33. Bandar Narkoba

928 79 0
                                        

Happy Reading😊

Bayu, Jaylani, dan juga Yusuf sudah sampai di pemakaman tepat pada waktunya, yaitu saat jenazah Petir benar-benar akan dikebumikan.

"Gimana ini woy?" tanya Jaylani gemas, karena saat ini mereka tengah mengintip secara diam-diam jalannya prosesi pemakaman.

"Hitungan ketiga kita berbaur di antara para pelayat yang lain."

"Eh, gimana-"

"Tiga!" ucap Yusuf tiba-tiba saja membuat Jaylani berdecak kesal.

"Udah ane bilang, dia kaga bisa ngitung. Satu dan teman-temannya aja belum pada disebut, udah langsung nomor tiga aja." gerutu Jaylani membuat Bayu gemas.

"Cepetan!" desak Bayu yang diangguki Jaylani.

Mereka berjalan pelan menyusup di antara pelayat yang lainnya. Masker berwarna biru yang tengah mereka pakai sangat kontras di antara para pelayat yang saat ini tengah memakai pakaian yang serba berwarna hitam.

Jaylani berdiri di dekat Pak Ustad yang tengah sibuk memimpin jalannya proses pemakaman. Sedangkan Bayu, dia berdiri tidak jauh dari Dhamia dan juga Raina yang ada di sebelahnya, Yusuf sendiripun memilih menyingkir untuk memperhatikan satu per satu di antara para pelayat untuk memastikan bahwa Vickram dan Akbar memang ada di sana.

Mereka bertiga kembali ke rumah Embun setelah proses pemakaman terselesaikan dengan baik tanpa ada kendala apapun.

"Mana panas-panasan, kaga dapet apa-apa." gerutu Jaylani membuat Moza melemparkan remot televisi ke arahnya.

"Apaan si, Ja?"

"Kalau nolong yang ikhlas!"

"Ikhlas ini ikhlas." jawab Jaylani sedikit malas.

"Terus gimana?" tanya Embun sambil meletakkan piring berisi cookies yang baru saja selesai dibuat oleh Mak Inah.

"Di sana ngga ada tanda-tanda kehadiran dua cecunguk itu. Cuma ada Tasya dan Acha."

"Apa mungkin yang kemarin nguping obrolan kita di kantin rumah sakit itu mata-mata dari mereka?" tanya Daffa membuat semuanya mulai berpikir sejenak.

"Bisa jadi sih, tapi gue bener-bener penasaran kemana mereka pergi." jawab Bayu membuat semuanya mendesah lelah karena tidak mendapatkan jawaban apa-apa.

"Sebenernya dari kemarin gue udah mau ngomongin hal ini-"

"Hal apa?" ucap Yusuf cepat dengan memotong kalimat Charlie.

"Gue sebenernya tau di mana Vickram dan Akbar."

"Kok lo bisa tau?" tanya Embun heran.

"Anak buah bokap gue udah nyelidikin dan nyari identitas asli Vickram…" ada jeda dikalimatnya, membuat mereka semua yang ada di sana bertanya-tanya ada apa sebenarnya.

Charlie mengeluarkan ponselnya yang menampilkan salinan softcopy identitas asli Vickram Rathore.

"What the!" seru Moza kesal dengan apa yang dia baca dari ponsel milik Charlie.

"Astagfirullah!" tambah Jaylani dengan mimik wajah terkejut.

"Lo yakin kalau ini Vickram yang kita cari?" tanya Embun memastikan, membuat Charlie kembali mengambil ponselnya dan mulai mencari lagi beberapa bukti lalu kembali menunjukkannya kepada temannya.

"Itu salinan yang ada fotonya. Awalnya gue sama ngga percayanya kayak kalian. Tapi setelah dikasih salinan beserta gambar, gue ngga tau lagi harus apa."

The Twins [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang