Happy Reading 😊
Tasya dan Acha kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju pelabuhan yang tadi sempat tertunda.
"Gue ngga nyangka lo selicik ini, Cha!" sinis Tasya sambil terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Licik dibalas licik," balas Acha santai membuat Tasya menggeram namun dia sudah tidak bisa lagi melakukan apa-apa terhadap gadis di sebelahnya.
Sekitar lima belas menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di pelabuhan tempat di mana Tasya dan orang-orang itu berjanji temu.
Mobil Tasya dihentikan oleh seseorang dengan pakaian hitam-hitam bak ajudan saat sampai di tempat parkir pelabuhan.
"Ada apaan nih?"
"Bisa tunjukkan identitasnya, Nona?"
"Gue kenal sama orang yang nyewa kapal besar itu. Biarin gue masuk,"
"Saya hanya meminta kartu identitas anda, Nona. Bisa tolong diperlihatkan?"
Tasya berdecak panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk menelpon seseorang.
"Gue ngga boleh masuk sama ajudan lo yang super keker dan ganteng ini."
"…"
"Cepetan! Panas tau!" sungut Tasya sebelum memutuskan panggilannya dengan orang itu secara sepihak.
Tak lama dari situ, seseorang yang bertubuh kekar yang lain datang dari arah masuk pelabuhan untuk menemui mereka.
"Eh Keker! Biarin aja tuh wadon¹ suruh masuk!" serunya dengan suara bariton yang tegas.
"Beneran?" tanya ajudan yang saat ini masih menghadang mobil yang dikendarai Tasya.
"Beneran lah! Dengerin tuh Ker, kata temen lo!" sungut Tasya yang diangguki ajudan yang dipanggil 'Keker' itu.
"Maaf. Silahkan."
Tasya baru akan kembali menginjak pedal gasnya sampai Acha menghentikkannya.
"Tasya, mobil Charlie juga suruh masuk aja. Bilang ke ajudannya," saran Acha membuat Tasya mendelik.
"Lo pikir gue bisa dipercaya?" tanya Tasya sinis sebelum kembali melajukan mobilnya dan melirik kaca spion dengan pandangan sinis, di sana mobil Charlie yang mengikutinya dihentikan juga oleh ajudan keker itu.
"Tasya kamu-"
"Dua orang itu? Apa bisa ngelawan mereka?" tunjuk Tasya ke arah beberapa orang yang sedang sibuk memindahkan kardus berisi barang-barang haram ke dalam bagasi kapal.
Acha diam. Kembali melihat teman-temannya yang dihadang oleh beberapa ajudan di sana.
Gagal lagi? Acha membatin.
Dilain sisi, Moza dan Embun sedang sibuk beradu mulut dengan ajudan kekar yang tadi menghentikkan Tasya dan Acha.
"Eh Keker! Kita sepaket sama dia!" seru Moza kesal.
"Nona yang tadi tidak bilang begitu,"
"Lupa kali, Bang. Lupa kan ngga inget," jawab Jaylani dari kursi penumpang.
"Saya telfon bos dulu-"
"Eh udah kaga usah!" seru Jaylani panik. "Cabut aja cabut, Em!" ucapnya lagi membuat Embun dan Moza saling berbagi tatap namun tetap menuruti permintaan Jaylani.
Mereka keluar dari lingkup pelabuhan dan berhenti untuk mengawasi kapal besar yang disewa oleh Vickram untuk pelariannya dari radius yang cukup jauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twins [COMPLETED]
JugendliteraturAmazed Cover by @widya_may "Buat gue, Embun adalah langit, tempat gue meminta dan selalu diberikan, tempat gue mencari kehangatan dan selalu berakhir dengan kenyamanan. Embun adalah sebagian dari hati gue. Yang nyakitin dia sama dengan nyakitin gue...
![The Twins [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/147603676-64-k958528.jpg)