32• Squarelust

181 21 3
                                        

To be strong is to know
your limit and your capability.

[]

Hari ini aku bertemu dengan Tante Marisa. Ralat, aku yang mendatanginya, lagi, ketika wanita itu sedang berlari di taman kecil dekat kompleks tempat tinggalnya. Cuaca mendung membuat atmosfer murung yang ujungnya memunculkan sedikit rasa pesimis, bahwa hari ini akan menjadi kegagalan berikutnya.

"Tante,"

Wanita itu menoleh mendengar sapaku.

"Kamu! Mau apa lagi kamu? Ngapain kamu ngikutin saya terus?"

"Saya tidak mau ada kesalahpahaman di sini, Tante. Saya perlu mengkonfirmasi beberapa hal."

"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Semuanya sudah terlampau jelas. Akan lebih baik kalau kamu menyesal dan memberi saya ruang untuk sedikit menikmati hidup setelah kebahagiaan saya kamu renggut. Setidaknya kamu harus merasa empati."

"Gak, Tante. Kita harus bicara. Masalah ini sudah menyangkut kehidupan Venus, apa hal itu masih belum cukup untuk membuat perbincangan ini menjadi penting?"

"Kamu tahu itu! Justru karena topik ini amat sensitif dan menyangkut putri saya. Saya peringatkan kamu, jangan berani sebut nama putri saya dengan mulutmu itu!"

"Saya tidak mau ada kesalahpahaman di sini. Ini amat mengganggu saya dengan adanya orang yang berasumsi bahwa apa yang terjadi pada Venus adalah tanggung jawab saya. Demi Allah, Tante. Saya tidak terhubung dengan kasus ini."

Plak...

Satu tamparan keras mendarat tepat di pipiku sebelum aku dapat menyadarinya. Rasa panas di sana dengan cepat menjalar hingga membuatku meringis.

"Sudah salah tidak mau mengaku pula! Kurang ajar kamu Rean. Kamu pikit nyawa seseorang itu mainan?"

Aku tidak tahu dan sudah kehabisan kata-kata untuk membiarkan Tante Marisa mendengarku. Yang terjadi ini salah. Venus tidak seharusnya meninggal seperti itu. Dan aku tidak seharusnya disalahkan untuk persoalan yang bahkan aku tidak mengetahuinya hingga titik akhir tiba. Begitu pula untuk Tante Marisa dan suaminya, aku tahu kehilangan ini pasti menyisakan luka yang amat mendalam bagi mereka. Aku pun bisa menerka kalau di posisi mereka aku pasti benci setengah mati dengan bajingan yang namanya Rean ini.

"Sekali lagi kamu seperti ini, saya akan melaporkan kamu ke polisi. Untuk semua kebaikan yang sudah saya beri, manfaatkan itu baik-baik."

Tapi kenyataannya aku tak melakukan apapun seperti yang dikatakan Leon. Venus bahkan tidak mengungkapkan perasaannya padaku. Hingga saat ini pun kami masih sahabat. Sejauh yang kutahu Venus tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Gadis itu amat mencintai kesempatan untuk hidup yang diberikan padanya.

"Tante, atas dasar apa Anda begitu mempercayai Leon dan tidak mau mendengar dari sisi saya sedikit pun?"

"Kamu ini bodoh atau apa sebenarnya? Kamu pikir sendiri!"

"Tante, seandainya Anda ada waktu, tolong baca surat yang waktu itu Saya berikan. Ada beberapa hal juga di dalam amlop itu. Saya mohon."

Wanita itu benar-benar berlalu setelahnya. Wajahnya tampak mengeras, menahan lautan emosi. Satu tamparan bukanlah hal yang berarti baginya. Tapi bagiku, semua yang berlangsung seolah bergotong royong menghancurkan menara yang kubangun, menendang hingga aku terpelanting. Hancur.

Aku menghela napas keras, dadaku teramat sesak. Tidak pernah ada hal yang berjalan mudah untukku. Bahkan serapi apapun kusiapkan hidupku kedepannya. Aku akan selalu berjuang mati-matian untuk tetap hidup. Beban berat yang tak pernah usai.

WithinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang