19. Galau?

610 31 0
                                        

🍂🍂🍂
.
.
.
.
Happy Reading

Darah yang keluar dari hidung Rissa tak juga berhenti. Membuat Rissa merasa sesak dan sakit tentunya. Bijum yang membantu Rissa pun kini mulai panik, wajah Rissa memucat dan sudah tak sanggup lagi untuk berdiri.

Bijum meraih handphone disaku daster nya, lalu menelepon Siska Bunda nya. "Bu, Neng Rissa mimisan lagi."
"Buruan bawa ke rumah Sakit bi!!" Suara Siska mulai tak tenang.
Tanpa membuang waktu Bijum langsung memanggil Pak Eno, supir pribadi keluarga Rissa.

Didalam mobil Rissa hanya diam menahan rasa Sakit dikepala dan darah yang keluar dari hidung nya pun semakin banyak.
"Neng, yang kuat ya!" Bijum terisak dalam diam.
Tangan nya masih setia mengganti kain demi kain yang penuh dengan darah.

Rissa memejamkan mata. Diri nya sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit ini. Kemudian Rissa tak sadarkan diri, membuat Bijum resah sendiri.

"Pak Eno cepet!" teriak Bijum.

Pak Eno menambah kecepatan mobil nya, dengan perasaan tak menentu.

Ternyata Siska sudah sampai disana lebih dulu dengan suster disamping nya.
Mobil tepat berhenti didepan Siska.
Pak Eno langsung membopong Rissa keluar dan dibaring kan di brankar pasien. Dengan segera didorong kedalam rumah sakit. Rissa dimasukan kedalam ruang UGD.

Air mata Siska mengalir deras, apakah penyakit yang ada didalam tubuh anak nya bisa sembuh? Siska tidak ingin melihat Rissa seperti itu lagi. Walau Rissa selalu bersikap seolah-olah tidak merasa sakit, tapi dia tau sebenarnya itu terasa sangat menyakitkan. Rissa yang selalu meyakinkan diri nya supaya tidak perlu khawatir.
Itulah Rissa. Yang tidak ingin dikhawatirkan oleh siapa pun.

Siska mencoba untuk tenang dan segera menghubungi Aldan.
Tanpa basa-basi lagi, "Al, Rana dibawa ke Rumah Sakit lagi."
"kamu nggak usah khawatir, udah ada Bunda disini. Jaga diri kamu baik-baik, doa-in aja."
Siska memutuskan sambungan nya.

"Bi, tungguin dulu ya. Saya mau beli dulu makanan."
Bijum hanya mengangguk.

****

Pukul 02.00 dini hari.

Sudah 1 jam lebih dokter belum juga keluar dari Ruang UGD. Membuat kecemasan tersirat di wajah dari Siska, Bijum dan Eno.
Tidak ada yang terlelap sama sekali.

Krekk....
Pintu ruangan terbuka.

"Bagaimana keadaan anak saya dok?"
"Untuk saat ini harus dilakukan kemoterapi." Jawab Dokter Beni, yang selama ini merawat Rissa.
"Lakukan apa aja yang bikin anak saya sembuh." Tegas Siska menatap Dokter Beni penuh harap.

Dokter Beni mengangguk lalu menepuk pundak Siska pelan, " Rana anak kuat, jangan terlalu khawatir. Lebih baik Kamu pulang dan persiapkan segala keperluan Rana. Mungkin Rana harus dirawat untuk beberapa hari." Dokter Beni tersenyum hangat kepada Siska lalu berlalu pergi.

Siska menelepon Tio, Papih Rissa.
"Pih, Rana harus dirawat dirumah sakit."

"Papih, hati-hati!"

"Iya."

Siska menutup panggilan nya.

"Bi, pak. Mendingan kita pulang aja." Ujar Siska.
Bijum dan pak Eno mengangguk lantas segera berdiri. Mereka meninggalkan rumah sakit.

****

Varo menatap handpone nya yang diam saja tak berdering sama sekali. Dia sedang menunggu kabar dari seseorang, Rissa lebih tepatnya. Dari kemarin sore, Rissa sama sekali tidak menghubungi nya. Handpone nya mati, ntah apa yang membuat Rissa sampai mematikan handpone nya.
Sudah ratusan kali Varo mencoba menghubungi nya.

1001  [COMPLETED]  +Revisi+Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang