31• Di balik matanya

196 25 4
                                        

"Ternyata benar, orang kalau sudah melakukan hal yang mereka suka bisa sangat berbeda. Bersinar dan memesona." kata Rean sembari bertepuk tangan dan berjalan ke arahku.

"Oh ya?" tanyaku retoris, sembari mengusap senyum dan keringat di dahi dengan punggung tangan. Tidak tahu kenapa, hanya rasanya senang. Seakan jiwaku sudah kenyang mendapatkan kepuasan dengan sedikit permainan piano melelahkan dan pujian dari orang yang memang kuharapkan.

Rean mengangguk. "Enerjik sekaligus anggun. Menggebu tapi tenang," kemudian ia mengulum senyum. "Aduh, ngomong apa sih gue. Haha, tapi serius itu tadi keren banget. Jadi heran sama Pak Walikota, bisa-bisanya enggak kasih izin ke putrinya yang terlampau bertalenta ini."

Aku tertawa, "berlebihan kamu, Re. Aku cuma remahan kentang dibanding pianis-pianis lain. Lagian ayah selama ini bilang kalau menggeluti musik enggak bakalan cukup buat bertahan hidup di dunia yang kejam dan mahal. Apalagi musik klasik begini, bukan selera mayoritas lagi. Terus, biayanya juga enggak murah. Buat les, beli piano, belum yang lain-lain. Ditambah lagi aku juga gak sehebat itu."

Ia termangu sejenak. "Gue pernah dengar orang bilang kalau kesempatan itu sebanyak udara yang kita hirup sepanjangan hidup. Kamu masih punya banyak waktu buat mewujudkan mimpi-mimpimu. Semuanya mungkin, Scarlet. Toh yang kamu lakukan itu hal positif. Just live a life you will remember."

"Orang dewasa emang terlalu realistis, maunya di zona aman. Padahal tantangan itu perlu." ujarnya lagi. "Maunya di mana sih?"

"Illinois."

"Bisa lah."

Aku terhenyak. Rean satu-satunya orang yang tidak tersenyum miring atau menertawakanku. "Masa?"

"Kok nanya sih?"

"Lha gimana dong. Kamu kelihatannya yakin banget."

"Haha... buat meyakinkan kamu,"

Sesuatu menjalar dan menimbulkan degub juga rona merah muda. Hangat dan tidak kusangka penggunaan kata ganti yang biasanya lo-gue itu mendadak berubah menjadi kamu. Dan mampu membawa dampak yang besar pada aktivitas di dalam pemompa darahku.

"Kamu?" ulangku membeo.

"Iya kamu, Scarlet." ucapnya masih sambil tertawa, lalu mengacak rambutku. "Gemes banget sih."

Nah kan. Apa sih yang dia lakukan. Asal tahu saja, aku tidak bisa menahan ini lebih lagi. Ingin segera berlari keluar dan berteriak sekeras mungkin agar dunia tahu bagaimana rasanya hatiku. Tidak, aku tidak sedang jatuh cinta. Kalau sampai iya tidak tahu diri sekali aku.

"Oh ya. Gue dulu pegang keyboard waktu masih ngeband."

"Kapan sih kamu ngebandnya?"

"Waktu awal-awal masuk SMP, ikut ekskul band niatnya biar punya alasan buat nolak kakak kelas yang ngepromosiin organisasi semacam Pramuka, OSIS, PMR, gitu-gitu. Gue kan males banget orangnya, ya kali ikut begituan. Ternyata malah ketagihan band seru banget. Taunya gak boleh sama nyokap. Suruh fokusnya ke renang doang."

"Cerita kita mirip-mirip ya, soal musik dan aturan dari orang tua. Aku juga suka heran, ngejalanin passion itu sebenarnya enggak bakalan bikin kita lalai. Malah, bisa dapat energi lebih buat rutinitas. Ngomong-ngomong nama bandnya apa?"

"Squarelust. Soalnya ada empat orang yang punya gairah atau tujuan sendiri dalam bermusik tapi bisa bhinneka tunggal ika."

"Wow. Bagus loh namanya."

"Itu Julius sama Venus yang bikin."

"Venus?"

"Kamu kenal ya? Dari SMP yang sama kayak kamu."

WithinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang