Julius menungguku berenang sambil memainkan gitarnya di bangku tepi kolam.
"Lagu baru lagi, bro?" Tanyaku dari kolam setelah mendengar lantunan melodi yang terasa asing.
Alunan nada yang dimainkan berbeda dengan gaya Julius dalam menyusun lagunya. Yang ini belum pernah kudengar. Entah kenapa terasa lebih lembut, tenang, dan sedih. Lebih banyak perasaan yang terlibat di dalamnya dan aku suka itu.
"Nggak, ini punyanya Scarlet. Such a good song right?"
Aku mengerutkan alis, lagunya Scarlet? Hingga teringat kalau keduanya berada di ekstrakurikuler yang sama.
"Boleh juga lagunya."
"Gue ngajak Scarlet kolab buat festival musik hari jadi kota. Pakek lagunya dia, soalnya pas ditawarin sama Bu Desti dianya gak mau. Katanya belum siap nyanyi di depan umum, waktu gue tanya."
"Oh, terus dia mau gitu sama lo?"
"Mau akhirnya, toh barengan lebih enak daripada sendiri. Ini lagunya lagi gue aransemen. Bagusan yang pertama apa kedua?"
Aku kembali menenggelamkan kepala ke dalam air untuk beberapa saat lalu kembali berenang ke atas untuk mengambil napas. "Tau ah gak fokus tadi gue, coba lagi. Emang semua anak musik harus nulis lagu?"
"Lebih ke preferensi masing-masing. Kalau lo suka, kenapa enggak nulis. Lagian yang suka nulis lagu cuma gue sama Scarlet."
Aku mengangguk dengan fasih mendengar penjelasannya. "Kirain wajib."
"Ngomong-ngomong tadi ngapain lo cari Scarlet?" Tanyanya.
"Gue tembak. Menyatakan cinta dan perasaan yang terpendam."
"Anjir."
"Gak percaya banget."
Julius kembali memainkan lagunya, tidak lagu Scarlet. "Halu lo."
Aku kembali berenang, kali ini tanpa jeda untuk sekedar berbincang dengan Julius. Lagipula lelaki itu masih sibuk memainkan gitarnya. Salah satu alasan yang membuat Julius mau mengantarkan berenang pada waktu-waktu seperti ini adalah ketenangan yang sangat mungkin kami dapatkan. Untuk memainkan musik, Julius butuh ketenangan.
Lelaki itu sangat mencintai musik, di sekolah ia mengikuti ekstrakurikuler musik. Lalu bekerja sebagai penyanyi di salah satu kafe sepulang sekolah, selain untuk menambah pengalaman juga menambah pemasukan. Setelah kembali dari menyanyi ia akan belajar di rumah dan ketika pukul sebelas tiba ia akan pergi keluar denganku. Di waktu inilah Julius biasa membuat lagu. Aku selalu menjadi pendengar pertamanya. Julius selalu menjaga mimpinya untuk menjadi seorang musisi yang melegenda dengan karya-karya penuh makna. Jadi jangan heran kalau lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas. Ia hanya tidur beberapa jam dalam sehari, sama denganku. Tapi anehnya aku tidak punya lingkaran hitam itu, lucunya kadang aku ingin memilikinya.
"Gimana jadinya piala presiden?"
Tanya Julius padaku ketika aku berjalan mengambil handuk di sampingnya. Dia adalah orang yang selalu meyakinkanku pada mimpiku. Dan orang pertama yang mengingatkanku apabila aku menyimpang dari tujuanku dikala patah arah melandaku.
"Belum tau Pak Han mau milih siapa. Menurut lo siapa?"
"Ada dua opsi nih. Mau opsi pertama atau kedua dulu."
"Pertama."
"Kayaknya dia bakal milih lo, karena dia cuma ngasih kunci cadangan tempat ini ke lo. Artinya dia percaya sama lo dan selama ini lo kan anak emasnya. Opsi B dia milih si cunguk soalnya tuh anak punya relasi, pengalaman dan dana yang banyak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Within
Teen FictionNamanya Scarlett. Dia bukanlah gadis yang akan muncul pertama kali di ingatanmu ketika kau mengenang masa lalu. Bukan yang jadi primadona. Tidak juga tipe yang bikin kamu kesal mengingatnya. Scarlett pendiam, tak memberi kesan apapun sehingga ia ham...
