Kehidupan memang tak pernah bisa ditebak. Ia akan memberimu beragam kejutan yang tak pernah kau duga. Tapi beberapa dari mereka juga memberi sesuatu yang bisa kau tebak. Untuk berada di posisimu saat ini, berhenti sejenak dan tengoklah kebelakang jika kau lupa, seberapa banyak yang kau korbankan untuk ini?
Kalau aku boleh menjawab. Aku sudah mengorbankan terlampau banyak. Ada mimpi, cinta, keluarga, argumen, pertemanan. Janji hanyalah kata, bukan rantai pengikat nan kokoh. Ia bisa diingkari dengan peluang begitu banyak. Omongan tak bisa dipegang.
Rak-rak buku tinggi yang ada di kanan dan kiriku terlihat begitu kokoh sekaligus cerdas. Mendadak untuk kehidupan selanjutnya aku ingin jadi rak buku yang tak mudah aus, menyimpan cakrawala lintas generasi. Melihat bumi seribu tahun lagi. Lalu aku tersenyum tersadar pikiranku sudah melanglang begitu jauh. Satu buku menarik perhatianku karena membuat pikiranku sejenak langsung beralih pada lelaki yang suku membaca buku ini. Novel Dunia Sophie dan raut muka Rean yang begiru serius kala membacanya. Bahkan alis lelaki itu bertaut.
Such a good old days.
"Scarlet!" Aku menoleh mendapati seseorang memanggil namaku.
Seorang lelaki tampan berkulit putih dengan tubuh semampainya. Ia melangkahkan kakinya untuk memangkas jarak diantara kami. Aku ingin menjauh darinya, tapi untuk kali ini tubuhku tak mau bergerak. Ada sedikit sesak tiap kali melihat wajah itu. Leon menarik napas perlahan sebelum akhirnya bicara. Ini pertama kalinya aku melihat ia ada di perpustakaan pada jam istirahat seperti ini.
"Bisa ngomong bentar?"
Aku mencoba mengalihkan pandangan darinya. "Harus banget?"
"Aku serius Scarlet!"
"Lo kira gue bercanda?"
"We don't have enough time."
"Sorry?"
"Don't you want to see Rean. Maybe, just maybe for the last one?"
Aku terhenyak, mencoba menerka maksud kata-katanya yang sulit itu. Tapi tak ada jawaban yang bisa kutemukan. Hanya kabar mengenai Rean yang pingsan di koridor hari itu yang muncul di pikiranku. Aku memang belum sempat menjenguknya karena Jenar dan Julius sedang panas-panasnya belakangan ini. Aku hanya tidak ingin memperburuk keadaan.
"I thought, perhaps he need you, Scarlet. You are close with him right, don't you feel something. He's not really good lately, everything becomes upset down around him."
"Rean kenapa?" Tanyaku pelan dan hati-hati.
"Dalam hal ini, aku gak punya hak buat ngasih tahu kamu. Tapi kalau bisa kamu datang saja, jenguk dia. I know, aku memang bukan teman yang baik buat Rean, tapi setidaknya aku gak ingin dia menderita lebih dari ini. Aku sudah begitu mempersulit hidupnya karena beberapa asumsi yang aku buat sendiri."
Satu hal yang membuatku jatuh cinta pada Leon adalah caranya mengatakan hal-hal. Jika Rean memiliki gaya yang ringan dan singkat dalam mengatakan sesuatu. Maka Leon adalah penjabarannya dengan penuh kestabilan.
"Even though, I need you too." Katanya di akhir pertemuan singkat kami.
-----
Aku mendapat tamparan telak dari wanita cantik yang selama ini menyanyangiku seperti anak sendiri, terutama setelah Venus pergi dari hidupnya. Tante Marisa tak pernah menyangka putri cantiknya yang lugu itu akan tega mengakhiri takdirnya sendiri. Venus punya begitu banyak ingin di hidupnya. Ia ingin menjadi penulis lagu yang hebat sejak kecil. Tiap kali ditanya kenapa tidak jadi penyanyinya saja, ia akan bilang bahwa ia tak suka jadi pusat perhatian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Within
Teen FictionNamanya Scarlett. Dia bukanlah gadis yang akan muncul pertama kali di ingatanmu ketika kau mengenang masa lalu. Bukan yang jadi primadona. Tidak juga tipe yang bikin kamu kesal mengingatnya. Scarlett pendiam, tak memberi kesan apapun sehingga ia ham...
