Pagi terasa lama saat kamu bersamaku,
Pergimu yang selalu kutunggu, dan pulangmu yang selalu kurindu,
Ah, seperti mimpi saja bisa menjadi teman dan pacarmu,Dan, seperti ombak memecah karang,
Akukah itu?KREEET
Pintu ruangan yang memisahkan Bang Reno dan Alissa itu terbuka, menampikan seorang dokter yang terlihat sangat lelah akan perkerjaaannya itu. Cukup lama Ia memandang Reno yang memandangnya dengan penuh harap.
"Gimana, dok?" tanya Bang Reno.
"Kamu harus cepat membawa Alissa ke Jepang, tubuhnya sudah tidak cocok lagi dengan semua hal dan perawatan yang ada di rumah sakit ini, dan saya harap tidak lebih dari 2 bulan dari sekarang kamu sudah bisa membawanya pergi," kata Dokter itu sambil menepuk bahu Bang Reno, lalu meninggalkannya.
Bang Reno terpaku, Ia menatap pintu ruangan itu dengan nanar, hingga pada akhirnya Ia memutuskan untuk menengok adiknya yang terbaring lemah di banker rumah sakit.
Tak ada sapaan atau candaan yang dilontarkan keduanya, Alissa terus menutup matanya sementara pikiran Bang Reno terbang entah kemana.
"Yang aku takutkan cuman satu, Sa, aku takut kalo aku misahin kamu dari sumber kebahagiaan kamu,"
***
TING TONG
Bel pintu rumah Alissa berbunyi. Sepi. Tak ada siapapun didalamnya.
"Shit!" Dira mengumpat sambil berjalan kembali menuju motor hitamnya.
Ia benar-benar tidak tahu kemana Alissa dan keluarganya, anak buah papahnya sudah dikerahkan untuk mencari keberadaan Alissa tetapi tetap saja nihil.
"Sa, aku harus nyari kamu dimana lagi?" Dira duduk di motornya cukup lama, hingga Ia tersadar akan sesuatu yang berdering di saku celananya.
Rangga is calling...
"Hallo?"
"Dir, lo dimana?!"
"Rumahnya Alissa, kenapa lo?"
"Kita semua dikejar sama si Tompel! Lo kesini deh, gue shareloc,"
TUUT TUUT TUUUT
Panggilan telepon itu terputus secara sepihak, setelah di beri lokasi oleh Rangga, Dira segera melajukan motornya kencang kesana.
Di bukit? Itulah hal pertama yang membuat Dira bingung, kenapa harus sampai bukit.
Tapi tak lama, Ia melihat motor Dion yang terpakir di pinggir jalan, Dira menghentikan motornya dan berjalan mencari keberadaan Dion dan yang lainnya.
BUG!
Sebuah pukulan tepat mengenai tulang pipi Dira, Ia tersungkur mundur beberapa meter dari tempat berdirinya.
"Bangsat!" pekiknya pelan sambil mengelap darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
"Hi, Dira!" kata Tommy sambil tersenyum sok ramah pada Dira.
Dira memandangnya tidak suka, tatapan benci, lelah, amarah semua jadi satu di dalam matanya.
"Kok elo sendiri aja? Temen lo mana?" kata Tommy berbicara sok imut di pendengaran Dira yang membuatnya bergidik ngeri.
Karena Dira tak ingin membuang waktu, Ia dengan cepat menarik kerah baju Tommy dan melayangkan pukulan balasan padanya.
Berkali kali Dira melakukannya seolah Tommy adalah pelampiasan amarahnya, atau memang benar?

KAMU SEDANG MEMBACA
DIRALISSA
Romansa"Kalo aku bilang aku gak suka kamu berantem, kamu marah gak?" - Alissa ♡♡♡ Alissa Andira bertemu dengan Dira Alpha Imanuel, most wanted dan bad boy di sekolahnya, dimana mereka hidup di lingkungan, attitude dan cara ber...