdiri santai sambil menatapnya. Saat sampai tepat di hadapan Vickram, dan mulut pistolnya juga sudah menempel tepat di kepala Vickram, tiba-tiba saja Tasya maju dan memukulnya menggunakan tas dengan gerakkan yang sangat cepat.

The Twins [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang