Mereka sampai di rumah. Moza juga segera kembali ke rumahnya dan membiarkan The Twins bersama di rumah mereka yang sepi. Setelah selesai mengobati luka yang ada di wajah dan tubuh Langit, Embun segera kembali ke kamarnya dan begitu juga Langit.
Tidak lama kemudian, terdengar suara mesin mobil yang memasuki pekarangan rumah. Langit segera bangkit dari tempat tidurnya untuk melihat ke kamar Embun. Langit takut Embun akan nekat membawa mobil sendiri, pasalnya Langit sangat melarang keras sang adik membawa kendaraan pribadi.
Saat keluar kamar, Langit melihat Embun juga baru saja keluar dari kamarnya. Langit menaikkan sebelah alisnya tanda bertanya, dan Embun hanya mengangkat bahu acuh lalu segera masuk kembali ke dalam kamar.
Langit tahu pasti, jika Embun sudah menampilkan wajah masam seperti tadi, itu artinya kedua orang tua mereka telah pulang. Langit pun juga ikut masuk ke dalam kamarnya, ia tidak ingin menyambut hal yang hanya membuatnya semakin merasa tidak betah saat berada di rumah.
*****
Raina Wijaya. Mama dari The Twins, segera turun dari mobil yang dikendarai suaminya, Surya Angkasa.
Tidak ada pelukan hangat layaknya sepasang suami istri. Tidak ada sapaan yang terucap di antara mereka. Apalagi saat memasuki rumah mereka yang sepi. Raina dan Surya sangat merindukan kehangatan keluarga mereka sepuluh tahun yang lalu, sebelum masalah itu datang menghampiri keluarga kecil mereka yang bahagia.
Raina pun paham, ini adalah salahnya, bukan kesalahannya sendiri memang, tapi sang suami juga ikut bersalah dalam hal ini.
Raina segera masuk ke dalam kamarnya, mengikuti jejak sang suami.
Masih sama.
Masih tidak ada percakapan di antara mereka.
Hubungan mereka memang tidak pernah membaik, sejak sepuluh tahun yang lalu, tapi mereka akan berusaha tampil seharmonis mungkin saat berada di depan sepasang anak kembar mereka, juga kolega bisnis mereka masing-masing.
Sebuah topeng drama yang membuat Embun juga Langit sangat muak.
*****
Langit baru saja memakai denim kebanggaan Galaxy saat keluar kamar, dan melihat sang mama sudah ada di depannya dengan senyum yang sangat manis.
Langit memang membenci orangtuanya, tapi mustahil rasanya kalau Langit tidak merindukan mereka.
Terutama sang Mama.
"Lang, makan malam dulu, yuk? Malam ini mama masak makanan kesukaan kamu dan Embun," ajak Raina, lalu memeluk anak laki-lakinya.
"Mama duluan yah, Langit nanti turun bareng Embun," ucap Langit, setelah pelukan mereka usai.
"Cepat yah sayang, Papa udah nunggu dari tadi," ucap Raina lagi, sambil mengelus rambut Langit yang sudah memanjang.
Langit hanya tersenyum melihat kepergian Raina, dan segera menuju kamar sang adik. Tanpa mengetuk lagi, Langit segera masuk ke kamar yang bernuansa biru langit tersebut. Kamar ini masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Masih banyak hiasan tentang angkasa.
Langit dan Embun memang memiliki kesamaan, mereka menyukai hal-hal yang berbau tentang benda-benda angkasa.
Embun terlihat sedang bergelung di dalam selimut. Segera ditariknya selimut tebal berwarna biru pastel tersebut, dan terlihatlah sang pemilik kamar.
Embun berbalik dan segera memeluk Langit dengan sangat erat.
Langit paham. Selalu seperti ini di saat orangtua mereka sedang ada di rumah. Embun akan menangis karena rindu, tapi Embun tidak akan mengungkapkannya secara langsung, selain kepada Langit.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twins [COMPLETED]
Teen FictionAmazed Cover by @widya_may "Buat gue, Embun adalah langit, tempat gue meminta dan selalu diberikan, tempat gue mencari kehangatan dan selalu berakhir dengan kenyamanan. Embun adalah sebagian dari hati gue. Yang nyakitin dia sama dengan nyakitin gue...
![The Twins [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/147603676-64-k958528.jpg)