Lima belas

34 8 0
                                    

"Tok, tok, tok"
Key sedikit terkejut lalu buru buru membuka pintu.Nala datang dengan secangkir teh,wanita itu menatapnya hangat.
"Mau minum disini atau di luar"
"Di luar aja Tan"
Nala mengangguk,lalu Key pun mengekori Tante Nala keluar kamar,Nala pun meminta Key untuk duduk pada salah satu meja cafe.
"Silahkan"Nala menyodorkan cangkir itu pada Key.
"Terima kasih Tante"
Key menyesap tehnya, rasa hangat mengalir di dalam tubuhnya. Tiba tiba Bintang keluar dengan tangan yang sibuk mengacak acak rambutnya.

"Bin, temeni Key dong!Mama mau ke dapur"pinta Nala.
"Ngapain di tenin Ma, dia udah besar"
Key bersungut sungut kenapa dia tiba tiba kembali jadi menyebalkan?
"Ya ampun, Bintang! "
Nala berkacak pinggang melihat putra tunggalnya yang berjalan ke meja barista.Bintang acuh tak acuh sambil melirik mamanya.
"Gak apa apa kok Tan"
Key menengahi.
Nala yersenyum tipis lalu mengelus pundak Key lembut.
"Ya sudah, Tante ke dapur dulu ya"

Key mengangguk, lalu kembali mengeringkan rambutnya dengan handuk. Sementara Bintang mulai sibuk meracik kopi, harum kopi menarik perhatian Key, gadis itu pun mendekat masih dengan handuk di kepalanya.

"Lo barista disini ya? "
Key menarik salah satu kursi di depan meja barista, matanya menatap tubuh Bintang yang membelakanginya.
"Em, kadang kadang.. "
Key manggut manggut lalu kembali memperhatikan tangan Bintang yang gesit meracik kopi.
"Lo mau? "tiba tiba Bintang menyodorkan secangkir kopi ke hadapan Key.
"Wah!"mata gadis itu membulat takjub saat melihat kopi dengan gambar hewan imut di atasnya.
"Hebat! "puji Key sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Jadi gak tega"Key mengangkat cangkir itu untuk melihatnya lebih jelas.
"Ini kopi apa? "Tanya Key yang akhirnya menyesap kopi di tangannya.
"Sejenis espresso"Bintang menarik kursi di seberang meja, kini mereka duduk saling berhadapan.
"Lo tau banget soal kopi, pecinta kopi? "
Key meletakkan kembali cangkirnya di atas meja.
Bintang menggeleng.
"Gue cuma suka beberapa jenis kopi. Bokap gue yang mengenalkan semua kopi itu ke gue"
Jelasnya,kali ini wajahnya jadi sedikit murung.
"Kenapa? "
Key bertanya lirih, sadar akan air wajah Bintang yang berubah.

"Gue gak bisa lagi dengar ocehan bokap soal kopi yang gak ada habis habisnya"cowok itu lalu terkekeh miris.
"Ma, maksud lo? "
"Gue kehilangan ayah gue sejak setahun lalu,bokap gue kena serangam jantung"
Key tersentak, "Sori Bin"
Bintang kembali menggeleng,
"Lo gak perlu minta maaf, ini bukan salah lo"
Wajah Bintang kembali seperti semula. Key kembali meminum kopinya, tiba tiba suasana menjadi sangat canggung.

"Ra.. "panggil Bintang lirih
"Key! "Key reflek menyela, membuat Bintang terdiam.
"So, sori.. maksud gue, nama gue Key-"
"Ra! "
Lanjut Bintang lalu tertawa.
Key cemberut. Bintang seolah bercanda dengan namanya.
"Sori, sori. Oke, lo gak suka dipanggil Ra? "
Key melirik Bintang sekilas.
"Bu, bukan gak suka.Elo kenapa juga gak manggil gue Key kayak yang
lain? "
Bintang mengetuk ngetuk meja,seolah berpikir.
"Kenapa ya? Suka aja"
Jawabnya enteng, membuat Key semakin cemberut.
Bintang sontak tergelak,
"Jangan bercanda"
Ketus Key,Bintang reflek mengelus kepala Key yang berbalut handuk.
"Maaf deh, jangan ngambek dong"
Key terpaku saat tangan Bintang menyentuh pucuk kepalanya.
Apa apan cowok ini?

"Ih,tangan lo berat! "
Key menepis tangan Bintang dari kepalanya,ia rasa dia juga harus menepis semu merah dari pipnya.
Celaka!

Bintang kembali tergelak lalu menyeruput kopinya. Matanya melirik Key yang masih bersungut sungut, gadis yang tenggelam di dalam bajungta itu tampak seperti bocah dengan rambut basah yang tertutup handuk.
"Gue gak pernah lihat lo ngegerai rambut lo"celetuk Bintang sambil menunjuk rambuy coklat Key yang tergerai menutupi pundak.

Key tergagap dan langsung reflek menerik kedua ujung handuk sehingga membungkus kepalanya sperti kerudung.
"Gue gak suka rambut gue di gerai, gerah! "
Bintang tertawa, Entah sudah berapa kali Key melihat gingsul di sela senyum dan tawanya hari ini.
"Padahal cantik"celetuknya jahil.
Blushh..
Muka Key sontak bersemu dan lagi membuat Bintang tertawa.
"Rese"ketusnya lalu kembali menyeruput kopinya.
Key mentap meja barista itu.Penataannya rapi dan Key sangat tertarik. Gadis itu bukanlah pecinta kopi tapi dia menyuakai bau kopi.

"Bin, enak gak jadi Barista? "
Kepala Bintang beralih dari kopinya.
"Em, seru sih tapi gue kadamg males"
"Loh, kenapa? "
Bintang mendecakkan lidahnya.
"Gara gara ini"
Cowok itu menunjukkan gingsulnya dengan lidah.
"Hah, gigi lo? "
Kepala cowok itu mengangguk.
"Kata orang gigi ini jadi nilai plus untuk gue"
Key menatap Bintang dengan alis bertaut,heran.
"Pede lo akut parah"
"Bukan kata gue,kata orang! "
Sahut Bintang sambil menoyor kepala Key pelan namun tetap bisa membuat gadis itu meringis kesal.
"Maksud lo gimana sih? "
"Gue sering di godain mbak mbak centil dan itu bikin gue mual"
Key reflek terbahak, pasalnya Bintang mencontohkan wajahnya yang ingin muntah.
"Kalo gitu,untuk gue aja"celetuk Key.
Bintang tersentak,
"Apanya?gingsul gue? "
"Bintang, gingsul itu barang langka"ucap Key di sela tawanya.
"Jadi, lo suka? "
"Ih, kalo punya elo mah gue ogah! "
Jawab gadis itu cepat lalu meleletkan lidahnya.
"Dasar, rese"Bintang kembali menoyor kepala Key pelan,tapi kali ini cowok itu tertawa.
Key walau mendengus tapi ia pun tertular tawa cowok bergingsul di hadapannya.
*
*
*
Vera mengehentak hentakkan kakinya kesal. Dia tidak suka meliahtt Bintang yang tertawa dan tersenyum pada gadis itu. Terlebih lagi itu adalah duduk dengan tawa terbanyak untuk Bintang dengan wanita selain mamanya.

Vera cemberut. Tiba tiba dia jadi ciriga. apa benar mereka cuma sebatas teman?

Perasaan Vera berkecamuk, kalau mereka ternyata berpacaran bagaimana?
Vera menggigit bibir bawahnya cemas, itu adalah mimpi buruk,dan ia harap mimpi itu tidak menjadi nyata.
*
*
*
Fiya melirik jam di dinding,18:15.
Ya Tuhan, kemana Key?
Kenapa dia belum pulang?
Fiya terus menerus memandang ponselnya.
Sudah 10 kali ia mencoba menghubungi putrinya,namun tidak satu pun yang aktif. Tidak biasanya Key seperti ini, gadis itu selalu pulang sebelum gelap seperti janjinya sebelum pergi.
Fiya mengehela nafasnya berat. Chandra belum pulang sedangkan Raka pergi menginap di rumah temannya. Fiya mengusap punggung tangannya, cemas.
"Key.. "
*
*
*


Key dan RaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang