5• Takdir yang dihadapi darah muda

284 40 6
                                        

I lost my mind,
trying to understand yours.

[]

Di koridor sekolah yang belum terlalu sepi itu, Rean menghentikan langkahnya.

Aku tidak pernah berpikir hal mendesak apa yang harus dia bicarakan padaku hingga kami pergi sejauh ini dari ruang musik. Dia bisa saja mengatakannya tadi, di sampingku hanya ada Julius. Lagipula Julius adalah teman dekatnya. Dan kupikir kami tidak cukup dekat untuk memiliki sesuatu yang tidak boleh diketahui orang lain.

"Ada apa?" Tanyaku.

"Jadi gini," Lelaki itu mengambil jeda cukup lama.

Hingga aku hanya bisa mendengar suara napasnya yang tenang namun berhati-hati. Tidak ada suara apapun selama ia terdiam. Hanya suara samar langkah siswa-siswi yang berseliweran. Oke, ini sudah cukup lama, pikirku.

"Kenapa?"

"Sebentar,"

"Aku harus latihan."

"Tadi bokap lo datang ke sini."

Aku mengernyit, ayah adalah orang yang selalu sibuk. Ia bahkan tidak pernah datang memenuhi undangan wali murid untuk menerima rapor. Aku bahkan ragu kalau ayah tahu sekolahku. Lalu untuk apa ia ke sini? Kenapa Rean mengetahuinya?

"Dia marah-marah di gerbang depan. Bilang pengen jemput lo suruh pulang sekarang juga, tapi ditahan satpam karena bikin keributan."

Aku bingung harus bagaimana. Jika ini berkaitan dengan masalah yang terjadi di keluargaku akhir-akhir ini, aku tidak mau dengar. "Mana mungkin ayah gitu?"

"Gue belum pernah ketemu sama bokap lo, tapi tadi dia bilang sendiri ke satpam."

Aku melangkahkan kaki pergi. Setidaknya aku harus memastikan kebenarannya, meskipun aku tidak berharap ini nyata. Apa sesuatu yang lebih buruk terjadi? Aku kehilangan akal memikirkannya. Namun ada tangan yang mencegahku beranjak dari sana.

"Dia udah balik." Kata Rean.

Aku menghentakkan tangan agar terlepas dari genggamannya. "Kenapa gak bilang dari tadi?"

Aku mencoba untuk pergi, namun Rean menghalangiku lagi.

"Dia udah pergi."

"Lepasin! Aku mau pulang."

"Lo lagi ada masalah? Nyokap sama kakak lo tadi juga ikut ke sini, di mobil yang lain."

Benar saja dugaanku.

"Kalau emang lagi ada masalah lo bisa bilang ke gue. Gue pasti bakal bantu." Katanya lembut, namun entah kenapa membuatku terpelatuk.

"Tahu apa kamu soal keluargaku? Gak usah ikut campur dan sok tahu. Ini bukan ranahmu lagi."

Aku memang pendiam, tapi bukan berarti aku lemah. Banyak orang mengatakan kalau aku adalah pengendali emosi yang baik, batinku tertawa, orang-orang itu tidak mengerti betapa sulitnya ini. Emosiku seringkali meledak-ledak, terutama hal yang berkaitan dengan keluarga. Aku tidak suka mendengar sesuatu tentang keluargaku dari mulut orang lain.

WithinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang