Bab 13

3.9K 244 4
                                    

AUTHOR POV

"Sehun ajak Lisa jalan jalan dulu sebelum pulang"ujar Lidia mamah Sehun, Sehun yang awalnya fokus dengan ponselnya seketika menatap ke mamahnya. Sehun menautkan alisnya dan menggeleng kuat "Sehun capek"ujar Sehun.

"Oke oke kamu cukup antar Lisa pulang aja, nenek, kakek, dan kakaknya akan supir papah antar"ucap Lidia.

Sehun hanya berdehem dan mengecup punggung tangan mamah, papah, nenek, dan kakek. Sehun memberi kode ke Lisa dengan cara mengedipkan satu matanya yang membuat Lisa deg degan sendiri.

Sehun berjalan dan di ikuti oleh Lisa, Sehun sempat berhenti berjalan dan membuat Lisa menabrak punggung Sehun. Lisa mendengus malas dan mencebik kesal.

"Ishh kalo berhenti tuh bilang bilang kek😣"ujar Lisa sembari memanyunkan bibirnya. Sehun menatap Lisa dengan tatapan datarnya, 'mulai sifatnya'batin Lisa.

Sehun berjalan mendekati Lisa dan menangkup kedua pipi Lisa "apa?"jawab Lisa jutek, Sehun hanya menggeleng dan tersenyum 'emang aneh nih anak, kadang sifatnya dingin kadang juga care' batin Lisa.

"Ngelamun mulu lo!"pekik Sehun di depan wajah Lisa, Lisa terlonjak kaget dan memukul pelan dada bidang Sehun. Sehun hanya terkikik geli, "Ngagetin tau!"pekik Lisa, Sehun tersenyum ke arah Lisa yang sedang menggerutu tak jelas.

"Lagian lo sih ngelamun mulu"ujar Sehun sembari terkekeh. Lisa menatap tajam Sehun seolah ingin merobek robek kulit Sehun. Sehun menarik tangan Lisa menuju ke mobil, Sehun membukakan pintu samping pengemudi.

LISA POV

Sehun sekarang jadi romantis banget, gue sampai bingung sama sikap Sehun yang berganti ganti seolah olah dia mempunyai berkepribadian ganda.

Waktu pertama kali bertemu Sehun dia orangnya cuek, dingin, jutek, tapi setelah bertemu. waktunya cuek bebek setelah itu dia mulai terbiasa dengan kehadiran gue.

"Kan doyan banget ngelamun"ujar Sehun sembari mengemudikan mobilnya, gue menoleh dan terkekeh.

"Makan dulu ya"mohon gue, Sehun hanya mengangguk tanpa menatap ke arah gue, dia terlalu fokus dengan jalanan.

"Em kalo boleh tau mantan lo namanya siapa?"tanya gue takut takut, gue sebernya mau ngomong ini dari beberapa hari yang lalu tapi gak ada waktu yang tepat, dan sekarang ini waktu yang tepat.

"Lo gak perlu tau"ujar Sehun jutek, dia sempat melirik ke gue sekilas. Gue mendengus malas, gue menyesal karena menanyakan hal itu kepada dia, tapi gue penasaran akan nama mantan dia.

Gue senderan sambil menatap kosong jalanan yang sedang ramai, gue sempat berfikir, Sehun suka gak sama gue?setelah menikah dengannya apa dia tetap cuek atau berbeda?setelah menikah apa hubungan kita berjalan lebih lama atau sebaliknya?

Saat gue sedang melamun memikirkan nasib gue dengan Sehun saat sudah menikah, tiba tiba ada seseorang yang menepuk pelan pipi gue, gue seketika terkejut.

"Aihh bisa gak sih gak usah ngagetin"ujar gue sembari mengatur jantung gue, yang bersangkutan hanya menahan ketawa, gue mendengus malas.

"Habisnya lo ngelamun lagi, lo kenapa sih?ada masalah?"tanya Sehun, gue menggeleng keras dan kembali menatap kaca jendela.

"Ada yang mengganjal di hati lo?"tanya Sehun sekali lagi, gue kembali menggeleng tanpa menatap wajah Sehun.

Sehun menghela nafas kasar dan keluar dari mobil, dia membukakan gue pintu.

"Ayo keluar, jangan sibuk dengan fikiran lo"ujar dia cuek, gue keluar dan tersenyum manis ke arahnya, yang di senyumin hanya memasang muka datarnya.

Sifatnya berubah lagi kan~batin gue

"Makasih"ucap gue tulus, dia hanya mengangguk dan sesekali mengacak rambut gue, gue memutar bola mata dengan malasnya.

Dia mulai memasuki mobilnya dan membuka sedikit kacanya, "masuk gih"ujarnya, gue hanya ngangguk.

"Hati hati jangan ngebut"ucap gue sembari melangkah memasuki rumah.

SEHUN POV

Gue tersenyum tipis, jantung gue berdetak 2× lebih cepat dari biasanya, apa mungkin gue sakit jantung ya?

Gue menggeleng kuat dan mulai menjalankan mobil, gue sesekali memikirkan Lisa entah kenapa dia selalu berada di dalam fikiran gue, gak mungkinkan kalo gue jatuh cinta.

Gue menghela nafas, gue gak mau jatuh cinta lagi, gue takut tersakiti yang ke2 kalinya, cukup waktu dulu. Gue gak mau menderita seperti dulu, gue hanya mau kehidupan gue tenang.

Gue merasa semua wanita sama saja dengan mantan gue, gue takut masuk ke dalam kehidupan wanita yang salah. Gue takut perasaan gue dimainkan, gue selalu berdoa kepada tuhan agar memberi jodoh dengan orang yang tepat.

Gue selalu memohon agar di jauhkan oleh wanita wanita bar bar, termasuk Lisa. Wait, Lisa?wanita bar bar?rasanya tidak mungkin.

Lisa adalah Lisa, gue hanya merasa kalo Lisa beda dari wanita yang lain, dia memang berusaha mencari perhatian gue, tapi tidak dengan cara yang dilakukan wanita lainnya.

Dia mencari perhatian gue dengan caranya sendiri, dia bahkan sangat kawatir saat muka gue pucat, biasanya kalo gue bertemu dengan seseorang pasti dia memanfaatkan keadaan gue yang lemah.

Tubuh gue gampang sekali terkena demam, maka dari itu gue sering kali terlihat pucat. Gue selalu di beri vitamin oleh dokter yang sudah di percaya oleh keluarga gue.

Huft gue hanya meminta wanita yang setia, tulus mencintai gue tanpa melihat kelebihan gue dan menerima kekurangan gue.

Bentar bentar, sepertinya ada yang mengganjal di fikiran gue, tadi sebelum sampai ke rumah Lisa bilang "makan dulu ya"astaga sampai lupa gue kalo dia mau makan tapi dengan bodohnya, gue nganterin dia pulang. Dia pasti kelaparan, papah tadi sempat berbisik ke gue kalo nenek, kakek dan kakaknya akan pulang nanti tengah malam.

Masa gue harus balik lagi ke arah rumah Lisa, apa gue pesenin pizza aja ya, tapi dia suka rasa apa?aishh bingung sendiri gue.

Gue pesenin aja lah, dari pada dia kelaparan.

BERSAMBUNG

JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN FOLLOW

Forced Marriage ( Hunlis )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang