Rissa Pov...
Gue bodoh! kenapa bisa nggak sadar kalau saat ini keadaan keluarga gue sendiri retak. Gue nggak ada disaat Bunda lagi butuh dan sama sekali nggak tau kalo akhir-akhir ini Papih sama Bunda udah pisah ranjang. Tapi, hal yang enggak pernah gue sangka adalah Papih tega pernah bawa perempuan lain ke rumah. Gue nggak pernah tau semua perkara yang menimpa keluarga gue.
Kenapa selama ini Bunda nggak pernah cerita sama gue? jadi gue adalah orang terakhir yang tau masalah ini?
Prang...
Suara kaca terdengar nyaring dari luar.
Sebelum nya, gue sempat mendengar suara mobil Papih, gue yakin papih baru aja pulang dan sekarang sedang terjadi sesuatu diluar dan itu pasti ada kaitannya dengan bunyi tadi.
Perasaan gue sekarang campur aduk.
Lalu gue berjalan mendekati pintu. gue pengen melihat dengan mata kepala gue sendiri apa yang sedang terjadi sebenarnya. Perlahan tapi pasti gue buka pintu kamar.
Gue turun kebawah karena kamar gue itu berada di lantai 2. Dan yapz, tebakan gue tadi 100% benar! Papih lagi marahin Bunda di ruang TV.
"Bunda cape pih," Bunda nangis, ngeliat Bunda nangis sontak gue jadi ikut sedih.
"Kamu egois Pih, nggak pernah mikirin perasaan Bunda."
"Bunda tau semua nya."
"Kamu itu nggak tau apa-apa Siska!" Teriak Papih.
Gue liat Bunda terduduk dilantai. "Bunda tau pih, papih selama ini selingkuh kan?"
"Iya, aku selingkuh! kenapa? masalah buat kamu?" Gue tertegun mencerna apa yang dikatakan papih, jadi semua nya bener. Gue coba untuk nggak nangis, walaupun hati gue saat ini udah benar-benar lelah.
"Papih boleh selingkuh, tapi please jangan bawa dia kerumah ini." Lirih Bunda gue. Kenapa Bunda bilang gitu si, Rissa tau pasti Bunda sakit hati. "Itu hak aku Sis, buat bawa dia kemana aja karena dia itu pacar aku. Dan kamu nggak punya hak buat ngelarang aku!" Tukas Papih.
"Tapi Risaa pih, Rissa." Teriak Bunda. "Aku yakin Rissa bakal terima dia sebagai ibu baru nya."
Tunggu Ibu baru, berarti papih mau nikah lagi?
Bunda menggeleng, "Kamu nggak tau gimana perasaan Rissa."
"Sayang nya, kalian emang nggak ada yang tau gimana perasaan Rissa." Gue menghela nafas lelah.
"Udah berantem nya, udah." ucap gue tiba-tiba sembari menatap bonyok gue.
"Papih jahat?!" kedua nya tidak ada yang menjawab. Hanya terdengar isakan kecil dari Bunda.
Bunda mengangkat kepala nya, memegang tangan gue. Sontak gue pun menatap Bunda. Bunda menggeleng seolah mengisyaratkan untuk jangan bersikap seperti itu, namun gue hanya membalas nya dengan senyuman.
"Pih, Papih tau nggak kalo aku itu punya penyakit? Leukimia? papih nggak tau kan? yang papih tau aku cuman sering mimisan biasa karena kelelahan aja."
Papih diem, mungkin memberi kesempatan gue ngomong.
"Papih juga nggak tau kan, kalo Bunda sering nangis saking lelah fisik dan hati nya? Kenapa Papih tega-tega nya nyakitin Bunda si? Papih boleh sakitin aku, tapi please jangan sakitin Bunda." air mata gue seketika lolos.
"Berani nya kamu!"
Plakk..
"Aws," Gue nggak nyangka papih tega nampar gue yang notabene nya anak kandung dia sendiri.
"Pih, jangan sakitin Rissa!" Teriak Bunda Histeris. Jujur gue udah nggak sanggup lagi. Ada rasa kecewa menyelimuti gue, rasa sedih yang mungkin nggak bisa gue ungkapin ke siapa pun. Hati gue lelah.
"Bunda jangan nangis, liat Rissa nggak kenapa-napa kok." Ujar gue memeluk Bunda. Papih kemana? ntah lah, seperti nya dia langsung pergi gatau kemana. Yang jelas gue udah nggak peduli lagi.
"Bunda tau kan, Rissa sayang sama Bunda."
"Bunda tidur ya! Jangan terlalu dipikirin."
