💜HappyReading💜
Mereka akan ke Indonesia menggunakan jet pribadi pada pukul 7 pagi waktu Jerman. Key sendiri menghembuskan nafas terakhirnya ada pukul 21.00 Waktu Jerman berarti di Indonesia sudah pukul 03 pagi. Jenazah Key sudah didalam Peti. Keadaan keluarga Galih sudah membaik, mereka merelakan Key pergi karena itu memang sudah takdir. Kini pukul 6 pagi. Keluarga Rissa ikut membantu mengurus ini itu. Karena memang tidak ada keluarga disini. Untung saja ada Siska yang mempunyai kerabat disini.
"Kak, Lo disana baik-baik ya. Gue nggak bakal ikut pulang. Siang ini gue harus operasi." Varo menatap Rissa ragu, "Lo nggak bakal ninggalin gue kan?"
"Enggak, gue janji sama lo." Ucap nya meyakinkan Varo. Rissa terus menemani Varo dari rumah sakit hingga dihotel. Ntah kenapa Rissa merasa Varo sangat membutuhkan diri nya. Bukan ge'er tapi ini kenyataan. Mereka menyantap makanan yang tadi diantarkan oleh Siska kesini. Seseorang masuk ke apartemen Varo dengam menggunakan baju serba hitam nya,
Rissa dan Varo memperhatikan pria itu seksama, "huhh." dengus Rissa sebal. "Lo ngapain disini Refal." Varo menatap Rissa minta penjelasan.
"Ini sepupu gue kak." Refal menyeringai mereka. "Ahh itu gue mau melayat lah Riss."
"Bukan ada maksud lain kan?"
"Ada tentu nya."
"Refal, sepupu Rissa yang menetap di Jerman karena keluarga gue disini semua." mengulurkan tangan, Varo menjabat uluran tangan Refal.
"Alvaro."
"Turut berduka cita bro." Varo mengangguk, lalu tersenyum kecil.
"Thanks."
Rissa memeriksa koper Varo, Refal tengah berbaring ditempat tidurnya, dan sesekali Refal dimarahi Rissa karena bertindak seenak nya.
Varo memerhatikan Rissa, persis seperti Bulan. Ia memang tidak salah pilih, memilih Rissa sebagai pengganti Bulan. Sesekali ia tersenyum melihat Rissa tersenyum.
"Cantik kan Sepupu gue?" Tanya Refal, yang ntah sejak kapan ia sudah berada disamping Varo. Varo mengangguk.
"Jelas keturunan Rana nggak bakal ada yang ngecewain."
"Tapi lo kaya nya ngecewain deh."
Refal membulatkan mata nya sempurna, "Hehh, lo nggak tau apa-apa tentang gue ya." protes nya menatap Varo sebal.
"Gila gak tuh, mantan pacar lo ngeremehin gue." Adu nya sambil menghampiri Rissa. Rissa hanya mendengus saja.
"Udah deh sana lo pulang aja. Nggak guna."
"Ohh gak guna, siapa yang nganter lo buat cari tau seling-"
"Awss" Ringis Refal menatap Rissa jengkel, "Iya iya gue nggak bakal lanjutin omongan gue."
"orang tua lo udah ada dibawah!"
Varo tersenyum, "Makasih ya!"
Rissa tersenyum sangat tulus, lalu memeluk Varo singkat.
"Yaelah, jangan depan gue napa."
"Sirik aje blo."
"Semoga operasi nya lancar, gue berharap banget sama lo Riss." Rissa mengangguk.
Varo mensejajarkan tinggi nya dengan Rissa, ia mengetuk-ngetuk kepala Rissa dengan 2 jari nya. Varo tersenyum sangat tulus, dan itu membuat kedua pipi Rissa memerah. "Makasih udah ada buat gue."
"Masama. Key bakal bahagia kalo liat lo bahagia."
"Kalo udah sampe Indonesia kabarin ya kak!"
"Iya,"
Varo melambaikan tangannya pada Rissa dan Refal. Begitu pun dengan Hanin dan Galih mereka tersenyum kepada kedua nya.
Mereka berpisah di Hotel.
"Yah, Bun. Aku nggak nyangka." lirih Varo membuka percakapan. Galih dan Hanin langsung menoleh bersamaan kearah Varo. Sorot mata Varo jelas ada raut kesedihan yang tak bisa ia keluar kan dengan air mata.
Hanin mengelus rambut Varo lembut, "Umur tidak ada yang tau sayang!"
"Itu yang terbaik buat Key." Varo menghela nafas lelah. Ia terdiam sebentar, Seperti nya ada yang tertinggal. Ia melihat barang bawaan nya. Lengkap tidak ada yang tertinggal. Tapi-
"Yah, Aster ketinggalan?!" Heboh Varo sambil menepuk-nepuk paha Galih.
"Ngomong apa sih Var,"
"Lah?"
"Aster di rumah sakit,"
"Ngapain?"
"Aster pingsan aja, jadi tante Siska yang nungguin di Rumah sakit." jelas Hanin, Varo hanya mengangguk.
"Kita sampe Indonesia jam berapa yah?"
"Jam 4 sore."
"Okeyy,"
Mereka kerumah sakit terlebih dahulu, menjemput Aster. Ketika melihat peti itu diangkat oleh petugas rumah sakit, Varo meneteskan lagi air mata, "Lo kuat Var." dia meyakinkan diri nya sendiri.
