She numb herself so she would never feel a thing.
But he fell in love with her twisted dreams.
And all in between, yeah he still sing.
--Bebe Rexha--
[]
Hari yang telah dipersiapkan dengan mantap oleh Jenar akhirnya tiba.
Jenar sudah berangkat sejak pagi buta. Lalu beberapa jam setelahnya, ketika matahari sudah terbit dan terang, aku, Elshe, Robin, dan Julius berangkat menuju ke tempat Jenar berkompetisi. Suatu kota yang terletak di dataran tinggi nan sejuk, Malang. Kami sudah duduk di bangku yang disediakan sambil memakan beberapa camilan. Tapi Robin belum bergabung dengan kami. Lelaki itu bilang akan menyusul ketika kami masih di tempat penjualan camilan.
Elshe mengeratkan hoodie yang digunakannya berharap mendapatkan kehangatan lebih. Ia menggosokkan kedua telapak tangannya beberapa kali, bahkan cukup sering. Gadis itu memang tidak tahan dengan hawa dingin.
"Dingiiin," katanya dengan suara bergetar. "gimana orang sini bisa mandi pagi ya kalau tiap hari sedingin ini."
Aku mengarahkan pandangan ke kiri, berusaha berpikir. "Mereka udah biasa dong."
"Kayaknya baju aku kurang tebal deh," ia menggosokkan telapak tangannya lagi. "kalian gak kedinginan?"
"Gak terlalu." Jawab Julius.
"Lumayan kok. Emang di dataran tinggi, jadi wajar kan."
"Belum mulai kan?" Tanya Robin dengan napas memburu.
Lelaki itu tampak lelah. Ia memegang dua kantung plastik putih di tangannya. Diletakkan salah satu kantung plastik itu di tempat duduknya. Hingga sebuah benda yang terlipat rapi keluar dari dalamnya.
"Nih, pakai! Jangan sampai kedinginan." Katanya sambil menyerahkan jaket parasut berwarna hitam untuk Elshe.
Elshe menggunakan jaket itu dengan cepat. "Nah gini dong. Dari tadi kek."
"Makanya lain kali pake baju yang sesuai kondisi."
"Iya iya."
Robin duduk setelah membuka satu kantung tersisa. Ia membagikan kopi hangat yang dibelinya kepada kami. Aku dan Julius segera berterimakasih. Namun tidak dengan Elshe.
"Cie perhatian banget bapak tumben." Goda Elshe. "Gratis gak nih? Atau jangan-jangan,"
"Apaan coba?"
"Mau ngutang kan?"
"Bacot banget, kalau gak mau balikin."
"Gak kok. Mau banget, tenang aja."
"Bilang apa kalau dikasih sesuatu?"
"Makasih." Elshe mendekatkan wajahnya ke telinga Robin. "Makasih Robinhood!"
Tempat duduk yang tersedia sudah mulai terisi penuh dengan manusia. Tampaknya tidak hanya berasal dari pendukung para peserta, tetapi juga penggemar olahraga ini. Mungkin karena akhir pekan, jadi penontonnya cukup banyak. Terlihat juga beberapa anak muda yang bisa kutebak adalah mahasiswa di sini.
"Jenar nomor urut berapa?" tanya Julius.
Aku memutar bola mata ke kiri untuk mengingat sesuatu. "Hmm berapa ya?"
"Tujuh." Jawab Elshe tepat setelah otakku mulai menemukan petunjuk.
Kemudian Julius mengangguk.
"Rean gak ikut?" tanya Robin.
Julius menggeleng. "Lagi pengen istirahat katanya."
"Istirahat kenapa?" Elshe mengunyah camilan sambil menyedot kopi hangatnya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Within
Roman pour AdolescentsNamanya Scarlett. Dia bukanlah gadis yang akan muncul pertama kali di ingatanmu ketika kau mengenang masa lalu. Bukan yang jadi primadona. Tidak juga tipe yang bikin kamu kesal mengingatnya. Scarlett pendiam, tak memberi kesan apapun sehingga ia ham...
