Chapter 37

21.4K 610 5
                                        

Rizky mengajak ayahnya untuk makan malam di rumahnya. Sekalian memperkenalkan pada mertuanya. Walaupun sudah berminggu-minggu pak Raharja tinggal di rumah Rizky tapi masih belum ada kesempatan untuk bertemu Bram.

Hal tersebut karena kesibukan Bram. Perihal keadaam Dewi, Bram tidak memberitahukannya kepada anak-anaknya. Cukuplah itu menjadi rahasia dalam hidupnya.

Pukul 7 malam Bram tiba di kediaman Rizky. Bram disambut oleh Rizky dengan pelukan. Bram sangat terharu melihat sambutan Rizky yang begitu hangat. Melihat wajah Rizky ia teringat mendiang istrinya, Arini.

"Mari Yah...kita langsung ke meja makan, sudah ditunggu kedatangannya"

Bram mengangguk sambil mengikuti Rizky. Sesampai di meja makan ia terkejut melihat sesorang yang dikenalnya di masa lalu, Pak Raharja.

"Raharja....kamu..."

"Ya, Bram ini aku..."

"Sudah lama kita tidak bertemu..."

"Ya, sudah puluhan tahun silam"

Rizky dan Halimah terheran-heran melihat kedua orang tua mereka.

"Kalian saling kenal ?"

" Ya, Rizky kami saling kenal, aku dan Raharja punya kenangan masa lalu yang tak dapat kami lupakan"

"Wahh...bolehkah kami tahu Yah..."

"Nantilah setelah makan ayah kalian pasti bercerita"

Ibu Aminah menengahi keheranan Rizky tersebut.

~

Setelah makan malam mereka berlima duduk di ruang keluarga, Rizky duduk berdampingan dengan Halimah. Sesekali ia mengelus perut istrinya. Kedua orang tua mereka tersenyum melihat tingkah laku Rizky tersebut.

"Yah, ceritain dong..."

"Emhhh....siapa nih yang mau cerita, aku atau kamu Raharja ? Tapi menurutku yang cocok menjelaskan kamu Raharja, ceritakan lah pada mereka apa yang sebenarnya terjadi dengan kita"

"Baiklah Bram, aku akan menceritakannya, Rizky...Halimah....sebenarnya aku dan Arini masih saudara sepupu jauh. Aku dulu bekerja di perkebunan milik orang tua Bram di desa tempat tinggal Arini. Walaupun kami sepupu jauh tapi kami sangat akrab, Arini sudah seperti adikku sendiri. Hingga kedatangan Bram ke desa itu rupanya membawa perubahan dalam hidup Arini, ia jatuh cinta pada Bram, dan perasaan cinta tersebut berbalas. Namun tahukah kalian ternyata Bram dan Arini sama-sama pemalu"

Bram tersenyum mendengar penuturan Pak Raharja.

"Karena keduanya sama-sama pemalu lalu akulah yang dimanfaatkan oleh mereka. Dengani imbalan rokok satu bungkus setiap harinya aku mau jadi tukang pos yang setiap hari mengantarkan surat mereka. Hingga suatu hari entah apa isi surat yang ditulis mereka, sehingga berhasil membuat mereka bertemu di pondok di pinggir kebun. Tentu saja hal itu dilakukan dengan sembunyi. Lagi-lagi aku mau saja dijadikan kambing congek oleh mereka"

Semua yang diruangan itu tertawa mendengar penuturan Pak Raharja.

"Kok ayah beda banget sama Mas Rizky ya...."

"Hustttt...jangan buka rahasia di sini Dek, malu aku"

" Emangnya bedanya apa Halimah..."

"Anu...itu yah...gak apa-apa.."

"Nahh..ini mau dilanjutin apa enggak nih ceritanya..."

"Mau Yah..."

"Arini orang yang polos, pada saat pertemuan mereka untuk ke sekian kalinya, aku dengan sabar menunggu mereka di balik semak-semak. Dapat kalian bayangkan aku menunggu orang yang berpacaran. Ketika aku sedang asyik tidur-tiduran, tiba-tiba Arini mengagetkanku, matanya merah setelah menangis. Aku tentu saja terkejut melihat keadaan Arini. Kulihat Bram juga terlihat bingung. Kutanyakan pada Arini mengapa ia menangis. Ia mengusap-usap pipinya, ia mengatakan Bram sudah mencium pipinya. Karena ia gadis desa yang sangat polos, ia menganggap jika seorang wanita ketika dicium pipinya oleh seorang laki-laki itu merupakan suatu ajakan untuk melanjutkan ke hubungan intim, tentu saja ia jadi takut ketika Bram mengecup pipinya"

Lagi-lagi tawa mereka berderai mendengar cerita tersebut.

" Sejak hari itu Arini tidak berani bertemu Bram, tentu saja akulah yang repot karena setiap hari Bram menyuruh aku mencari tahu keadaan Arini. Akhirnya Bram tak dapat menahan Rindu yang berkepanjangan, maka Bram memberanikan diri menemui orang tua Arini untuk melamarnya. Pernikahan Bram sangat sederhana, akulah orang sangat bahagia melihat mereka menikah. Karen aku tak akan direpotkan mereka lagi. Kemudian, beberapa waktu kemudian Arini diboyong ke kota. Sejak saat itu aku hilang kontak dengan mereka, pada waktu itu komunikasi tidak secanggih sekarang"

Bram mengangguk mendengar penuturan Pak Raharja tersebut.

" Namun, Bram...ada satu hal yang tidak kamu tahu. Setelah kepergianmu ke kota aku kedatangan orang yang bernama Hery, ia terus bertanya tentang kau dan Arini. Kukatakan bahwa kau dan Arini sudah menikah. Ia terlihat sangat marah, orang tersebut juga ditemani seorang perempuan muda yang bernama Dewi"

"Kedua orang itulah yang menjadi biang keladi permasalah yang ku hadapi, Raharja"

Mata Bram terlihat berkilat.

"Ma...maaf..Bram bukan maksudku untuk menyinggungmu"

"Ohhh...tidak Raharja, kau tak menyinggungku"

"Terima kasih Bram, sungguh aku sangat terkejut ketika mendengar Arini yang meninggal karena kecelakaaan, namun bodohnya aku, tidak pernah sekalipun menjenguk keluargamu. Hingga kedatangan Rizky ke desaku wajahnya mengingatkan ku pada Arini. Namun aku merasa ragu, karena yang kutahu kau saat itu belum di karuniai anak. Ternyata aku terlewatkan, kau ternyata sudah mempunyai putra. Jujur saja Bram....aku senang sekali kita berbesan"

"Ya, Raharja....aku pun begitu, kau sejak dulu sudah kuanggap sebagai saudara sendiri"

Mereka yang ada di ruangan tersebut tersenyum bahagia mendengar cerita yang disampaikan oleh orang tua mereka. Namun, berdasarkan cerita tersebut Bram mengetahui bahwa Hery dan Dewi sejak dulu mengincar keluarganya.

CINTA GADIS DESATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang