Youth is the moment where you feeling alive most of all the time.
[]
Untuk beberapa hal yang tak begitu pasti, Januari adalah waktu terbaik. Ia tak pernah menjadi akhir, hanya awal yang membuka jalan untuk manusia memulai segalanya. Hujan cenderung deras dan matahari masih bisa bersinar. Ia menyerukan kedamaian dari embusan muson-muson di udara.
Kutarik napas panjang menghirup semua energi positif di alam. Orang bilang tarikan napas adalah kunci segalanya. Belum nampak keberadaan OSIS yang berjajar untuk mencari-cari kesalahan siswa lain. Wajar, jam masuk masih tiga puluh menit lagi. Sekolah dengan dominasi warna putih ini masih sepi. Hari pertama memang berbeda, tidak sabar segera makan makanan kantin dan berbincang dengan Bu Siti, si penjaga perpustakaan yang ternyata tidak segarang asumsiku.
Belakangan, hari berjalan begitu berat. Liburan dua mingguku malah semakin menambah penat. Hanya ada belajar untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Julius beberapa kali menawariku manggung dan kolaborasi untuk konten Youtubenya, sayang aku tidak bisa menyetujui itu atau ayah tak akan segan-segan membuang pianoku ketika mengetahuinya.
Setelah melakukan upacara singkat setiap siswa kembali ke kelas masing-masing. Sudah menjadi ritual wajibku bahwa di hari pertama masuk sekolah aku akan menatap lekat-lekat kelasku seolah hendak melukisnya. Sangat beruntung bisa menghabiskan tahun terakhir sekolahku di gedung lantai dua yang teduh dan dihadapkan oleh taman air mancur sekolah.
Ditambah lagi, tempat ini dekat dengan perpustakaan dan ruang musik. Ah, ruang musik. Menyebut namanya saja membawa kembali memori tak terenkripsi muncul ke permukaan. Sebagaimanapun aku tidak memikirnya, perasaan sesak selalu mengudara hingga membuat mataku menggenanh. Aku rindu semuanya, teman-teman, Bu Desti, aroma tenang melodi dari tiap alunan indah yang memanjakan.
Feels like there's something that i can proud of.
Bagai puzzle yang pernah begitu sempurna hingga beberapa kepingan mendadak hilang, tak tahu kemana. Lalu kacau dan rumpang. Tapi memang sempurna tak pernah ada. Ia hanya ilusi impulsif dan tidak manusiawi untuk mahkluk humanis. Kiranya itu yang dapat kugambarkan.
"Masuk!" Jenar menepuk bahuku sembari meminum sesuatu berwadah plastik yang dilubangi pada salah satu sisi di ujungnya. "Melankolis banget."
"Pagi-pagi udah nge-es."
"Bodo." hanya dalam beberapa detik es teh itu lenyap dan berakhir di tempat sampah.
"Sekarang udah boleh pakai plastik, ya?"
"Itu tadi hasil nyogok ibu kantin. Udah masuk juga, males minum di sono."
Kami masih rekan sebangku tentunya. Lagipula, meski sudah lebih banyak berinteraksi dan membuka diri pada yang lain, aku masihlah aku yang nyaman dalam hening. Tidak perlu banyak-banyak. Bagiku, relasi yang berkualitas jauh lebih penting daripada kuantitas.
"Pagi semuanya!" sapa seorang wanita berseragam khas guru dengan tubuh ramping dan kacamata cokelat berujung lancip, sembari memasuki kelas derap sepatunya terasa mengintimidasi.
"Saya yakin kalian sudah tahu Saya siapa. Tapi untuk lebih jelas, nama saya Farida, panggil saja Bu Ida. Basic saya matematika. Saya wali kelas kalian tahun ini, jadi mohon kerjasamanya dan belajarlah dengan keras, semester ini akan sangat menentukan kedepannya kalian mau kemana."
Dilihat dari cara bicara yang tidak memberi kami kesempatan untuk menjawab salam selamat pagi darinya, Bu Ida terkesan cukup mengerikan. Wanita berusia pertengahan tiga puluh itu sudah terkenal di penjuru sekolah akan kedisiplinan dan sikap tidak pandang bulunya. Ditambah ia adalah wakil kepala sekolah di bidang humas dan ketua PKS. Rekor yang mengesankan, mengingat ia masih cukup muda.
Jenar menyenggol lenganku, membuatku menoleh. "Tuh," gadis itu menunjuk pintu dengan dagunya.
Saat itu juga rasanya kenyamananku dengan kelas ini hancur hanya dalam beberapa menit.
"Kalian ada teman baru, ayo perkenalkan diri kamu!" seru wanita itu, diikuti seorang lelaki berkulit putih dengan mata sipit dan rambut hitam lurus yang tegak seolah menantang langit.
Langkahnya memasuki kelas diiringi seruan dari beberapa siswi, sementara lelaki dari kelas kami hanya menatap datar ke depan. Tidak ada yang istimewa dari murid pendatang baru itu, kecuali fakta bahwa dia adalah Leon.
"Ngapain dia di sini?" aduku pada Jenar.
Gadis di sampingku itu menatap lurus ke arah Leon dan berkata, "cari mati!" sembari menggariskan ibu jarinya di sekeliling leher bagian depan. Dapat kupastikan Leon melihat hal itu.
"Nama woy nama, disuruh kenalan juga lama amat!" seru Jenar yang mendapat persetujuan dari siswa laki-laki di kelas.
Namun belum sempat lelaki itu bersuara, suara derap langkah kaki yang amat keras mendekat dan memunculkan sesosok gadis di pintu masuk. Gadis yang sontak membuat sebagian besar dari kami mengangguk, wajah yang begitu identik. Mereka kembar. Aku sudah pernah mendengar tentang kembaran Leon beberapa kali. Kebanyakan bilang gadis ini amat kacau. Leon juga pernah berceletuk bahwa kembarannya itu berasal dari planet lain.
"Halo semuanya!" sapa gadis itu sumringah dengan melambaikan tangannya. Seolah kehadirannya sudah sangat dinantikan.
"Kamu, kenapa telat?"
"Kebelet tadi, Bu. Hahaha,"
"Apa?" wanita berwibawa itu mengerutkan alisnya dengan suara penuh tekanan.
"Maaf-maaf."
"Cepat perkenalkan diri kalian!" lanjutnya.
Bu Ida menaikkan suaranya beberapa oktaf akibat gadis dengan tampilan acak-acakan itu. Dia cantik dan sekilas mengingatkanku pada Jenar. Maksudku, mereka hampir mirip. Rambut berombak yang diikat asal dan gelang super banyak di kedua pergelangan tangannya. Ditambah lagi ada wireless earphone disatu sisi telinga bertindik hitam dan tas kecil yang hanya dicangklong pada bagian kiri.
"Lo dulu," kata gadis itu pada Leon.
Anehnya Leon yang tampak buruk di mataku mendadak jauh lebih baik jika dibandingkan saudaranya ini.
"Nama, Galeon, panggil aja Leon." begitulah perkenalan singkat yang makin membuat gadis-gadis terpikat. Katanya kau orang yang keren. Bahkan samar kudengar beberapa diantaranya sudah gila denganmu, Leon. Harus kuakui, kau memang keren.
"Yang lengkap elah, dengerin nih!" keluh gadis di depan itu pada saudaranya. "Gue Galea William Shakespeare, panggilnya boleh Lea atau Alea, asal jangan Gale aja. Kita dari sekolah sebelah dan sebelum banyak yang nanya ini-itu gue bakal bilang kalau kita kembar super identik dan bokap-nyokap suka Sastra Inggris."
Kurasa aku salah telah menyukai Januari. Mendadak senang-senangku padanya menguap, terkondensasi hingga beku dan jatuh. Karena pada bulan Januari ini aku mendapat firasat bahwa hal-hal akan berjalan semakin sulit. Ditambah lagi si kembar Lea dan Leon yang super enerjik sekaligus berisik bukan main, duduk tepat di depan bangkuku. Membuat seringkali terjadi kontak mata tak terhindarkan.
Anehnya di atas semua kejadian buruk yang menimpa, aku malah memikirkan satu nama yang kiranya membuatku penasaran sejak pagi. Sosoknya tak terlihat di penjuru sekolah. Tak ada di kantin, perpustakaan, GOR, bahkan saat upacara pun tak nampak batang hidungnya.
Satu hal yang membuat rasa penasaranku semakin tergerak, nyala ponsel Leon yang menandakan ada telepon masuk tepat beberapa detik sebelum bel pulang sekolah berbunyi. Ponsel hitam yang ada di atas meja itu menyala dan menampilkan nama yang kucari sejak pagi.
Anggrean.
Dahiku mengerut seolah memutar semua cerita Najwa. Rean, kemana lelaki yang berhasil merebut atensiku itu.
_____
KAMU SEDANG MEMBACA
Within
Teen FictionNamanya Scarlett. Dia bukanlah gadis yang akan muncul pertama kali di ingatanmu ketika kau mengenang masa lalu. Bukan yang jadi primadona. Tidak juga tipe yang bikin kamu kesal mengingatnya. Scarlett pendiam, tak memberi kesan apapun sehingga ia ham...
