25• Sebuah kisah asing

163 27 0
                                        

Rumah kembali hidup kali ini.

Ibu dan Violet pulang setelah cukup lama tak menginjakkan kaki di sini. Entah apa yang dilakukan ayah, tapi sepertinya itu adalah hal yang cukup berisiko. Aku dan Violet sudah sepakat untuk tidak mencampuri hal itu, keduanya telah saling mengenal sekaligus memutuskan hidup bersama sebelum adanya kami.

"Ayo makan dulu."

Ibu menyiapkan banyak menu untuk sarapan. Ada perkedel kentang, sayur daun singkong, rempeyek, sambal terasi, dan ikan asin. Masakan rumahan yang sangat kurindukan. Aku menyantapnya lahap sekali sampai lupa sudah habis berapa centong nasi dan hampir saja terlambat ke sekolah.

Hari ini adalah hari bebas terakhir. Besok sudah pembagian rapor yang harus dihadiri orang tua. Teman sekelasku memutuskan untuk menonton film percintaan ringan remaja demi memutus kebosanan.

Gadis yang duduk dengan memainkan rambut itu menyenggol lenganku di tengah adegan dimana tokoh lelaki utamanya sedang menjalankan hukuman. "Mirip Rean ya," katanya. "bad but sweet."

Tubuhku membentuk refleks cepat dengan kemunculan kerutan pada dahiku. "Rean emang nakal? Kek gitu nakal?"

"Ye, lo gak tau aja waktu dia masih jaman SMP. Beuh, minta digosipin mulu tiap gerak-geriknya."

Tiba-tiba saja seluruh atensiku beralih pada Najwa. Perempuan yang ternyata telah mengenal Rean cukup lama. Setidaknya lebih lama dariku

"Tukang gelud gitu?"

"Aduh, itu sih lewat. Anak geng dia dulu."

"Geng apaan, Wa? Anak punk?"

"Gak lah. Geng itu, balapan, anak motor."

Aku hampir tertawa. "Kayak Dilan?"

"Iya kayak Dilan."

"Yang bener aja kamu, Wa?"

Najwa memfokuskan pandangannya padaku. Sepertinya ia merasa cukup terabaikan karena aku hanya menanggapi ucapannya dengan tawa renyah. Jujur saja semua peryataannya seperti fiktif belaka yang terdengar begitu bagus.

"Lo lagi dekat sama dia kan? Nih gue kasih tau ya. Si Rean dulu tuh bad boy parah. Dia sering ikut balapan liar sama nangkring di bengkel dekat sekolah. Gak jelas lah. Ngerjain motor modifikasi gitu pokoknya. Aneh."

Aku diam seolah memintanya melanjutkan.

"Hampir tiap hari telat. Semua guru sampai hapal sama dia. Pernah tuh kaca lab. komputer pecah sama ada satu komputer yang rusak, gara-gara dia main bola pas jam sholat dhuhur. Auto dihukum dong dia. Udah gak ibadah, bikin onar lagi. Geger banget waktu itu."

Aku menyimaknya. Menimbang bagaimana Rean sekarang rasanya itu hampir mustahil. Rean si pemegang peringkat paralel dan atlet kebanggaan sekolah itu mantan mafia SMP.

"Tapi dia belum pernah pacaran. Eh pernah sih, sekali doang kayaknya."

"Iyalah, nakal begitu. Siapa yang mau."

Najwa menggeleng.

"Asal tau aja ya. Yang ngejar dia banyak. Tapi semua cewek yang suka sama Rean akhirnya jadi pacar temen deketnya waktu itu. Namanya Leon. Sama-sama anak renang juga. Lagian cewek kebanyakan suka sama cowok yang menantang."

Jantungku seolah berhenti mendengar nama itu kembali disebut.

"Leon?" ucapku membeo setelah terdiam beberapa detik.

"Iya Leon. Lo kenal? Ganteng juga kan anaknya?"

"Itu segengnya Rean?"

"Setahu gue, mereka berdua yang paling akrab di gengnya. Si Rean gak mau pacaran padahal banyak yang antri, tapi Leon playboy."

WithinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang