Chapter 38

20.3K 541 22
                                        

Demi untuk menghilangkan trauma pada Rizka. Bram menghubungi tantenya yang ada di luar negeri, kebetulan tantenya tersebut punya anak seorang psikolog kenamaan. Maka atas rundingan dengan keluarga Bram menitipkan Rizka kepada keluarga tantenya, agar Rizka dapat diterapi.

Menjelang hari keberangkatan Rizka, Rizky mengajaknya menginap di rumahnya. Malam itu mereka sekeluarga kumpul di ruang tamu. Rizka memeluk ayahnya, Bram tahu Rizka sangat sedih berpisah dengan mereka. Tapi ini untuk kebaikan Rizka dan masa depannya.

"Rizka, nanti kalau sudah di rumah Oma Tanty sering-sering ya hubungi ayah dan kakakmu"

"Iya Rizka...kakak berharap dengan kamu tinggal di rumah Oma Tanty kamu cepat sehatnya"

Rizka hanya bisa mengangguk. Namun air matanya mewakili perasaannya.

Halimah juga membelai rambut Rizka. Ia merasa kasihan melihat anak tersebut.

"Nanti kalau si kembar sudah lahir, kakak kirimi fotonya ya.."

Rizka tersenyum mendengar perkataan Halimah, ia memeluk kakak iparnya tersebut. Ada sedikit rasa sesak di dada ketika ia memeluk kakak iparnya. Ia teringat perlakuan jahatnya tempo hari. Ia akhirnya sadar kakak iparnya yang sering dihina nya sebagai orang kampung ternyata memiliki hati yang baik, dan mau memaafkannya.

Malam ini dihabiskan keluarga Bram bersama Rizka, karena esok hari Rizka akan berpisah dengan mereka.

"Mas aku mau ke kamar kecil dulu ya..."

Semakin besar usia kandungan Halimah, semakin sering ia buang air kecil.

Ketika Halimah selesai buang air kecil ia melewati bufet di dekat ruang tengah. Tiba-tiba handphone milik Rizky berbunyi. Ada nomor asing yang menghubunginya.Ia pun segera mengangkatnya.

"Halo....."

Tak ada sahutan.

"Halo, siapa ini ya..."

Hening, tak ada sahutan.

Halimah mematikan HP tersebut, ia menganggap hanya orang iseng yang salah nomer. Baru hendak melangkah tiba-tiba HP milik Rizky berbunyi lagi.

"Halo..."

Hening

"Halo...kamu siapa sih...?"

"Rizky sayang...aku kangen sama kamu"

DEG

Suara perempuan.

"Kamu siapa..?"

Tutt...tutttt...sambungan telpon dimatikan.

Halimah kaget mendengar si penelpon menyebut nama suaminya dan mengatakan sayang. Ada rasa cemburu dan marah di dadanya. Ada air mata yang hampir jatuh di matanya. Ia membawa HP Rizky tersebut. Ia akan mengkonfirmasi pada suaminya. Siapa wanita yang menelpon tersebut.

Tapi ketika sampai di ruang Tamu terlihat Rizky masih bercengkerama bahagia dengan keluarganya. Niatnya ia urungkan, ia tidak ingin merusak kebahagiaan Rizka, apalagi adiknya tersebut akan berangkat esok hari.

Ketika melihat Halimah yang berdiri mematung. Rizky segera memanggil Halimah.

"Dek...ngapain kamu di situ, sini duduk, capek lo...berdiri terus.."

Halimah mencari-cari kejanggalan dari sikap Rizky, namun tidak ada yang terlihat janggal. Rizky masih hangat seperti biasanya. Ia pun duduk bersandar di samping Rizky, ia mengingat-ingat apakah ada sikap Rizky yang berubah akhir-akhir ini. Halimah tidak menemukan cela pada Rizky.

Tapi, siapa perempuan yang menelpon tersebut. Ia masih penasaran. Apakah orang salah sambung, tapi kenapa orang tersebut menyebut nama suaminya. Beberapa pertanyaan berkecamuk dibenak Halimah.

"Dek...malah melamun..gak baik lo..."

Suaminya menegurnya, karena ia terlihat melamun.

"Gak papa mas...aku cuma ngantuk"

"Ya udah...Rizky kamu temanin istri kamu ke kamar, gak baik ibu hamil tidur terlalu malam"

"Iya yah..Yuk Dek...aku temenin"

Halimah mengangguk, ia tepiskan rasa penasaran akan telpon misterius tersebut. Ia berpikir positif, itu hanya penelpon iseng. Halimah tidak tahu, kalau telpon itu akan menjadi benalu pengganggu dalam hidupnya nanti..

CINTA GADIS DESATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang