"Tuh kan, gerbangnya udah ditutup!" seru Embun kesal, lalu turun dari motor milik Langit.
"Ya, biasa aja sih, biasanya juga kita telat, kok." jawab Langit santai.
"Eh, tuh tuh Bu Dilah dateng, aduh mana mukanye udah asem aja lagi pagi-pagi," tunjuk Embun, ke arah guru killer di sekolah mereka, Bu Dilah.
Langit hanya melirik santai, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Embun, sehingga membuat wajah panik Embun seketika berubah menjadi sumringah.
"Langit! Embun!" teriak Bu Dilah.
"Hadir, Bu!"
"Hadiroh, Bu!"
Jawab mereka serentak.
"Kenapa sih, kalian terus yang telat? Saya tuh capek ngurusin kalian!" seru Bu Dilah, saat sampai di depan gerbang yang tertutup, berhadapan dengan Langit dan Embun.
"Atuhlah Bu, kita dikasih masuk dulu gitu, malu Bu, kalau dimarahin di sini. Emang Ibu mau, sekolah kita namanya jadi jelek, gara-gara sepasang anak kembar yang troublemaker?" tanya Embun mengompori.
Langit hanya menahan tawa melihat aksi jahil kembarannya yang sudah kumat.
"Yasudah, yasudah! Pak Ahmad, tolong dibuka gerbangnya. Kasih masuk aja dua mahluk kembar dan nakal ini," ucap Bu Dilah final, pada akhirnya.
Membuat Embun dan juga Langit tersenyum lalu berjalan masuk, dan mencium tangan Bu Dilah dengan khidmat.
"Tumben kalian cium tangan saya? Biasanya saya dijahilin terus sama kalian," ucap Bu Dilah ketus, membuat mereka terkekeh.
"Iyalah Bu, kita mau minta maaf dulu, sebelum buat ulah lagi." jawab Embun, lalu Langit segera menarik tangannya untuk berlari menjauh dari Bu Dilah.
"Dah, Ibu! Jangan kangen saya yang ganteng ini yah, Bu!" teriak Langit, membuat Bu Dilah tersadar kalau Beliau telah dijahili lagi.
"LANGIT! EMBUN! KEMBALI KALIAN!" teriak Bu Dilah kencang.
"NGGA MAU, BU! KITA MAU MASUK KELAS AJA! NANTI AJA YA BU MAAF-MAAFANNYA KALAU UDAH LEBARAN!" balas Embun dengan sama berteriak, membalas perintah Bu Dilah.
"Sabar Bu, sabar." seloroh Pak Ahmad, satpam SMA Pelita Harapan, yang segera mendapat tatapan tajam dari Bu Dilah.
*****
Langit dan Embun masih saja berlari di lorong koridor yang sepi, karena mereka termasuk murid pandai, mereka akhirnya dimasukkan ke kelas IPA, walaupun dengan banyak catatan kenakalan.
Embun masuk di kelas XI IPA 1. Sedangkan Langit, masuk di kelas XI IPA 5.
Kelas mereka berada di lantai dua, jadilah mereka masih harus menaiki tangga terlebih dahulu untuk bisa sampai di kelas masing-masing.
Saat masih berlari, tiba-tiba saja Embun menabrak seseorang yang sedang berdiri di depan mading dekat tangga.
Embun terjatuh dan segera memasang wajah geramnya.
Siapa yang berani mencari masalah dengannya di pagi hari seperti ini?
"Heh, lo tuh kalo berdiri jangan di tengah koridor kaya gini! Ngehalangin jalan gue, tau ngga! Minggir, minggir!" semprot Embun kesal.
Langit yang berdiri di belakang tubuh laki-laki yang ditabrak Embun pun hanya menghela nafas lelah.
Kalau Embun sudah marah di pagi hari, pasti mood -nya akan terus rusak seharian ini.
"Udah ayo Em, cepetan! Ntar ditangkep Bu Dilah." ajak Langit, sebelum Embun semakin menyemprotkan amarahnya dan membuat mereka digiring ke ruang BK.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twins [COMPLETED]
Novela JuvenilAmazed Cover by @widya_may "Buat gue, Embun adalah langit, tempat gue meminta dan selalu diberikan, tempat gue mencari kehangatan dan selalu berakhir dengan kenyamanan. Embun adalah sebagian dari hati gue. Yang nyakitin dia sama dengan nyakitin gue...
![The Twins [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/147603676-64-k958528.jpg)