9• Bara dalam dada

249 36 3
                                        

Everything's feel bad and blur lately
or that's just the reflection of my soul inside.

[]

Satu lagi hari kerja yang sibuk.

Elshe sedang melayani pembeli di kasir ketika aku menata barang-barang restock dari dalam kardus ke rak putih yang diangkat masuk oleh Robin. Lelaki itu keluar masuk dengan mengangkat kardus-kardus besar dibantu Jenar. Ketika pembeli sudah selesai melakukan aktivitas keberniagaannya Elshe memulai obrolan.

"Kenapa ya Venus sampai sejauh itu?" Mulainya.

Jenar yang juga berada di dalam dan mulai meneguk susu rasa pisang favoritnya itu menjawab. "Tuh anak pasti udah patah arah. Gak tahu lagi apa yang harus dia lakuin."

"Tapi ya ga gitu dong! Apalagi cuma soal cinta."

Jenar menggeleng. "Tergantung dari sudut mana dia mandang cinta itu gimana. Kalau Venus udah menggantungkan hidupnya di cinta, waktu cinta itu pergi. Ya hidupnya juga pergi. It's just that simple but in more complex way."

"Iya juga sih. Tapi tetep aja gak bisa gitu. Hidup itu terlalu berharga buat di akhiri gitu aja. Toh nantinya waktu kita bakal habis dan menghilang dengan sendirinya."

" Venus menyikapinya dengan ngelakuin sesuatu yang salah." Tambah Robin. "Harusnya dia lebih mencintai dirinya sendiri sebelum mencintai siapapun."

"Fatal." Jenar kembali bersuara. "But we never know what's really going on in her life."

Aku mengambil posisi agar obrolan ini berakhir. "Ya udah, yang penting kita doain aja yang terbaik buat Venus. Biar gimanapun dia juga teman kita."

Kupikir tidak sepatutnya membicarakan orang yang sudah beristirahat dengan tenang. Kemarin siang kami pergi melayat ke rumah Venus. Gadis itu teman sekelas kami saat SMP. Jujur, kami sama sekali tidak menyangka kalau usianya sependek ini. Venus adalah gadis yang lembut dan ceria. Siapa sangka ia memilih untuk mengakhiri hidupnya.

"Tadi ada yang lihat Rean gak di rumahnya Venus?" Tanya Robin. "Aku tadi lihat soalnya."

"Rean?" Ulang Jenar.

"Yang pingsan di sini kemarin itu kan?" Tanya Elshe.

Robin mengangguk sebagai jawaban. "Tapi dia sama Leon."

"Leon?" Tanya Elshe lagi. "Dasar ya tu bocah bajingan!"

Robin berdecak. "Sans dulu, belum selesai. Leon tadi narik kerahnya Rean. Ngejauh dari keramaian. Gatau kemana. Kayaknya mau berantem kaloe dilihat dari gerak-geriknya. "

"Serius?" Tanyaku.

"Mereka sama-sama anak renang kan ya." Tambah Jenar.

Dan aku mengangguk. Iya juga.

"Jangan terlalu dekat sama Rean!" Kata Jenar tiba-tiba.

"Kenapa?"

"Dia temennya Leon, gak menutup kemungkinan attitude mereka sama."

"Gak bisa gitu!" Bantah Robin.

"Diem!" Gertak Jenar. "Aku gak nganggap semua cowok sama. Lebih baik jaga-jaga."

Elshe ikut mengangguk. "Benar kata Jenar. Kamu harus lebih hati-hati, Scarlet. Jangan sampai Leon bajingan itu nyakitin kamu lagi."

Aku masih menyimak obrolan ini. Namun pikirank yang melayang jauh. Perihal apa yang mungkin terjadi diantara Rean dan Leon. Terlepas dari hubungan keduanya sebagai atlet renang.

WithinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang