I'm in love with the shape of you
We push and pull like a magnet do
.
Although my heart is falling too
.
And now my bedsheets smell like you—Ed Sheeran, shape of you.
.
🏝
Eren dan Mikasa membuat janji, selepas sarapan tadi pagi mereka sepakat untuk bertemu di lobby. Saat jarum jam nyaris menyentuh sembilan, Eren sudah lebih dulu berada di depan gedung.
Nampak taman dihias rapi, ditumbuhi pohon dan bunga khas iklim tropis. Seperti bunga kamboja berwarna pink, dan kuning bersemu putih. Beberapa orang juga nampak berlalu lalang.
Eren, berdiri di sana salah satunya, kemeja floral yang dia kenakan agak mencolok, tapi tak mengurangi kadar dandy yang dia miliki.
Justru dia terlihat santai, sambil memasukan kedua tangan ke dalam saku. Satu dua; hawa melirik penuh pesona. Kebanyakan dari mereka juga wisatawan asing. Terlihat dari fisik mereka yang berbeda. Namun Eren tak menggubris, dia sudah biasa ditatap begitu. Dalam hati dia tertawa, menyombongkan diri.
Sesekali Eren melongok jam tangan, menunggu sesosok wanita yang dia tak tahu siapa namanya. Aneh, sudah beberapa kali mereka bertemu, tapi lupa untuk saling memperkenalkan diri.
Tak sampai dua menit Eren bergumam, muncul seorang wanita dari balik pintu kaca otomatis. Saat keluar, angin menerpa Mikasa. Membuat auranya menyebar ke segala arah. Termasuk atensi Eren.
Mikasa berbalut tanktop hitam, yang di masukan ke dalam ripped jeans pendek. Ditambah long outer ber-pattern absrak, berwarna monochrome. Lengkap dengan sandal gladiator tipis berwarna sama. Rambut Mikasa sengaja diikat, lalu diberi bando ala gadis boho Amerika.
Sekelibat, angin menyibakan outer tipis yang Mikasa kenakan. Mengekspos bahu dan tulang selangka. Seperti ada efek slowmotion saat Eren melihatnya. Mikasa begitu menarik, bau harum segar dari tubuh Mikasa membelai hidung Eren. Aroma bliss, rose, dan rasberry bercampur. Eren betah mencium aroma itu, dan memandang Mikasa lama-lama.
Tanpa sadar, dia terpesona. Bulu mata Eren tak mengepak, seakan enggan berkedip. Mikasa jauh lebih terlihat cantik, dibanding pagi tadi, saat di ruang breakfast.
Eren takjub, sambil bertanya dalam hati.
Apa aku salah melihat?
Lantas kepalanya menggeleng, menajamkan kesadaran. Akalnya sehat, apa lagi mabuk. Pasti wanita itu orang yang sama, orang yang sedang dia tunggu-tunggu.
"Tenang saja aku berusaha untuk ontime," sergah Mikasa, semakin membuyarkan pikiran Eren yang nyaris meliar. Dia berjalan mendekat, langkah demi langkah. Eren menegak saliva, gesturnya tiba-tiba gelagapan. Seperti terciduk, karna habis melakukan tingkah konyol.
"Ah, oh, em—," Eren gelagapan, menggaruk-garuk tengkuk.
Hei dude. Kau seorang dokter profesional. Bukan bocah. Kenapa jadi gugup begini?
Eren meruntuk. Berusaha mengatur ritme jantung yang berdegup, sambil menata raut wajah. "Bagus kalau begitu. Saya tidak suka orang yang tidak tepat waktu." Eren membuang matanya. Semakin sial, pandangan Eren malah jatuh kepada organ tubuh Mikasa yang bulat menonjol. Buah dada Mikasa besar, akibat outer yang disingkap angin nakal barusan.
Oh, apa yang terjadi denganku. Padahal sudah ribuan kali aku melihat wanita telanjang, di atas meja operasi. Tapi kali ini kenapa ... Aku ...
Eren mengusap wajahnya. Diam-diam dia merasa panas, leluk tubuh Mikasa indah, menggoda.
Ah, terserah ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Beastly Affection
Fiksi PenggemarMIKASA. Wanita itu memilih Maldives untuk menghabiskan liburan musim panas. Tapi bukannya ia merasa gembira, kedatangannya malah membawa nasib sial. "Cleopatra dan Mark Antony saja saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Malah, saking dalamnya ci...
