Time flew and hurt,
just like the wind we refuse to heal.
[]
Mungkin ini adalah saat yang tepat untukku menginjakkan kaki di sini setelah beberapa bulan tak kunjung bertemu titik terang. Kuberanikan diriku memencet bel sembari menatap pintu jati cokelat besar yang menjadi bagian dari salah satu mahakarya Andreas Simanjuntak, arsitek kondang yang tewas di usia lima puluh lima, tepat empat tahun lalu. Entah dibuka atau tidak, aku akan tetap di sini. Aku hanya butuh rasa kelegaan dan bebas, karena afeksi rasanya terlalu muluk-muluk.
Hujan deras membuat seragamku basah kuyub dan kini pasti terlihat sangat buruk, seperti sampah. Tapi keberanian ini tidak datang berulang kali, jadi aku ingin menggunakannya sebaik mungkin. Sebelum waktuku habis dan anganku memudar. Karena kita tidak selamanya punya masa, 'kan?
Tak berapa lama, pintu itu terbuka, menampakkan sesosok wanita dengan rambut tergerai rapi dan beberapa keriput yang sudah mulai nampak di wajah putihnya. Matanya sendu, semakin miris dengan kantung hitam pekat di bawahnya. Tapi masih tampak cantik, dan langsung mengingatkanku pada seseorang yang sudah sangat jauh.
"Tante," sapaku parau dalam sepersekian detik kemudian.
Sorot matanya menajam saat menyadari akulah yang di depan pintunya. "Mau ngapain di sini?" telingaku tertusuk, suara yang biasanya menyapaku lembut. Kini terasa seperti tombak. "Pergi!"
"Saya minta maaf Tante kalau menurut Anda saya salah."
Tante Marisa hampir saja menutup pintu jika tidak kutahan. "Saya mau menjelaskan sesuatu, beri saya kesempatan. Saya mohon!"
"Gila kamu! Setelah apa yang kamu lakukan pada keluarga kami? Apa kamu masih punya otak? Paling tidak kamu harusnya merasa malu."
Aku masih menahan pintu itu agar tidak tertutup.
"Sudah lama sejak saya dan Venus berkomitmen untuk tidak pernah menjalin hubungan selain teman, Tante. Mungkin kami memang tidak pernah mendeklarasikannya, tapi saya yakin, Tante pasti tahu. Seberapa bermakna pertemanan ini bagi kami."
Mata wanita borjuis itu menyipit, "omong kosong kamu, Rean. Seperti kacang lupa kulit, kamu bahkan tidak datang ke pemakaman Venus,"
"Saya datang, Tante. Saya datang." cepat-cepat kusanggah opininya. "Leon mencegat saya lalu kami berakhir adu pukul."
"Itu wajar 'kan." ia tersenyum miring.
Ada beberapa sesak yang mengudara ketika melihatnya. Sejenak terlintas di benakku, apa mungkin hanya aku saja yang menganggap Venus teman. Tapi tidak, gadis itu terlampau cerdas untuk orang yang akan mengakhiri hidupnya karena cinta. Atau mungkin ada banyak luka yang menumpuk dalam riwayatnya yang bahkan tidak ia biarkan seorang pun menyentuhnya.
"Dua hari sebelum kejadian itu, saya memang bertemu dengan Venus."
Tante Marisa nampak berusaha mengelak. Air mata mulai menggenang di sudut matanya."Apa belum cukup bagi kamu memberi duka pada kami? Sekarang kamu mengingatkan saya pada Venus lagi?"
Tapi aku memang harus mengatakan yang sebenarnya.
"Hari itu, Venus bilang dia takut sambil memeluk saya. Pelukan yang tidak saya sangka bakal jadi yang terakhir. Venus menangis di benteng itu, Tante dan yang lebih menyedihkan lagi saya tidak tahu sebabnya apalagi dia tidak mau bilang. Mungkin Tante tidak akan percaya pada apa yang saya katakan. Tapi saya masih sempat mengabadikan rekam jejak kami sebelum ponsel saya terjual." kutunjukkan hasil tangkapan layar chat kami hari itu padanya. Yang tak kusangka akan ia baca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Within
Teen FictionNamanya Scarlett. Dia bukanlah gadis yang akan muncul pertama kali di ingatanmu ketika kau mengenang masa lalu. Bukan yang jadi primadona. Tidak juga tipe yang bikin kamu kesal mengingatnya. Scarlett pendiam, tak memberi kesan apapun sehingga ia ham...
