Rizky mengajak Halimah untuk makan malam bersama keluarganya. Di meja makan sudah ada ayah, ibu, dan adik perempuannya. Rizky menggandeng tangan Halimah, ia dapat merasakan tangan Halimah yang sangat dingin.
Tak dapat dielakan tatapan mata ibu dan adiknya sangat tajam menatap mereka. Berbeda sekali dengan ayah mereka yang tersenyum hangat menyambut mereka.
"Ayo nak..sini kita makan sama-sama"
Rizky dan Halimah duduk di dekat ayahnya. Rizky mengambilkan piring untuk Halimah.
"Huuuhhh...gaya nya seperti nyonya besar"
Suara Rizka tersebut mengagetkan Halimah. Ia langsung menunduk.
"Rizka..kenapa kamu bicara seperti itu"
Tuan Bram menegur Rizka, Rizka hanya terdiam ketika ditegur oleh ayahnya.
"Halimah, makan yang banyak ya....ibu hamil harus sehat"
"Iya...Yah.."
Rizky terlihat sibuk mengambilkan lauk untuk Halimah. Sementara Nyonya Dewi tidak berucap sepatah kata pun, akan tetapi tatapannya cukup menyiratkan kebencian terhadap Halimah. Halimah merasa canggung, ia hanya bisa menunduk. Makanan yang ia makan menjadi tidak enak. Ingin rasanya ia berlari ke kamar. Tetapi ia tahu diri dan menghargai ayah mertuanya. Satu-satunya harapannya adalah acara makan ini cepat selesai.
"Halimah, di rumah ini kamu bukan menantu ayah tapi kamu adalah anak ayah, jadi anggaplah rumah ini seperti rumahmu juga, dan anggap kami seperti orang tua kandung mu"
"Huuhh..tak sudi aku kau anggap sebagai orang tua kandung mu"
"Ibu, kenapa ibu bicara seperti itu?"
Rizky terkejut mendengar perkataan ibunya, yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan pada Halimah.
"Bu, apa maksudmu mengatakan hal itu, aku tak pernah mengajarimu mengucapkan kata-kata seperti itu"
Tuan Bram terlihat marah pada istrinya. Nyonya Dewi menatap garang kepada suaminya.
"Ohhh..jadi kalian berdua bersekongkol untuk melawan aku, jangan harap aku dapat menerima ia menjadi menantu"
"Astagfirullah..Ibu...kenapa ibu seperti itu...apa yang salah dengan Halimah..."
"Satu kesalahannya, ia adalah wanita kampung yang tidak sederajat dengan kita"
Halimah yang mendengar perkataan ibu mertuanya ia merasa tak tahan lagi akhirnya berlari menuju kamar sambil menangis.
"Tega sekali ibu berkata seperti itu pada istriku"
Rizky berdiri dan mengejar istrinya. Ia harus menenangkan istrinya. Ketika ia memasuki kamar dilihatnya istrinya sedang meringkuk di ranjang sambil terisak. Ia mendekati istrinya dan mengusap punggungnya.
"Apa salahku Mas ? Apakah hanya karena aku berasal dari desa sehingga ibu menghina aku ?"
Rizky menghela nafas. Ia membawa Halimah ke dalam pelukannya.
"Gak ada yang salah denganmu Dek, mencintai mu bukan suatu kesalahan, hanya ibu perlu waktu untuk menyesuaikan diri untuk menerimamu"
"Aku hanya berpikir Mas, apakah aku sanggup bertahan dengan perlakuan ibu dan adikmu'
"Kamu wanita kuat Dek, kamu pasti bisa, kamu jangan khawatir aku dan ayah akan selalu menjagamu"
Halimah semakin terisak mendengar perkataan Rizky tersebut.
"Udah nangisnya, lebih baik kamu istirahat dulu, besok mau gak kamu mas ajak jalan-jalan"
"Mau Mas..."
Wajah Halimah seketika berbinar mendengar perkataan Rizky tersebut.
"Ya udah..kamu istirahat dulu, mas mau bongkar-bongkar laporan KKN kemarin besok mau dikumpul ke kampus, nanti abis dari kampus baru kita jalan-jalan. Kamu istirahat ya...ntar Mas nyusul"
Rizky mengecup kening istrinya, tak lupa ia mengelus perut istrinya. Halimah tersenyum dan memejamkan matanya. Ia tertidur dengan membawa berbagai perasaan yang menggumpal di dadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA GADIS DESA
RomanceHalimah hanyalah seorang gadis desa sederhana namun hidupnya berubah ketika ia bertemu Rizky seorang pemuda kota yang membuatnya jatuh cinta dan menyerahkan segalanya
