Anything happens without control,
against us, that's called fate.
[]
Senin, hari paling kubenci dalam sejarah. Hari dimana aku terpaksa melepaskan Sabtu dan Mingguku yang santai lalu kembali berkutat pada rutinitas harian memuakkan. Begitu sampai di sekolah aku sangat ingin pulang atau paling tidak membolos kemana saja terserah.
Pada dasarnya aku orang yang suka belajar. Mengetahui sesuatu yang baru selalu menarik rasa hausku pada ilmu pengetahuan. Bahkan aku merasa belajar bukan kewajiban lagi, tetapi kegiatan ini telah menduduki jajaran top five hobiku. Namun tidak bisa dipungkiri kadang rasa malas mendera begitu akut. Bukan pada belajarnya tetapi pada sekolahnya.
"Madol yuk!" Kataku.
Julius masih fokus kepada novel yang ia baca untuk sarapannya tanpa menghiraukan ajakan madolku. Lelaki itu pecinta sastra dan musik. Ia penggemar berat tulisan Sapardi Djoko Damono, Rupi Kaur, dan William Shakespeare. Tulisan elok yang kental dengan drama lembut mendayu.
Aneh untuk mengakuinya tapi Julius adalah orang yang lembut dan puitis. Namun lelaki itu lebih sering menunjukkan sisi dinginnya. Julius sering menulis lagu dengan lirik sastrawi yang sulit dipahami dan melodi indie lembut. Dibawakan dengan iringan gitar akustik komposisinya sendiri.
Upacara hari ini terlampau lama. Sialnya aku berdiri di barisan paling depa menghadap ke arah timur saat matahari bersinar terang-terangnya. Pidato kepala sekolah yang entah kenapa pada mulanya membahas cara belajar yang baik, bahaya gadget, peningkatan iman serta taqwa, namun sekarang malah merambat ke kasus-kasus pelanggaran HAM dan pilpres.
Kakiku pegal menunggu, bahkan ini masih baru separuh dari prosesi lengkapnya. Tapi aku merasa sudah tidak mampu lagi. Selain kebisingan, hal yang sangat kubenci adalah panas matahari. Setiap kali aku melihat sinarnya kepalaku mendadak pusing. Dan sekarang aku sudah melihat sinar itu selama hampir satu jam. Sebuah pencapaian yang hebat untukku. Aku menggerakkan kaki asal, ke depan-belakang, kanan-kiri.
"Ngapain anjir nendang-nendang?" Protes Julius.
"Lama banget gila. Kaki gue sakit dari kemarin lusa. Pusing gue denger pidato gitu-gitu mulu. Apa esensinya ngomongin semua materi pidato?" Protesku.
Dari samping sebelah kanan terdengar suara kikikan Bobi. "Alasan mulu perasaan."
"Makanya jangan pakai perasaan." Aku menolehkan kepalaku ke belakang. Ada Fredi di barisan paling belakang. "Fred! Woy!"
Lelaki itu menunjukkan wajah blanknya. "Apaan?"
Aku segera balik kanan dan mundur. "Tuker cepetan. Pusing gue."
Lelaki itu dengan berat hati akhirnya mau menggantikan posisiku di barisan depan.
Untuk beberapa menit aku bisa bernapas dengan tenang. Namun tidak setelahnya. Kakiku kembali berulah. Akupun tidak mengerti kenapa. Tapi demi apapun rasanya nyeri. Aku terduduk mengikuti kakiku. Lalu beberapa detik setelahnya seorang petugas PKS mendatangiku dan menarikku ke belakang.
"Dari tadi Bapak perhatikan kamu tidak bisa diam."
"Maaf Pak. Saya gak enak badan hari ini. Saya janji tidak akan mengulangi lagi."
"Ya sudah duduk dulu di situ."
Setelahnya pria berkumis tebal itu pergi. Aku menghela napas lega. Untung gak disuruh pindah ke depan tiang bendera dan jadi tontonan warga sekolah.
-----
Pelajaran pertama kali ini adalah PPKN. Agendanya presentasi. Kelompokku mendapatkan giliran terakhir. Awalnya kupikir itu menguntungkan. Sehingga aku mengoordinasikan teman sekelompokku untuk bersiap melakukan presentasi. Karena aku yang mengerjakan semuanya. Mereka tidak akan tahu apa yang harus dilakukan dan tidak punya inisiatif untuk bertanya atau mengetahui materi jika tidak kuberi tahu. Berat sekali mendapatkan anggota kelompok seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Within
Teen FictionNamanya Scarlett. Dia bukanlah gadis yang akan muncul pertama kali di ingatanmu ketika kau mengenang masa lalu. Bukan yang jadi primadona. Tidak juga tipe yang bikin kamu kesal mengingatnya. Scarlett pendiam, tak memberi kesan apapun sehingga ia ham...