Bunda hanya ngangguk lalu berdiri dengan susah payah. Gue mapah dulu Bunda ke kamar kemudian memastikan Bunda tidur. Gue langsung lari ke kamar.
Setelah itu gue tutup pintu nya, dan pada akhirnya gue nggak bisa nahan lagi air mata gue. "Kenapa harus kaya gini." hiks.. hiks.. hiks..
**_**
"Hoamm," "mata gue kok susah melek si."
Gue jalan menyusuri tembok, mendekati Kaca. "Tuh kan mata nya sembab." rutuk gue, mungkin karena efek semalem gue terus-terusan nangis. "Gimana ya?" gumam gue.
"Udah lah gue bolos aja, malu-maluin juga kalo gue nekat berangkat ke sekolah." Gue berniat tidur lagi, tapi tertunda, gue keinget bunda. Bagaimana keaadaannya sekarang? apa sudah lebih tenang? Pikir gue.
Gue segera ke toilet untuk cuci muka, sama sikat gigi aja biar keliatan seger-an dikit. Lalu langsung turun kebawah menuju kamar bunda. "Bi?" Bijum nengok ke arah gue. "Kenapa non?"
"Buatin dua gelas susu sama roti sekalian, ya Bi!"
Bijum mengangguk lalu berlalu pergi.
Gue menghela nafas dalam-dalam.
Gue ketuk pintu kamar. "Masuk Riss!"
Terdengar suara Bunda. Wow, kesan pertama gue ketika masuk kamar Bunda yaitu berantakan dan gelap. "Bunda semalem-an nggak tidur?" Tanya gue mendekati Bunda yang meringkuk diujung ranjang dengan penampilan yang tidak bisa dideskripsikan.
Bunda hanya menggeleng, enggan melihat kearah gue. Gue hanya tersenyum, lalu berjalan mendekati jendela. Akh, kaya nya Bunda harus lebih memerhatikan desain kamar nya.
Sangat tidak sesuai.
"Bunda Rissa bolos sekolah ya, hari ini aja. Janji deh! " pinta gue sambil membuka tirai kamar.
Tak ada sahutan ataupun respon dari Bunda. Gue melirik Bunda, posisi nya sama sekali tak berubah. "Bunda nanti sore ke rumah nenek yuk, Rissa kangen sama adek." Ajak gue, menghampiri Bunda lalu duduk didepan nya.
Bijum masuk kedalam membawa apa yang tadi gue minta dan langsung keluar lagi.
"Bunda sekarang sarapan dulu, terus tidur. Nanti sore Rissa bangunin." Bunda hanya mengangguk pasrah. Gue me-nyuapi Bunda. Bunda tersenyum lalu membuka mulut. Akh, akhirnya.
Bunda tertidur. Gue senyum lalu mengecup kening Bunda, "Rissa sayang Bunda."
Dengan perlahan gue berjalan keluar kamar lalu masuk kembali ke kamar gue.
Drtt.. Drtt..
Dania is calling.
"Mau ngapain sih tuh anak." kesal gue.
"Ya, hallo?"
"Lo nggak sekolah?"
"Enggak ah, males."
"Apa? males? sekarang kan kita ada test olahraga!"
"Gue ntar nyusul aja lah."
"Oh yaudah deh, ntar kalo ada apa-apa bilang."
"Ho'oh."
Sambungan berakhir.
Untuk mengisi kekosongan hari ini, gue mulai dengan merapihkan kamar. Dari mulai membuang sampah kertas sampai sampah plastik bekas makanan ringan yang berceceran. Sejorok itu kah gue?
Krett, ada sebuah kertas yang nggak sengaja kesobek. Gue mulai tertarik dengan isi nya. Kemudian gue buka kertas itu dengan hati-hati dan membaca nya.
Dan..
Netes lagi, gue cape. Tapi, pokoknya gue nggak boleh nangis. Gue pasti kuat.
Gue langsung meraih handphone dengan terburu-buru.
"Kak--"
Tbc 👉👇
KAMU SEDANG MEMBACA
1001 [COMPLETED] +Revisi+
Novela JuvenilMasa revisi. Gue nulis ini Untuk dia kakak senior gue. Sifat-nya benar-benar Gak bisa ditebak. Kadang dingin kadang juga bikin hangat. Tapi, dia selalu bikin kecewa entah itu tindakannya atau pikirannya. Semua yang di lakuin dia selalu salah di mata...
![1001 [COMPLETED] +Revisi+](https://img.wattpad.com/cover/161055497-64-k804535.jpg)