Aster dipapah oleh tante Siska. Peti itu dimasukan kedalam mobil mereka.
Varo memejamkan mata, mengatur nafas nya.
"Makasih Sis," Siska tersenyum hangat lalu memeluk Hanin sebentar.
"Iya, yang kuat ya!"
Mereka berpisah disini.
Jet pribadi mereka sudah lepas landas pukul 08.00, dan akan tiba di Indonesia pukul 4 sore.
Dalam perjalanan, mereka tertidur mengistirahatkan tubuh mereka. Hingga akhirnya mereka sudah sampai di Indonesia.
Mereka turun lebih dulu, Varo melihat sekeliling nya. Tidak ada tanda-tanda bahwa teman-teman nya datang menjemput. Ia menghela nafas gusar.
Mereka menunggu Jenazah Key didalam mobil. Galih mengenggam jemari Hanin. Aster sendiri melamun saja dari tadi. Varo menunduk sedih. Jenazah Key sudah dimasukan di bagasi mobil oleh orang suruhan Galih.
Mobil melesat cepat menuju rumah Varo, tak butuh waktu lama mereka sampai. Di jarak 5 meter dari Rumah nya, banyak sekali karangan Bunga dari teman-teman Galih dan Hanin. Mungkin sekitar 30-40 karangan Bunga.
Pemakaman berada didekat sungai sana. Jadi mereka menggunakan mobil untuk kesana. Teman-teman bisnis kedua orangtua nya sangat banyak, terlebih teman-teman Varo yang hampir semua menggunakan mobil sendiri-sendiri. Terlihat seperti sedang mengawal presiden. Sampai di pemakaman pun orang membludak ramai. Varo berdiri didekat Farhand dan Bulan. Teman-teman mereka dibelakang nya.
Varo memegang peti jenazah itu cukup lama, ia memejamkan mata dan berdoa untuk Key. Air mata nya mengalir begitu saja, "Gue harus ikhlasin lo Key."
Teman-teman nya ikut menangis, melihat Varo seperti itu. "Lo udah tutup buku kenangan kita Key," Varo juga tertawa hambar.
"Var-" Varo langsung menatap Hanin, untuk memberikan waktu sebentar saja. Farhand merangkul Varo iba. "Lo udah jadi yang terbaik dari yang terbaik buat gue. Lo udah berhasil bikin gue sesayang itu sama lo Key."
"Dan lo juga udah bikin gue, kecewa sama diri gue sendiri."
"Lo bahagia sekarang kan. Lo udah bebas sekarang. Ntah gue harus seneng apa sedih ngelepas lo."
"Terima kasih atas semua kenangan yang udah lo kasih buat gue, Keyrana Refanzia."
"Dan satu hal lagi yang harus lo tau, lo bakal selalu ada di hati gue sampai kapan pun!"
Ia mengusap peti itu lembut. Varo melirik Farhand, "Lo udah bikin gue berubah banyak, terimakasih."
"Lo udah jadi sahabat yang terbaik buat gue, Key."
"Gue nggak bakal lupain lo, sesuai janji lo sama gue waktu itu." Farhand tersenyum kecil.
"Terima kasih gadis kecil ku." Farhand berdiri disusul Varo.
Mereka sama-sama ditinggalkan oleh orang yang disayang nya.
Semua yang berada disana menatap Varo penuh iba.
Varo memejamkan mata melihat peti itu sudah tak bisa dilihat nya lagi. Sekarang tinggal gundukan tanah yang tersisa. Pemakaman telah selesai, tinggal beberapa orang lagi dipemakaman ini. Tinggal Keluarga Varo dan teman-teman nya saja.
Kuburan Key penuh sekali dengan Bunga, Varo mengusap batu nisan itu.
"Banyak yang sayang sama lo Key."
"Varo pulang sayang?!"
Varo mengangguk lemah, ia harus istirahat sekarang.
Mereka semua meninggalkan Pemakaman bersamaan dengan gelap yang sudah mulai menyapa.
TBC...
Makasih udah luangin waktu kalian buat baca cerita KSB.
Nggak kerasa udah diujung taun ya.
Tahun depan aku bakal rajin nulis buat kalian. Aminnn.
Makasih 10k nya ya.
Nggak nyangka sih bisa sampe 10k..
Terharu pokok nya..
Mari kita bersenang-senang di 2020 tentu nya dengan baca cerita aku ya 😍😍😍
Sekadar info, di 2020 semoga aku bakal bikin Cerita tentang Wendy+Vero. Naskah sedang dituliss. Tunggu ya..
Ini update an terakhir aku di 2019!!
Jadi see you guys di 2020.
Love you all..
Jangan lupa dukung cerita ini dengan
Vote nya ya!!
Ig: @dheaggttt_
Wp: DheaAnggita475
KAMU SEDANG MEMBACA
1001 [COMPLETED] +Revisi+
Teen FictionMasa revisi. Gue nulis ini Untuk dia kakak senior gue. Sifat-nya benar-benar Gak bisa ditebak. Kadang dingin kadang juga bikin hangat. Tapi, dia selalu bikin kecewa entah itu tindakannya atau pikirannya. Semua yang di lakuin dia selalu salah di mata...
![1001 [COMPLETED] +Revisi+](https://img.wattpad.com/cover/161055497-64-k804535.jpg)