"Scarlet!"
Suara itu sukses menghentikanku yang baru saja membeli beberapa bolpoin dan kertas folio dari koperasi siswa. Rupanya Fredi, lelaki itu nampak berkeringat dengan seragam olahraga sekolah sembari berjalan mendekat setelah aku menoleh.
"Temenin ke kopsis, dong!"
"Aduh, baru aja balik." jawabku singkat sambil tersenyum.
Aku ingin segera ke kelas dan mengerjakan tugas dari guru geografi yang berhalangan hadir. Jadi aku berbalik setelah mengatakannya, ketimbang berakhir meminta tanda tangan PKS, guru piket, dan wali kelas sebagai sanksi terlambat mengumpulkan tugas guru bertubuh tambun yang terkenal akan sikap disiplinnya itu.
Tapi suara Fredi kembali menghentikanku.
"Kamu pacaran ya sama Rean?"
Aku terperangah beberapa saat, "enggaklah. Emangnya kenapa?"
"Kalau gitu kamu harus hati-hati, cewek di kelasku pada kesal semua soalnya tuh anak gak pernah ada di kelas waktu istirahat,"
Aku mengerti, lelaki itu memang selalu bersamaku saat jam istirahat. Tapi memangnya apa yang salah dengan itu. Lagi pula kami hanya berteman.
Fredi menghela napas, "mereka pada suka sama Rean. Kakak kelas juga banyak yang sering ke kelas dari jaman masih murid baru dulu, nyariin dia."
Aku memang pernah memikirkan hal ini, tapi seiring berada di sampingnya selama beberapa lama, aku mulai lupa.
"Aku benar gak ada apa-apa kecuali teman, Fred. Kamu bilangin ya ke teman-teman kamu."
"Mereka mana percaya sama aku, emang Rean gak pernah dekat sama siapapun selama masuk SMA ini."
"Tapi biasanya aku sama Jenar, ada Julius juga."
"Rumornya jadi makin panas gara-gara kejadian di kantin waktu itu."
Bukannya aku tidak tahu, tapi setelah kejadian itu beberapa gadis kerap memberi tatapan tidak ramah padaku. Berbisik dengan rekannya setelah kami bersimpangan, bahkan ada juga yang terang-terangan menyedek bahuku.
"Kamu hati-hati aja, jangan bikin makin runyam."
Kata-kata itu sukses membuatku tidak fokus hingga jam istirahat pertama tiba.
Sudah dua bulan sejak aku mengundurkan diri dari ekstrakurikuler musik dan pekerjaan di minimarket. Waktu berjalan sangat lama, seperti aku sudah meninggalkan dua kegitan tercinta itu seratus tahun lalu. Mungkin aku hanya jenuh. Atau mungkin aku memang tidak pernah bisa melepaskannya.
Minggu depan ujian kenaikan kelas akan diselenggarakan. Aku sudah menyiapkan banyak hal untuk itu. Ternyata belajar benar-benar mudah sekaligus membosankan.
Aku berjalan gontai menuju perpustakaan dengan membawa tiga buku yang kupinjam minggu kemarin. Aku ingin mengembalikannya dan meminjam beberapa buku lagi. Di tengah perjalanan, tepatnya koridor dekat ruang osis aku berpapasan dengan Rean.
Aku menghela napas. Kenapa aku harus bertemu dia di saat seperti ini. Untung koridor ini sepi. Jadi kuharap tidak akan ada rumor yang terbit lagi.
Lelaki itu melambaikan tangannya padaku sebelum aku menyadari siapa dia.
"Oey!" sapanya.
Aku tersenyum membalasnya. Teringat bagaimana Rean terlihat begitu lemah hari itu. Hari dimana aku menemukannya hampir pingsan di toilet lelaki. Bangku yang saat itu kami duduki masih setia di tempatnya, seolah menunggu kami.
Rambut lelaki itu sudah lebih panjang, entah sudah berapa bulan ia tidak memotongnya. Rean juga tampak lebih tinggi dan kurus. Kami masih pergi ke kantin bersama tapi saat berdua seperti ini, hampir tidak pernah. Mungkin Rean tahu akan gosip itu, tapi ia berusaha tidak menanggapinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Within
Novela JuvenilNamanya Scarlett. Dia bukanlah gadis yang akan muncul pertama kali di ingatanmu ketika kau mengenang masa lalu. Bukan yang jadi primadona. Tidak juga tipe yang bikin kamu kesal mengingatnya. Scarlett pendiam, tak memberi kesan apapun sehingga ia ham...
