"Ingatlah Nathan kau itu seorang kaisar, dan setelah itu kita ada rapat untuk mendiskusikan mengenai rencanamu untuk memindahkan para penduduk Zuna bukan? Jadi laksanakanlah tugasmu sebelum kau bisa bersantai" ujar Natsuki dan Nathan hanya mendengus kesal berjalan menuju ruang kerjanya disusul oleh Natsuki.
****
Kini Hanabi sedang memasukkan barang-barang kedalam tasnya, beberapa barang dimasukkan seperti bekal, beberapa alat kesehatan dan ramuan, melihat itu Zarrah dan Zian merasa bahwa keputusan Hanabi terlalu terburu-buru.
"Putri Hanabi, apa anda serius ingin mengunjungi perkampungan kami? Anda tak perlu melakukannya putri" ujar Zarrah, dengan posisi Hanabi saat ini tak sepantasnya ia mengunjungi perkampungan yang bahkan dibenci orang lain.
"Aku serius Zarrah, sudah berapa kali kukatakan padamu, lagian aku sangat ingin bertemu dengan orang sebangsaku, apa barang-barangmu sudah siap?" Ujar Hanabi, mendengar alasan Hanabi, Zarrah hanya bisa menghela nafas.
"Sudah tuan putri, kami sudah siap melakukan perjalanan" ujar Zarrah.
"Baiklah kalian tunggu disini aku akan segera kembali" ujar Hanabi berjalan kearah kamar mandi, melihat tingkah Hanabi membuat Zarrah dan Zian saling menatap.
"Zarrah apa tak apa-apa jika kita membawa permaisuri ke kampung kita? Bukannya peraturan istana melarang anggota istana untuk mengunjungi perkampungan manusia?" Ujar Zian merasa ragu dengan keputusan Hanabi.
"Entahlah kak, aku juga sepemikiran denganmu, aku merasa membawa permaisuri ke perkampungan akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa permaisuri" ujar Zarrah merasa khawatir, namun ia tak bisa berbuat apa-apa dikarenakan ini keputusan Hanabi sendiri.
"Kau benar, semoga saja kita bisa kembali ke istana dengan selamat" ujar Zian penuh harap.
Disisi lain Nathan terlihat sedang melakukan rapat dengan para menteri ditemani Natsuki.
"Tuan Konsol bagaimana persiapan untuk meratakan perkampungan Zuna?" Ujar Nathan memulai pertemuan.
"Persiapan 100% yang mulia, saat ini pasukan yang di tugaskan bersiap menuju perkampungan Zuna" ujar Tuan Konsol dengan penuh hormat nya.
"Bagus, ada laporan lain?" Ujar Nathan menatap dingin kearah para menterinya.
"Yang mulia, untuk melakukan pemerataan kita dihadang sedikit masalah, para penduduk Zuna menentang pemerataan itu yang mulia, mereka bersikeras untuk mempertahankan tempat tinggal mereka" ujar salah satu menteri.
"Yang mulia jika saya boleh memberi saran, lebih baik kita harus menunda pemerataan itu sampai para penduduk menerimanya" ujar Natsuki, terlihat raut datar Nathan yang menatap tajam kearah para menteri dan juga Natsuki.
"Saranmu kutolak ksatria Natsuki, pemerataan ini harus terus dilanjutkan, para prajurit membutuhkan kawasan latihan yang layak agar mereka bisa meningkatkan kemampuan bertarung mereka untuk melindungi kekaisaran Fantasia" ujar Nathan menatap tajam kearah Natsuki.
"Apapun caranya kita harus merebut kembali tanah itu, para manusia itu tak pantas menempati tanah itu, jika perlu kalian diperbolehkan membantai para penduduk, pertemuan selesai" ujar Nathan dengan nada tegas dan tatapan tajam membuat para menteri bergidik ngeri.
Mendengar itu Natsuki hanya menghela nafas, entah mengapa ketika mendengar keputusan Nathan perasaannya sangat tidak enak, ia merasa sesuatu buruk akan terjadi.
****
Di kamar Hanabi terlihat Zarrah dan Zian yang terpaku menatap kearah Hanabi.
Bagaimana tidak kini penampilan Hanabi sangat berbeda, rambut pirangnya berubah warna menjadi biru laut dan maniknya berwarna hijau lumut, gaun sederhana layaknya seorang pelayan melekat indah di tubuh Hanabi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stand By Me
FantasySERI KEEMPAT GODDESS SERIES "Kejahatan dan kegelapan belum menerima kekalahan, kegelapan akan terus berjuang untuk mencapai tujuannya, jiwa yang terbuang akan mendukung kegelapan untuk mencapai tujuannya, maka tugas sang bunga matahari yang akan men...
